
Erika sekarang berada disuasana yang benar-benar tidak menguntungkannya. Disatu sisi dia tidak mau menyakiti sahabatnya tapi disisi lain Erika juga sudah menyakiti hati Alex. Orang yang selama ini ada untuknya baik suka maupun duka.
Erika bisa mengerti kalau mungkin saja saat ini Alex membencinya. Erika coba menerima semua itu karena itu adalah resiko dari keputusan yang telah diambilnya.
Erika menangis dalam diam meratapi nasib yang tidak berpihak padanya.
"Erika lo kenapa harus nangis si, kenapa lo sebodoh ini bukankah ini yang lo mau. Alex dekat dengan Nina terus kenapa sekarang lo secengeng ini." ucap Erika pada dirinya sendiri sambil menghapus air mata yang mengalir begitu saja tanpa permisi.
Erika sering kali uring-uringan kalau melihat Alex yang dengan atau tampa sengaja membuat Erika cemburu. Sering kali juga Erika kelepasan menunjukkan rasa cemburunya pada Alex.
Alex yang melihat Erika menunjukkan kekesalannya hanya bisa tersenyum kecil yang tidak dilihat oleh Nina maupun Erika.
Seperti hari ini Alex sengaja menyuapi Nina didepan mata Erika langsung. Alex ingin melihat respon Erika ketika memberikan perhatian pada Nina.
"Nina cobain deh makanan gue, lo pasti suka" kata Alex sambil menyuapi Nina dengan hati-hati.
Erika yang melihat itu tentu saja darahnya mendidih, ritme jantungnya terpacu cepat seperti sedang lari maraton. Sebisa mungkin Erika menahan gejolak yang terjadi pada tubuhnya.
Nina dengan senang hati menerima suapan Alex, orang yang begitu ia cintai. Erika belum tahu perubahn sikap Erika yang sedari tadi menegang dengan pandangan yabg tidak bisa dijelaskan. Nina juga belum tahu kalau Alex ternyata menyukai Erika sahabatnya.
"Hmmm enak.. Lo cobain juga nih Alex makanan gue, ini juga gak kalah enak loh" kata Nina sambil tersenyum ke arah Alex kemudian Nina mengambilkan Alex makanannya dengan sendoknya agar Alex mencoba makannya.
Erika yang sudah tidak tahan lagi melihat sikap Alex dan Nina yang seakan tidak menganggapnya ada dihadapan mereka merasa darahnya kembali mendidih sampai ubun-ubun.
Dengan reflek Erika meletakkan sendoknya dengan keras membuat Alex dan Nina kaget dan melihat ke arah Erika secara bersamaan. Erika yang ditatap Alex dan Nina tersadar dengan apa yang baru saja dilakukannya. Erika berusaha setenang mungkin agar tidak membuat Alex dan Nina curiga.
"Sorry, gue harus pergi duluan" jawab Erika dengan terpaksa kemudian pergi meninggalkan Alex dan Nina yang menatapnya keheranan.
"Erika kenapa si dia, kok aneh gitu" tanya Nina masih melihat kepergian Erika.
"Mungkin lagi PMS kali" jawab Alex dengan santai sambil kembali makan.
Nina yang mendengar ucapan Alex hanya bisa menganggungkan kepalanya. "Mungkin juga si" kata Nina sambil mengangkat bahunya.
Sebenarnya Alex sangat senang Erika marah ketika melihat kedekatannya dengan Nina itu berarti Erika cemburu padanya. Alex memang ingin tahu perasaan Erika padanya dengan begitu Alex bisa tahu apa yang harus dilakukannya kedepannya.
__ADS_1
"Gue tahu lo cemburu melihat gue sama Nina. Makannya lo marah gak jelas seperti ini. Gue suka melihatnya, ternyata melihat lo cemburu itu sangat menyenangkan Erika. Tunggu gue Erika, gue bakalan buat lo jadi milik gue" batin Alex
Erika berjalan menjauhi Alex dan Nina sambil menghentakkan kakinya berkali-kali seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Sekarang Erika berada diatap gedung kampus untuk sekedar meluapkan amarahnya. Jika Erika sedang tidak dalam keadaan baik pasti Erika akan kesini untuk menenangkan diri.
"Gue benci lo Alex" teriak Erika berulang kali karena Erika tahu gak akan ada yang mendengar dan tahu teriakan Erika.
Alex yang sebenarnya melihat dan mendengar teriakan Erika hanya diam ditempat. Ingin melihat apa lagi yang akan dilakukan Erika.
"Gue benci lo Alex kenapa sesakit ini ngelihat lo sama Nina, Brengsek!" lirih Erika tanpa terasa air matanya menetes tanpa permisi.
Alex yang tidak tahan melihat Erika menangis seketika mendekati Erika berlahan.
Erika yang merasa ada orang yang berjalan kepadanya segera menghapus air matanya dan melihat orang tersebut.
"Aa.. llex sejak kapan lo disini" kata Erika salah tingkah. Berharap Alex tidak mendengar ucapan Erika tadi.
Alex tidak langsung menjawab pertanyaan Erika, dia terus berjalan mendekati Erika secara berlahan. Melihat Alex yang terus mendekatinya Erika menjadi gugup.
Jarak mereka sudah sangat dekat mungkin sekitar 30 cm, Alex memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Memandang langit kemudian menghembuskan nafasnya berlahan.
Erika yang mendengar ucapan Alex tadi terkejut, matanya membulat lucu. "Jadi dia mendengar semua yang gue katakan tadi, ****** gue" kata Erika dalam hatinya.
"Ahahaha.. emangnya apa yang gue katain tadi, salah dengar kali lo tadi" kata Erika sambil tertawa terpaksa. Alex yang melihat Erika gugup hanya tersenyum smirk.
"Oh.. jadi hantu yang tadi ngatain gue Brengsek!" kata Alex mengulangi ucapan Erika sambil berjalan kemudian menyandarkan dirinya didinding.
Erika menunduk merasa malu dan tak enak hati. Padahal Erika hanya ingin meluapkan amarahnya tapi tidak disangka kalau ini malah menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.
"Apa yang harus gue lakuin, ah bodoh banget si gue ini" kata Erika dalam hati sambil menepuk-nepuk kepalanya.
Alex yang melihat Erika menyakiti dirinya sendiri segera menghampiri Erika dan menarik tangan Erika membawa Erika dalam pelukannya.
Erika yang sekarang dalam pelukan Alex merasa kaget tapi juga tidak menolak perlakuan Alex karena sejujurnya ini yang Erika butuhkan sebuah kenyamanan.
"Jangan sakiti diri lo sendiri lagi" kata Alex sambil mengelus rambut Erika dengan lembutnya.
__ADS_1
"Gue minta maaf, gue sungguh malu ternyata lo lihat dan dengar ucapan gue tadi" lirih Erika masih dalam pelukan Alex.
Alex yang mendengar itu tersenyum dan berlahan melepaskan pelukannya. Alex melihat Erika dengan tatapan lembut dan mengusap air mata Erika yang masih ada dipipi Erika.
"Lo gak perlu minta maaf kalau memang itu membuat lo lebih baik gue gak masalah"
Erika yang mendengar itu merasa bersalah, bagaimana mungkin dia juga menyakiti cowok yang begitu baik seperti Alex. "Hmm.. " kata Erika sambil menganggukan kepalanya.
"Gue yang harusnya minta maaf karena buat lo marah dengan sikap gue selama ini" seru Alex sambil meraih kedua tangan Erika, menciumnya lembut.
Erika yang mendapatkan perlakuan itu merasa tersentuh sekaligus merasa bersalah karena telah mengabaikan perasaan Alex padanya.
"Gak, lo gak salah disini gue yang salah" kata Erika dengan mata berkaca-kaca menahan air mata yang akan keluar.
Alex yang melihat Erika akan menangis tak bisa menahan diri lagi. Dengan cepat Alex memgang tengkuk Erika kemudian mencium Erika dengan lembut.
Erika terbelalak kaget ketika Alex mencium bibirnya. Mata Erika mengerjap lucu, masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.
Alex yang melihat Erika, tangannya terulur untuk menutup mata Erika agar terpejam. Erika akhirnya mengerti dan memejamkan matanya.
Alex ******* bibir Erika lembut, Erika mencoba membalas ciuman Alex walaupun masih kaku karena Erika belum mahir dalam hal ciuman.
Alex yang mendapatkan balasan dari Erika merasa senang dan terus ******* bibir manis Erika dengan memberi gigitan kecil agar Erika mau membuka mulutnya.
Erika yang kaget bibirnya digigit dengan reflek membuka mulutnya dan tentu saja hal itu tidak disia-siakan Alex. Dia langsung mengeksplor rongga mulut Erika dan menekan tengkuk Erika untuk memperdalam ciuman mereka.
Cukup lama mereka berciuman sampai membuat keduanya hampir kehabisan nafas. Alex melepaskan tautan bibir mereka dengan berlahan mengatur nafas mereka dan dalam posisi kening mereka saling menempel.
"Gue sayang sama lo Erika" ucap Alex dengan membuka matanya berlahat melihat ke arah Erika yang juga melihat ke arahnya.
Kedua terpaku dengan saling pandang menyalurkan rasa sayang mereka melalui tatapan mata mereka masing-masing.
"Gue.. "?
***
__ADS_1