Marlangen

Marlangen
BAB 30


__ADS_3

"ANAK IBILIISS."


Ibuku terus-terusan mengatakan kata-kata itu sambil terus mengacungkan pisaunya ke arahku, aku begitu takut dan sedih. Luka tusuk di punggungku membuatku kehilangan banyak darah yang menyebabkan aku lemas. Ibu masih saja berusaha melukaiku. Kali ini beliau hampir menusuk mataku, untungnya aku bisa menghindar. Tapi ibu tidak berhenti disitu, Ibu menyabet lenganku menggunakan pisaunya yang membuat darahku kembali mengucur dari luka baru itu. Aku meringis kesakitan.


"Buu sadar bu, Langen anak Ibu," ucapku parau.


Jujur aku sudah sangat kepayahan, tenagaku hampir habis setelah bergelut dengan Ibu yang seperti orang kesetanan.


"Dari dulu harusnya kamu mati!!" ujar Ibuku.


Tidak sengaja aku melihat wajahnya yang dihiasi air mata seakan ia melakukan semua ini bukan atas keinginannya. Apakah aku harus menyerah saja, menyerah pada keadaan ini. Mungkin dengan aku mati tidak akan ada lagi yang terluka karena aku. Aku melirik Sella yang masih terkapar, bahkan Sella harus terluka demi aku.


Akhirnya aku berhenti melawan dan mencoba pasrah.


"Bu, kalau memang dengan membunuh Langen Ibu jadi bahagia. Langen rela," lirihku putus asa.


Aku melihat wajah Ibu yang begitu sedih, tapi ibu tetap mengacungkan pisaunya dan bersiap menancapkannya ke tubuhku, aku sudah menutup mataku. Tapi Ibu tak kunjung melakukannya. Akhirnya aku memberanikan diri membuka mataku, alangkah kagetnya aku saat melihat Ibu sudah melayang dengan posisi berdiri.


Ibupun seperti terkejut sekali, tangannya yang memegang pisau mulai bergerak menuju bagian wajahnya. Ibu menggores gores wajahnya dengan pisau sampai wajah cantik itu menjadi berdarah-darah. Aku menjerit menyaksikan semua itu, aku berusaha menolong Ibu. Tapi tubuhku seakan terpaku ditempat, aku tidak bisa bergerak.

__ADS_1


Aku menjerit meminta tolong saat Ibu membuka baju bagian atasnya dan mulai mengiris iris perlahan payudaranya, tidak sampai disitu saja. Ibu juga menggorok lehernya sendiri hingga darahnya bermuncratan kemana-mana.


Rasanya suaraku sudah habis untuk berteriak meminta tolong, tapi tidak ada satupun tetangga yang datang menolong.


"Ibuu berhentii bu, Langen mohon!" teriakku histeris.


Tapi ibu tetap melakukam kegiatan abnormalnya itu, seperti tidak merasa kesakitan. Kini pisau itu berpindah pada perutnya. Ibu membelah perutnya sendiri dan mengeluarkan ususnya. Aku sudah tidak sanggup lagi melihatnya dan ditambah dengan luka-luka ditubuhku yang membuatku kehilangan banyak darah akhirnya akupun pingsan.


******


Aku mendengar sayup-sayup orang sedang berbicara, saat akhirnya aku bisa membuka mataku. Aku melihat ruangan yang semuanya berwarna putih. Aku pikir kini aku sedang berada di kamarku, sampai wajah Sella terlihat di sebrang ranjang.


"Aku ada dimana, Sel?" tanyaku lemas.


"Lo ada dirumah sakit," ucapnya dengan wajah murung.


Lalu ingatan tentang malam itu menyeruak kembali.


"Dimana Ibu?" tanyaku histeris.

__ADS_1


Sella hanya diam saja, akhirnya aku mencoba bangun meskipun badanku rasanya sangat sakit.


"Lo jangan bangun dulu, Langen," ujar Sella panik.


Karena teriakan histeris Sella, Om Bagas dan Adit yang ternyata berada diluar kamarpun masuk dan ikut mencoba menenangkan aku.


"Om, Ibu dimana?" tanyaku yang sudah mulai tenang.


"Langen, kamu sabar ya. Ibu kamu sudah tidak ada," jawab Om Bagas dengan suara parau.


Aku yang tadi sudah mulai tenangoun menjadi histeris lagi mendengar kabar itu. Rasanya aku benar-benar hanncur harus kehilangan lagi sosok orang tua dengan cara tragis.


"Ibuu, maafin Langen," ucapku berkali-kali dengan air mata yang terus saja menetes tanpa bisa aku bendung.


Sella memelukku dan ikut menangis bersamaku. Dia juga pasti sangat tahu rasanya kehilangan Ibu.


Adit hanya diam membisu sambil menatapku dengan tatapan sedih sekali.


*****

__ADS_1


__ADS_2