Marlangen

Marlangen
BAB 21


__ADS_3

Aku mengahapus air mataku saat ada seseorang menggedor pintuku, ternyata orang itu adalah Sella. Aaku menyuruhnya masuk karena pintu tidak dikunci.


"Lo baru bangun? Tumben kuat banget tidurnya?" tanya Sella sembari duduk di kursi belajarku.


"Iya nih ngantuk banget soalnya," jawabku .


"Begadang semalem dirumah Amel?"


"Iya, aku nggak bisa tidur disana mungkin karena bukan kamarku sendiri," balasku mencoba berbohong.


"Hem gitu, oh ya gue mau liburan bareng sama Aldi ke villanya yang ada di puncak. Lo ikut ya, nemenin gue biar nggak berduaan doang," ucap Sella dengan nada manjanya yang susah sekali untuk aku tolak.


"Nanti aku cuma jadi nyamuk doang sambil melihat kemesraan kalian," sahutku pura-pura bete.


"Enggak dong, lo kan bisa bawa Adit, Amel sama si Bayu"


Sella memang sudah lumayan akrab dengan Amel dan Bayu semenjak mereka ikut membantu saat kematian Tante Rani.


"Aku ngabarin mereka dulu kalo mereka oke aku bakal ikut," ucapku yang langsung membuat Sella tersenyum lebar.


Ternyata Adit, Amel dan Bayu setuju untuk ikut Sella berlibur di villa milik pacarnya, Aldi.


Kami berencana berangkat ke puncak besok, Amel benar-benar bersemangat katanya sekalian cuci mata barangkali ada cowok ganteng.


******

__ADS_1


Kami berangkat menggunakan Dua mobil, satu mobil Aldi dan satunya mobil Adit. Aku, Amel dan Bayu ikut mobilnya Adit sedangkan Sella berdua dengan pacarnya.


Ternyata villanya Aldi sangat besar, ada kolam renang di tengah-tengah bangunan serta taman yang sejuk membuatku betah berlama-lama berada di sini.


"Wah villa lo gede juga, Al," ungkap Bayu kagum.


"Semoga kalian betah ya, kalian bisa pilih kamar masing-masing. Disini ada Lima kamar," ujar Aldi santai.


"Gue bareng aja deh sama Langen dan Amel." balas Sella yang langsung disetujui olehku dan Amel.


"Gue bareng aja sama lo, Bay," ucap Adit.


Adit memang menggunakan kata lo-gue dengan yang lain.Tapi entah kenapa denganku tidak. Mungkin karena aku terlihat ndeso untuk bilang lo-gue.


Akhirnya kami membereskan barang-barang kami di kamar.


Aku dan Sella kompak menggeleng karena kami lelah dan ingin istirahat dulu.


******


Saat malam tiba kita berencana untuk makan malam yang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga Aldi yang merupakan penduduk desa asli sini. Villa Aldi memang termasuk kedalam desa hanya saja letaknya lumayan jauh dari rumah penduduk yang lain.


Setelah menyiapkan makan malam, asisten rumah tangga yang bernama Bi Imah pun pamit pulang. Tapi sebelum pulang Bi Imah memberi tahu pada kami agar kalo malam jangan keluar karena sedang rame gosip tumbal pesugihan di sini.


"Mending neng jangan keluar-keluar ya. Disini lagi rame orang nyari tumbal pesugihan. Udah ada Tiga orang yang meninggal nggak wajar." ungkap Bi Imah takut-takut.

__ADS_1


Setelah kepergian Bi Imah kami berkumpul diruang makan untuk makan malam.


"Kata Bi Imah kita jangan keluar malam beb , katanya disini lagi rame orang meninggal nggak wajar karena jadi tumbal pesugihan," jelas Sella yang langsung di balas tertawaan oleh Aldi.


"Udah jaman modern gini kamu masih percaya sama yang begituan, beb. Kaya orang kampung aja," sahut Aldi meremehkan.


"Tumbal bukan hanya orang kampung, kadang ada orang melakukan pesugihan dengan korban acak dan dijaman modern seperti ini justru banyak orang yang mencari kekayaan dengan cara instan. Jadi jangan meremehkan kalau tidak mau jadi korban!" balasku dengan tajam membuat semua orang di meja makan langsung terdiam, bahkan aku melihat ada raut ketakutan di wajah Aldi.


Aku paling tidak suka dengan orang-orang yang meremehkan sesuatu. Apalagi meremehkan tentang hal-hal seperti pesugihan yang menginginkan tumbal. Entah orang jahat seperti apa yang mengorbankan jiwa manusia lain demi kejayaan hidupnya. Mungkin itu bukanlah manusia tapi iblis berbentuk manusia.


******


Kami berkumpul di ruang tengah sambil memainkam kartu, aku tidak ikut tentunya karena tidak mengerti. Saat sedang asyik melihat Bayu dengan wajah penuh coretan putih karena kalah terus dalam permainan, aku kebelet ingin buang air kecil. Akhirnya aku beranjak untuk ke kamar mandi.


"Mau kemana, Langen?" tanya Adit padaku.


"Kekamar mandi,Dit," jawabku singkat sambil berjalan ke arah belakang.


Setelah selesai buang air, akupun berniat kembali ke ruang tengah tempat teman-temanku berkumpul. Tapi saat aku akan berjalan keluar kamar mandi aku mendengar suara ringikan kuda. Aneh, kuda siapa malam-malam yang dilepaskan begitu saja. Akupun berjalan menuju ruang tengah untuk menanyakan pada Aldi.


"Al, villa kamu deket sama peternakan kuda?" tanyaku pada Aldi yang kelihatan bingung.


"Enggak kok, villa gue kan dikelilingi kebun teh dan setau gue penduduk sekitar sini nggak ada yang melihara kuda," Jawab Aldi. "Emangnya kenapa?"


"Nggak apa-apa cuma tanya," balasku sambil tersenyum.

__ADS_1


Kalau penduduk disekitar sini tidak ada yang memelihara kuda terus ringikan kuda siapa yang barusan aku dengar pas dikamar mandi?


*****


__ADS_2