Marlangen

Marlangen
BAB 24


__ADS_3

Malam harinya saat semua teman-temanku sudah tidur, aku merasa gelisah. Bi Imah tidak kerumah siang tadi untuk menyiapkan makan siang dan malam. Aku jadi kuatir terjadi sesuatu pada Bi Imah. Tanpa memberi tahu teman-temanku yang lain aku keluar dari vila sendirian, udara begitu dingin. Aku merapatkan jaketku dan berjalan menyusuri jalan menuju desa. Beberapa kali aku melihat lelembut yang tertawa jail tapi aku tidak memperdulikannya. Pikiranku tertuju pada Bi Imah dan anaknya.


Saat aku sampai di depan rumah Bi Imah akupun mengetuknya, Bi Imahpun keluar sembari menangis. Ternyata anak Bi Imah yang bungsu sedang demam tinggi, padahal tadi pagi saat aku kesini dia baik- baik saja.


"Si bungsu kapan sakit begini Bi, tadi pagi dia keliatan baik-baik aja," ujarku khawatir.


"Tadi siang, Non. Sesaat setelah Juragan Jamal kembali menagih hutang. Mungkin anakku sangat ketakutan karena dia melihat saya dimaki-maki sama Juragan Jamal"


Ini pasti perbuatannya, tidak akan aku biarkan dia menjadikan anak Bi Imah sebagai tumbalnya.


Akupun bergegas keluar rumah Bi Imah untuk menuju rumah Juragan Jamal.


"Non mau kemana?" tanya Bi Imah


"Rumah Juragan Jamal," sahutku dingin.


******


Aku sampai di depan rumah Juragan Jamal. Ternyata gerbang rumahnya tidak dia kunci, akupun masuk saja. Aku mengetuk pintu rumahnya beberapa kali, tapi tidak ada sahutan. Saat aku mengetuk untuk kesekian kalinya pintu itu terbuka.


"Anda siapa? Kenapa malam-malam bertamu kerumah orang?" tanya Juragan Jamal tidak ramah.


"Hentikan kegilaan anda untuk menjadikan orang-orang dikampung ini sebagai tumbal pesugihanmu!" salakku tanpa basa-basi.


"Jangan berbicara omong kosong," gerammya menahan marah.

__ADS_1


"Saya tahu anda melakukan ritual pesugihan jaran panoleh..."


Tapi sebelum aku menyelesaikan omonganku tiba-tiba dari arah belakang seseorang membekap mulutku, aku mencoba melawan dan berteriak tapi tenagaku kalah besar dibandingkan orang yang membekapku. Aku dibawa kedalam rumah dan dimasukan kedalam sebuah ruangan yang dipenuhi denganĀ  bau kemenyan.


Mereka mengikatku dan menyumpal mulutku dengan kain. Aku berusaha meronta. Tapi tenagaku habis, kenapa aku begitu bodoh. Masuk kesini sendirian tanpa berpikir panjang.


"Saya tidak tahu kamu siapa, tapi kamu hebat juga bisa tahu jika aku melakukan pesugihan," ucap Juragan Jamal dengan terkekeh.


Lalu tiba-tiba seseorang yang tadi menyekapku itu berbisik di telinga Juragan Jamal.


"Oh jadi kamu ini salah satu anak muda yang ada di villa besar itu? Kamu harusnya bersenang-senang saja nona manis. Tapi malah memilih untuk masuk ke kandang singa."


Akupun mendelik dan sangat marah. Laki-laki didepanku ini begitu pongah.


Lalu laki-laki itu duduk bersila di depan kemenyan yang berbau sangat menyengat. Mulutnya komat-kamit lalu tiba-tiba munculah sosok kuda hitam dengan mata merah menyala yang kini sedang menatapku dengan tatapan mengerikan. Aku bisa mendengar suara dengusannya, apa yang akan dilakukan kuda itu padaku.


Saat kuda itu semakin mendekat padaku, tiba-tiba tanpa aku sadari aku sudah menggumamkan senandung lagu yang begitu asing di telingaku. Lalu entah dari mana muncul ular raksasa yang begitu besar, ular terbesar yang pernah aku lihat.


Aku melihat ular itu melilit siluman kuda yang sekarang tampak meronta dan meringik. Sebelum siluman kuda itu benar-benar menghilang. Lalu ular itupun berjalan menuju Juragan Jamal yang tampak sangat ketakutan.


Ular itu membelit tubuh Juragan Jamal yang mencoba berteriak minta tolong. Aku bisa mendengar suara tulang yang diremukkan sebelum ular itu melepaskan tubuh Juragan Jamal yang sudah tidak bernyawa dengan mata melotot. Nasib centeng Juragan Jamal yang tadi menyekapku juga tidak beda jauh dari juragannya.


Lalu ular itupun menghilang setelah melakukan itu semua.


******

__ADS_1


Badanku sangat lemas, saat aku sedang berusaha melepaskan ikatanku. Aku terdengar seseorang memanggil namaku. Aku ingin menyahut tapi mulutku masih tersumpal kain.


Ternyata seseorang yang memanggilku itu adalah Adit, dia datang bersama Aldi. Adit langsung membuang kain yang digunakan untuk menyumpal mulutku, dia juga melepaskan ikatanku. Lalu dengan sigap Adit membopongku yang tampak lemas untuk keluar dari rumah terkutuk itu. Adit dan Aldi hanya melihat sepintas mayat Juragan Jamal dan centengnya.


Di luar rumah Juragan Jamal sudah ada Bi Imah dan beberapa warga. Saat aku, Adit dan Aldi sudah keluar dari rumah itu tiba-tiba entah api dari mana, rumah itu terbakar. Warga berusaha menyemprotkan air karena takut api akan merembet ke rumah lain. Tapi api itu justru bertambah besar sampai rumah megah dan mewah itu luluh lantak menjadi arang.


******


Keesokan harinya kami memutuskan untuk pulang kejakarta. Sebenarnya aku tidak enak pada mereka, mungkin gara-gara aku mereka tidak nyaman disini.


"Maaf ya gara- gara aku kalian malah memilih untuk pulang," ucapku tidak enak.


"Bukan salah lo, Langen. Emang gue pengen balik aja. Lagian papah kan udah pulang, kasihan kalo sendirian dirumah," balas Sella


Kamipun bersiap untuk masuk mobil setelah meletakan semua bawaan ke bagasi. Tiba-tiba Adit menghampiriku.


"Lain kali kalo mau menyergap penjahat ngajak-ngajak aku ya," ucapnya dengan nada bercanda.


"Iya maaf ya","balasku tidak enak.


"Nggak apa-apa yang penting kamu selamat," ujar Adit sambil mengelus rambutku lembut. "Oh ya aku mau ngasih ini ke kamu. Sebenarnya mau aku berikan setelah kita pulang dari rumah lama kamu, tapi aku lupa. Aku nemuin ini pas kamu ngambil kotak kayu dilemari" Lanjutnya sembari memberiku sebuah foto yang ternyata adalah foto ibuku. Saat aku membalik foto itu terdapat tulisan.


"RUMAH SAKIT JIWA GONDHOTAMA"


****

__ADS_1


__ADS_2