Marlangen

Marlangen
BAB 26


__ADS_3

Sebenarnya aku akan berangkat ke Semarang, tempat rumah sakit jiwa yang tertulis di foto ibu sendirian. Tapi aku takut akan terjadi sesuatu jika aku sendiri seperti kejadian kemarin di puncak. Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak Adit.


Aku kembali berbohong pada Om Bagas bahwa hari ini aku akan pergi dengan teman kampus ke luar kota untuk keperluan tugas kuliah.


Akhirnya aku berangkat dengan Adit dengan menggunakan kereta api, sepanjang perjalanan aku tidak bisa duduk dengan tenang. Aku berharap Ibu memang masih hidup, tapi kenapa Ibu dimasukkan kedalam rumah sakit jiwa?


******


Kami sampai di Semarang pukul Dua Belas siang. Sebelum ke rumah sakit jiwa kami menyempatkan untuk makan siang agar tidak lemas. Aku bersyukur punya sahabat seperti Adit yang mau membantuku.


"Makasih ya, Dit udah mau aku repotin setiap saat," ucapku tulus.


"Nggak usah makasih, Langen. Aku seneng kok bantu kamu," jawabnya sambil tersenyum.


Melihat bangunan di depanku entah kenapa ada rasa sakit yang menghujam hatiku, jika memang benar Ibu masih hidup kenapa selama ini Bapak menyembunyikannya dariku dengan mengatakan bahwa Ibu sudah meninggal setelah melahirkanku.


"Udah siap?" tanya Adit sambil menggandeng tanganku.


Akupun mengangguk mantap sembari mempererat genggamanku pada tangan Adit.


Sebelum memasuki rumah sakit jiwa itu, kami menanyakan dulu di bagian informasi apakah ada pasien bernama Bu Wulan. Ternyata memang ada pasien bernama Bu Wulan, tapi kami tidak langsung boleh menemui pasien bernama Bu Wulan yang kuharap benar-benar ibuku. Kami harus bertemu dengan Dokter dulu untuk menanyakan kondisi pasien boleh atau tidaknya untuk di kunjungi .


******


Kami menemui seorang Dokter laki-laki paruh baya, beliau menyambut kami dengan ramah.


"Selamat siang, Dok." Sapaku yang diikuti oleh Adit.


"Siang juga, silahkan duduk," ucap Dokter itu dengan ramah.

__ADS_1


"Saya kemari untuk menjenguk pasien yang bernama Bu Wulan, Dok," kataku.


"Hmm Bu Wulan ya, apa Mba ini yang bernama Marlangen putri dari Pak Ageng?" tanya Dokter di depanku dengan wajah serius 


"Iya saya Marlangen, Pak. Apa benar pasien atas nama Bu Wulan adalah Wulan Ibu saya?" Aku balik bertanya dengan suara yang mulai serak.


"Benar, Pak Ageng sudah berpesan jika beliau lama tidak menjenguk Bu Wulan. Akan datang anak perempuannya yang bernama Marlangen. Karena Pak Ageng tidak memperbolehkan siapapun menjenguk Bu Wulan."


Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi, aku hanya menangis. Kenyataan bahwa Ibuku masih hidup membuatku sangat bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena akhirnya aku tidak harus menjalani hidup sendirian tapi aku juga sangat sedih mengetahui Bapak membohongiku selama ini.


Dokter itupun mengantarku ke kamar Ibu, perasaan haru menyelimutiku. Adit juga tidak pernah melepaskan genggamannya padaku yang membuat perasaan hangat di hatiku. 


"Ini kamar Bu Wulan, beliau jarang sekali mau keluar kamar. Silahkan anda bisa masuk." Dokter itu mempersilahkan.


Sebelum aku membuka pintu kamar yang terkunci itu lamat-lamat aku mendengar suara Ibu menyanyi dengan suara merdu, akupun menghentikan langkahku. Aku ingin mendengar suara nyanyian Ibu.


***Hatiku hancur mengenang dikau


Kini air mata jatuh bercucuran


Tiada lagi harapan


Tiada seindah waktu itu


Dunia berseri-seri


Malam bagai siang seterang hatiku


Penuh harapan denganmu

__ADS_1


Kini hancur berderai


Kesedihan merantai


Kuncup dihatiku yang lama kusimpan


Hancur kini sebelum berkembang


Mengapa ini harus terjadi


Ditengah kebahagiaan


Ingin kurasakan lebih lama lagi


Hidup bersama denganmu***


Entah kenapa mendengar ibu menyanyi seperti itu membuatku terharu. Akupun membuka pintu itu perlahan.


Dan akupun melihatnya untuk pertama kalinya sejak aku dilahirkan kedunia ini.


"Ibuu, " sapaku serak karena tidak bisa menahan air mataku.


Ibu hanya bergeming memandangku, akupun mendekatinya perlahan. Wajah ibu yang selama ini aku rindukan, meskipun tampak kurus tapi Ibu masih terlihat cantik dengan rambut hitam dan panjang sepertiku.


"Kamu siapa?" tanyanya bingung.


"Aku Marlangen, Bu. Putri ibu," jawabku dengan terisak.


Sesaat aku melihat sinar keibuan dan kebahagian ada dimata Ibu sebelum dengan tiba-tiba ibu mencekik leherku sambil berteriak-teriak.

__ADS_1


"DASAR ANAK IBLIISS MATII KAU !!!!"


****


__ADS_2