Marlangen

Marlangen
BAB 37


__ADS_3

Aku berharap apa yang dikatakan oleh ibu-ibu yang kutemui dijalan tadi benar bahwa Sapto aji itu gila, jadi pantas jika dia berkata hal-hal tidak masuk akal.


Tapi melihat matanya yang menatapku penuh kebencian dan emosi yang di tampakkannya saat mengatakan istrinya telah di bunuh oleh Durgasani membuatku tau, Sapto Aji berkata benar.


"Al tolong lepasin dia," perintahku pada Aldi yang masih saja memiting leher Sapto Aji.


"Tapi nanti dia berusaha nyelakain kamu lagi, Langen," timpal Sella.


"Pleasem" Aku menatap Aldi yang perlahan melepaskan Sapto Aji.


Tapi aku bisa melihat Adit dan Aldi tetap waspada dengan apa yang akan di lakukan oleh Sapto Aji.


"Anda bisa menceritakan semuanya pada saya? Semua yang anda tahu tentang keluarga saya," ucapku dengan nada selembut yang aku bisa.


Sapto Aji hanya menatapku dengan nafasnya yang ngos-ngosan. Beberapa menit berlalu tanpa ada seorang pun yang berbicara sampai pada akhirnya Sapto Aji mulai bercerita.


"Trah keluargamu, Gondokusuma telah di santet oleh seseorang. Santet yang tidak lazim dan sangat berbahaya. Santet tujuh turunan namanya. Santet itu akan menghabisi seluruh keturunan Gondokusuma kecuali keturunan sebelumnya rela mati demi keturunan yang akan lahir," jelas Sapto Aji.


Kami semua terdiam sambil mendengarkan Sapto Aji berbicara.


"Kakekmu, buyutmu dan yang lahir sebelummu harus melakukan bunuh diri agar putra atau putri mereka bisa hidup untuk melanjutkan trah keluarga Gondokusuma. Santet itu akan berhenti jika sudah habis turunan ke 7. Tapi Bapakmu tidak rela melakukan bunuh diri dan meninggalkanmu dan ibumu. Maka dari itu Bapakmu mencari cara agar dapat menghentikan kutukan dari santet itu. Lalu bertemulah dia dengan Durgasani," lanjut Sapto Aji dengan pandangan menerawang.

__ADS_1


"Siapa Durgasani?" tanyaku dengan perasaan mencekam yang hadir tiba-tiba.


"Durgasani adalah siluman ular yang tinggal di sebuah goa di hutan yang ada di kota Blora. Ilmu hitam yang dimilikinya sangat kuat, hingga bisa mematahkan santet tujuh turunan. Maka dari itu Bapakmu akhirnya membuat perjanjian dengannya untuk membantunya melepaskan kutukan santet itu. Tapi dengan satu syarat," ujar Sapto Aji


"Syarat apa?" Adit yang tadinya hanya fokus mendengarkan pun ikut bertanya.


"Anak Ageng harus mau menjadi anak Durgasani, untuk diwarisakan ilmu hitamnya dan menjadi sekutunya."


Rasanya kakiku lemas mendengar semua itu. Jadi Bapak sudah berjanji pada Durgasani bahwa aku akan di berikan padanya. Tidak salah siluman ular itu terus-terusan menerorku agar supaya aku mau ikut bersamanya.


"Karna itu Wulan, ibumu ingin membunuhmu sedari kamu masih ada di kandungannya karena dia tidak ingin kamu menjadi budak iblis seperti Durgasani. Tapi Ageng melarangnya karena kamu yang akan meneruskan trah Gondoksuma. Jadi Ageng mengirim ibumu ke rumah sakit jiwa agar ibumu tidak lagi berusaha membunuhmu."


"Aku mencoba mengeluarkan Ibumu dari rumah sakit jiwa waktu itu, tapi gagal karena Ageng tahu. Aku dan Ageng bahkan sampai berkelahi. Itulah saat terakhir kalinya aku bertemu dengan Ageng. Ketika aku pulang dari rumah sakit jiwa dimana ibumu dirawat, aku mendapati istriku mati dengan kondisi tulangnya hancur seperti di lilit ular besar. Aku yakin itu perbuatan Durgasani," ungkap Sapto Aji geram.


"Lalu kenapa anda bilang saya adalah Durgasani?" tanyaku sedih.


"Karena memang kamu adalah bagian dari Durgasani. Sedari bayi kamu sudah disurup olehnya," jawab Sapto Aji.


"Disurup itu maksudnya apa?" tanya Sella judes.


"Surup itu dibenamkan. Seperti benang yang disurupkan pada jarum, akan terikat satu sama lain . Sama halnya kamu dan Durgasani. Aku tahu Bapakmu mencoba membentengimu dengan berbagai jimat dan mantra agar Durgasani tidak bisa mendekat padamu. Tapi tetap saja kalian itu satu, kemanapun kamu pergi . Durgasani akan selalu mengikutimu"

__ADS_1


Akhirnya aku sekarang paham, kenapa semua orang yang dekat denganku selalau celaka. Karena Durgasani ingin aku sendirian sepertinya, agar aku pada akhirnya menyerah dan mau mengikutinya.


"Apa ada cara agar saya bisa lepas darinya?" tanyaku berharap.


"Lenyapakan dia," jawab Sapto Aji dengan wajah keras.


"Caranya?"


"Dengan keris kemuning, dia bisa dilenyapkan dengan keris kemuning," jelas Sapto Aji.


Lalu akupun mengingat keris yang tempo hari aku temukan di ruang pribadi Bapak saat kesana dengan Adit.


"Saya mempunyai kerisnya, keris itu saya temukan di ruang pribadi Bapak dulu," ucapku . Rasanya ada harapan untuk membuatku terbebas dari siluman ular itu. "Apa dengan keris itu saya benar- benar bisa melenyapkannya?"


Tapi sapto Aji hanya bergeming tidak menjawabnya.


****


Waktu sudah menjelang magrib saat kami akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum pulang Sapto aji membisikan sesuatu padaku. Sesuatu yang membuatku seperti merasa aku tidak akan punya kesempatan.


****

__ADS_1


__ADS_2