
Semalaman aku tidak bisa memejamkan mataku setelah membaca pesan di cermin yang ada di dalam kamar.
Apakah ini perbuatan iseng Sella atau memang sesuatu yang lain? Sesuatu yang jahat, yang belakangan ini terus saja mengusikku.
Entah kenapa setelah kepergian bapak hal-hal ganjil selalu menimpaku, aku tahu dari dulu aku memang sudah diberi kelebihan untuk melihat mereka yang tak kasat mata. Tapi sekarang rasanya banyak hal diluar nalar lainnya yang membuatku benar-benar ketakutan.
*****
Aku kembali memegang leherku yang sedari pagi ada lebam biru yang aku tidak tahu bagaimana bisa lebam itu berada di leherku. Saat tanganku meraba leher, tidak sengaja aku memegang bandul kalungku yang berbentuk kunci berukuran sedang.
Aku tidak tahu kenapa bapak memberikan kalung ini, tapi aku merasa kalung ini memberiku ketenangan. Pada saat aku sedang memilin bandul kalungku, tiba-tiba suara senandung itu datang lagi. Senandung tempo hari saat Sella berteriak tentang ular raksasa.
Kamarku rasanya menjadi sangat dingin dan entah kenapa aku menjadi sangat takut, ingin rasanya aku berlari keluar kamar tapi badanku rasanya sangat lemas.
Gorden jendela kamarku juga tiba-tiba bergerak sendiri dan saat mataku tidak sengaja menatap jendela. Sosok wanita setengah ular itu berada disana, menyeringai dengan wajah yang dipenuhi sisik dan mata putih seluruhnya.
Ingin aku memalingkan mataku dari wajahnya, tapi entah kenapa justru aku seperti terkunci. Aku bahkan tidak bisa menggerakan badanku.
Kini sosok wanita itu terlihat menembus jendela kamar dan terus berjalan mendekatiku. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana, tidak ada sedikit pun suara yang bisa keluar dari mulutku untuk berteriak memanggil om Bagas.
****
__ADS_1
Aku bisa melihat lidah wanita setengah ular itu menjulur ke arahku, sangat panjang. Tangannya yang tampak lentik juga berusaha menyentuh leherku.
Saat mataku beradu dengan matanya dan tangannya sudah berhasil menyentuh leherku tiba-tiba dia mundur dengan cepat dan meraung seperti orang kesakitan.
Saat dia sedang meraung-raung, akhirnya tubuhku bisa digerakan. Aku pun berniat lari keluar kamar namun tiba-tiba ada sesuatu menjegalku dan membuatku jatuh tersungkur. Saat aku berbalik, ternyata ekor ularnya yang sudah membuatku tersungkur.
*****
Tiba-tiba pintu kamarku dibuka oleh seseorang yang ternyata adalah om Bagas.
Om Bagas langsung berlari kearahku yang kini tertelungkup di lantai dan membantuku bangun lalu memapahku ke ranjang.
Sesaat aku pikir om Bagas akan melihat sosok wanita setengah ular itu, tapi ternyata sosok mengerikan itu sudah lenyap.
Ingin rasanya aku menceritakan apa yang sudah aku alami barusan, tapi pasti om Bagas akan menganggap itu semua hanyalah mimpi belaka. Jadi aku pun memilih untuk menutupinya.
"Langen cuma kepleset kok Om, nggak ada yang perlu di kuatirkan," jawabku dengan senyum simpul.
Om Bagas awalnya menatapku curiga, tapi setelahnya dia hanya mengangguk seraya pamit untuk ke kamarnya sendiri.
*****
__ADS_1
Hari ini aku tidak berangkat ke kampus, badanku masih lemas. Tapi lebam di leherku sudah benar-benar hilang.
Adit dan Amel sempat menelfonku menanyakan kenapa hari ini aku tidak berangkat kuliah, aku jawab sedang tidak enak badan.
Sebenarnya Adit juga ingin menjengukku tapi aku tidak memperbolehkannya, karena aku malu harus bertemu Adit saat keadaanku pucat begini.
Tapi saat Amel yang ingin menjengukku, aku pun langsung meng-iyakan.
Siangan Amel sampai dirumah om Bagas dan langsung diantar tante Rani ke kamarku.
"Lo keliatan pucat banget, Langen," ucapnya sesaat setelah masuk di kamarku.
"Namanya orang sakit ya pucet lah, Mel," jawabku dengan tersenyum.
Amel menemaniku sampai sore, aku bersyukur punya teman seperti Amel yang pandai sekali mencairakan suasana. Aku jadi lupa sementara dengan semua kegelisahanku.
*****
Badanku sudah mendingan sekarang, sebenarnya om Bagas akan membawaku ke dokter tapi aku bersikeras tidak mau. Ini bukanlah sakit yang dokter bisa menyembuhkan.
Saat aku ingin beristirahat, aku mendengar suara mobil di depan rumah om Bagas. Karena penasaran aku pun mengintip di jendela.
__ADS_1
Ternyata itu Sella dengan seorang laki-laki yang mungkin adalah pacarnya karena mereka sangat mesra. Tapi tatapanku terpaku pada sosok dibelakang Sella, sosok pocong dengan wajah hitam.
*****