
Selamat membaca jangan lupa like dan vote autor yah..
***
"Erika.."
Erika yang merasa ada yang memanggil namanya menoleh dan sedetik kemudian tersenyum setelah tahu siapa yang memanggilnya tadi.
"Nina, lo darimana" tanya Erika menyapa Nina dan menarik tangannya untuk duduk disampingnya. Nina tidak menjawab pertanyaan Erika, dia hanya membalasnya dengan tersenyum dan hanya bisa menurut ketika tangannya ditarik Erika.
Nina kaget sekaligus senang ketika ternyata cowok yang sedang duduk bersama Erika tadi adalah Alex orang yang disukainya. Tadi Nina hanya melihat Erika sedang duduk berhadapan dengan seorang cowok tapi Nina tidak bisa melihat wajah cowok tersebut karena cowok tersebut menghadap Erika jadi Nina hanya bisa melihat punggungnya saja dari belakang.
"Hay Alex.. " tanya Nina canggung ketika berhadapan langsung dengan Alex padahal waktu pertama bertemu Nina tidak secanggung ini. Erika yang melihat Nina salah tingkah hanya bisa tersenyum simpul.
"Hay juga Nina.. lama gak lihat lo" ungkap Alex basa-basi. Sebenarnya Alex merasa sebal karena kehadiran Nina yang tiba-tiba jadi Alex tidak bisa mengungkapkan perasaannya pada Erika saat ini. Alex membuang nafasnya kasar dan menenangkan dirinya untuk bersabar.
Kenapa Nina datang disaat seperti ini si. Hufft .. gagal deh gue nembak si doi. Sabar Alex masih banyak waktu. Batinnya
"Iya gue sedikit ada urusan akhir-akhir ini, jadi jarang terlihat dikampus" Nina tersenyum manis menjawab pertanyaan Alex. Hatinya berbunga mendengar pertanyaan Alex yang menurutnya Alex ingin bertemu dengannya.
"Lo ini yah giliran Alex yang nanya aja langaung dijawab, giliran gue aja dicuekin yang sahabat lo ini gue atau Alex si" tanya Erika sambil mengerucutkan bibirnya lucu. Nina yang melihat sahabatnya merajuk hanya bisa tertawa sambil meminta maaf.
"Sorry, Erika sayang jangan ngambek gitu donk nanti gue iket nih bibir lo yang udah mirip kayak bibir Tukul Arwana" Erika yang mendengar itu langsung saja mencubit Nina pada lengannya. Nina mengaduh kesakitan supaya Erika tidak dalam mode ngambek lagi.
__ADS_1
Alex yang melihat tingkah laku dua sahabat ini hanya bisa tersenyum dan tidak lama kemudian Alex pamit untuk pamit duluan. Sekarang tinggal Erika dan Nina yang masih duduk dibangku taman tersebut.
"Erika gue lupa mau nanya ini sama lo tapi lo janji harus jawab dengan jujur yah" Erika yang mendengar pertanyaan Nina hanga menunjukkan wajah herannya.
"Alex udah punya pacar belum si, secara Alex itukan ganteng, putih, tinggi, hidung mancung, baik, supel kayaknya gak mungkin kan kalau Alex belum punya pacar" tanya Nina panjang kali lebar membuat Erika geleng-geleng kepala melihat ada kecemasab dari sorot mata sahabatnya ini.
"Gue gak tahu pastinya soalnya gue juga gak pernah nanya secara langsung sama Alex, tapi setahu gue doi belum punya cewek deh. Kenapa lo gak coba tanya sendiri atau cari tahu mungkin?" Erika memberi saran pada Nina untuk mencari tahu dulu.
Nina yang mendengar jawaban dan saran Erika senyum kegirangan. Nina percaya kalau Alex belum memiliki pacar itu artinya Nina punya kesempatan untuk mendekati Alex. Terlebih Nina tidak mau dicap sebagai perebut pacar orang lain. Nina lebih suka sama orang yang berstatus single.
"Gue yakin doi belum punya cewek nyatanya kita gak pernah lihat doi jalan sama cewek kecuali kitakan?" ujar Nina menggebu-gebu. Ada perasaan senang dan lega dalam dirinya ketika dia tahu Alex tidak dekat dengan cewek lain kecuali sahabatnya yaitu Erika.
"Dasar lo, sok tau" Erika mencibir sahabatnya yang tingkat kepedeannya melambung tinggi.
"Biarin yang penting Alex akan jadi milik gue" sambung Nina dengan wajah cerianya.
"Au.. sakit tahu" Nina memegangi hidungnya yang sedikit merasa sakit namun kemudian memeluk Erika dengan erat. Erika membalas pelukan Nina tak kalah eratnya.
"Terima kasih karena lo udah mau jadi sahabat baik gue" ucap Nina pelan yang masih bisa didengar oleh Erika.
"Sama-sama, gue sayang sama lo, gue udah anggap lo saudara gue sendiri" Setelah melepas pelukan, mereka tertawa lepas bersama.
"Lebay banget lo" disambut gelak tawa Erika dan Nina.
__ADS_1
Sekarang Erika sedang berada diperpustakaan kampus, sibuk dengan tugas yang mulai menumpuk di semester pertama ini. Tadinya Erika mau mengajak Alex untuk membeli beberapa untuk referensi tugasnya tapi Erika mengurungkan niatnya karena mau memberi ruang untuk Nina bisa mendekati Alex salah satunya adalah dengan alasan kesibukan Erika.
Tidak bisa dipungkiri kalau Erika sedikit kehilangan waktunya untuk bersama dengan Alex. Hatinya nyeri ketika melihat keakraban Nina dan Alex akhir-akhir ini tapi Erika menepis semua itu dengan sebuah senyuman yang terukir dibibirnya namun tidak dengan hatinya.
Erika tidak menyadari kalau dirinya sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Alex dihidupnya. Canda tawa serta keusilannya membuat hati Erika rindu namun sedetik kemudian Erika menepis bayangan rindu itu dengan tugasnya.
Hari ini Erika ada janji akan bertemu dengan ketiga sahabatnya siapa lagi kalau bukan Lia, Tasya dan Irene. Mereka berencana akan ngumpul bareng di warung makan favorit mereka ketika masih SMA. Mereka semua saling melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu. Rasa rindu dan kehilangan mereka rasakan satu sama lain.
"Irene katanya ada yang mau lo omongin sama kita. Cepetan mau ngomong apa gue penasaran banget nih" tanya Tasya sudah tidak sabar tentang apa yang membuat Irene memaksa mereka bertemu. Baik Lia, Tasya dan Erika mereka rela datang jauh dari kampusnya hanya untuk bertemu Irene.
"Iya nih bikin kita penasaran aja, lo gak apa-apakan Irene" Lia melihat Irene seksama dari ujung rambut sampai ujung kaki untuk memastikan keadaan sahabatnya.
"Irene cepetan ngomong" Erika ikut dibuat penasaran juga, bahkan Erika memegang tangan Irene dan menggoyanggkannya seperti anak kecil yang meminta permen pada ibunya.
Irene yang melihat sahabatnya sangat penasaran hanya bisa tersenyum simpul.
"Hahha.. kalian pasti akan jantungan kalau denger berita apa yang gue bawa buat kalian" Irene masih belum mengatakan kebenarannya.
"Ayo cepetan ngomong kalau lo gak ngomong kita pulang aja guys biarin nih dedemit satu ini kita tinggalin aja" kata Erika setengah mengacam Irene. Sedangkan yang lainnya mengangguk setuju dengan apa yang Erika ucapkan.
"Eitss.. jangan marah gitu donk guys. Ok ok gue bakalan ngomong sama kalian tapi kalian harus nyiapin jantung lo dulu biar gak copot ok. Gue gak mau tanggung jawab kalau sampai kalian pinsan disini."
Sahabat Irene menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti. Mereka memandang Irene dengan pandangan mengintimidasi. Irene yang melihatnya hanya bisa tertawa geli.
__ADS_1
"Gue mau nikah sama Andre bulan depan" ucap Irene hati-hati tapi penuh keyakinan.
"Apaaahhh.. " jawab ketiga sahabatnya serempak.