Marlangen

Marlangen
Namaku Mayang


__ADS_3

Setelah mendengar teriakan Sella, om Bagas dan tante Rani langsung bergegas menuju kamarku.


"Ada apa Sel?!" tanya tante Rani panik.


"Mah, itu liat Marlangen sedang meluk ular raksasa," ucap Sella sembari memeluk mamahnya dengan ketakutan.


"Ular? mana? kamu lagi ngigo atau lagi mau ngerjain Papah sama Mamah sih?" tanya om Bagas sewot.


"Itu Pah, masa Papah gak bisa liat ular segede itu?" balas Sella tapi tidak berani menatap ke arahku.


Jujur aku sangat bingung, kenapa Sella bisa histeris begitu padahal saat ini aku sedang sibuk mengerjakan tugas di laptop.


"Lihat Sel, nggak ada apa-apa. Marlangen justru sedang sibuk ngerjain tugas," balas om Bagas sedikit membentak.


Sella pun akhirnya kembali menatap kearahku dengan mulut menganga.


"Sumpah Pah , tadi aku bener-bener liat Marlangen sedang meluk ular raksasa," ujar Sella ngotot


"Sudahlah, kamu lebih baik tidur saja. Dari pada berhalusinasi yang tidak-tidak," gerutu om Bagas.


Sella pun langsung menderap pergi kekamarnya dan membanting pintu kamr dengan keras.


"Maafin Sella ya , Marlangen. Mungkin dia cuma lagi bercanda," ungkap tante Rani lembut


"Kamu lanjut lagi belajarnya ya."

__ADS_1


Aku tidak menjawabnya, hanya menganggukan kepalaku. Aku benar-benar bingung dengan kelakuan Sella. Kalau dia bercanda tapi kenapa wajahnya begitu pucat.


Suara senandung yang tadi mengalun indah pun sudah lenyap. Hanya ada keheningan, bahkan udara dingin yang tadi aku rasakan sudah tidak berasa.


******


Keesokan harinya saat aku bergabung untuk sarapan, Sella yang masih memakan rotinya langsung berdiri untuk berangkat ke kampus. Dia seakan semakin antipati denganku.


"Marlangen, maaf ya hari ini kamu naik kendaraan umum dulu ke.kampusnya. Sebenarnya om mau nganter cuma hari ini ada rapat penting di kantor," ungkap Om Bagas dengan wajah menyesal.


"Ndak apa-apa om," balasku dengan tersenyum.


*****


Seperti biasa aku menunggu angkot di pinggir jalan didepan kompleks perumahan om Bagas. Belum juga angkot yang aku tunggu datang, sebuah mobil berwarna hitam berjalan meliuk-liuk ke arahku.


Dari dalam mobil keluarlah seorang laki-laki yang tampak seumuran denganku, dia langsung melangkah ke arahku.


"Sorry, kamu nggak apa-apa?" tanya laki-laki itu dengan wajah panik.


"Iya aku baik-baik aja," jawabku singkat.


Laki-laki itupun terlihat lega mendengar ucapanku.


"Mobil sialan, padahal sudah bolak-balik di service," umpat laki-laki itu sembari menendang mobilnya.

__ADS_1


Lalu dia.pun menelpon dan menyuruh seseorang yang dia ajak bicara ditelfon untuk menderek mobilnya.


Aku pun memperhatikannya, bukan memperhatikan laki-laki itu yang walaupun terlihat sangat tampan tapi yang aku perhatikan adalah sesosok wanita yang berdiri tepat dibelakang laki-laki itu.


Sosok wanita berbaju biru itu terlihat sangat marah memandang laki-laki yang saat ini sedang berbicara di telfon itu.


Aku juga melihat sosok wanita itu selalu memegang lehernya seperti menahan kesakitan. Jelas sekali dia bukan manusia, aku merasakan energi tidak enak saat sosok wanita itu menatapku. Jelas dia hantu penuh dendam.


Laki-laki yang sudah selesai menelfon itu pun berbalik menatapku.


"Maaf, tadi kamu bilang apa?" tanyanya dengan wajah curiga.


"Bukan apa-apa," balasku sambil berlalu pergi dari situ.


Aku benar-benar tidak suka hantu semacam itu, hantu yang penuh dendam. Aku lebih sering menemukan sosok lelembut yang hanya berniat iseng mengganggu orang lewat atau orang yang sedang berniat iseng juga.


*****


Saat sedang berada ditoilet kampus untuk cuci tangan, tiba-tiba sosok wanita yang tadi aku lihat dibelakang laki-laki yang hampir menabraku sudah berdiri dibelakangku.


Aku melihatnya di cermin, wajah pucatnya entah kenapa membuatku takut sekaligus prihatin .


Selain kemarahan, ada kesedihan dan penyesalan diwajahnya. Lalu di berbisik padaku.


"Namaku Mayang"

__ADS_1


*****


__ADS_2