
Perjalananku dan Adit pulang ke Jakarta diiringi oleh hujan deras. Aku selalu menanyakan kondisi Adit, aku kuatir dia kecapean.
"Dit mending kita istirahat dulu di pom bensin, aku nggak mau kamu kecapean," pintaku.
"Aku nggak cape kok, Langen. Kamu santai aja," balas Adit sambil tetap fokus menyetir.
"Pokoknya nanti kalo ada pom bensin kita berhenti!!" perintahku dengan nada sedikit keras.
"Ya ampun Langen bisa galak juga nih, kalo nanti jadi istriku jangan galak-galak ya," ujarnya santai sambil terkekeh.
Aku tidak menjawabnya, untung didalam mobil tidak terlalu terang jadi Adit tidak melihat wajahku yang merah seperti tomat. Aku tahu Adit hanya bercanda, tapi jantungku benar-benar berdegup kencang.
Kami berhenti di sebuah pom bensin yang ada minimarketnya. Kami tentu saja lapar karena terkahir makan tadi siang saat aku dan Adit mampir di rumah makan padang.
Adit keluar menggunakan payung yang dia taruh di jok belakang, sebelumnya dia tanya pesananku. Saat adit sedang keluar ke minimarket, aku kembali membuka kotak kayu itu. Tapi sebelum aku membukanya, aku menyayikan kidung yang biasa aku senandungkan dikala aku merasa takut.
Ana kidung rumeksa ing wengi
Teguh ayu luputa ing lelara
Luputa bilahi kabeh
Jin setan datan purun
__ADS_1
Peneluhan tan ana wani
Miwah panggawe ala
Gunaning wong luput
Geni atemahan tirta
Maling adoh tan ana ngarah mring mami
Guna duduk pan sirna.
Entah kenapa sesaat setelah aku manyanyikan kidung itu perasaanku merasa aman dan tenang. Akupun membuka kotak kayu itu menggunakan bandul kalungku. Aku menyentuh hati-hati keris berwarna kuning keemasan itu, keris yang indah tapi membuatku bergidik setiap menyentuhnya.
"Dingin banget diluar." Keluh Adit dengan merapatkan jaketnya.
"Maaf ya gara-gara aku kamu jadi susah begini," ujarku tidak enak.
"Jangan bilang gitu, Langen. Masalah kamu, masalahku juga," ucapnya sembari membuka bungkusan snack.
"Terimakasih," balasku tulus.
Hampir dua jam aku dan Adit berada di pom bensin itu, akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta.
__ADS_1
******
Aku sampai dirumah Om Bagas sektar jam Enam pagi, saat Om Bagas tanya kenapa pagi sekali aku pulang. Aku menjawab bahwa keluarga Amel sudah pulang.
Setelah berada di kamar aku menaruh kotak kayu berwarna coklat itu di atas meja belajarku. Badanku terasa sangat cape, akupun memilih untuk tidur. Kebetulan hari ini aku libur kuliah jadi aku bisa menghabiskan waktu untuk tidur.
Aku tidak tahu berapa lama aku memejamkan mata, saat aku terbangun mataku langsung tertuju pada bayangan seseorang yang sedang berdiri di sebelah ranjangku. Akupun bangkit dari tidurku. Tenyata yang aku lihat adalah Bapak tanpa kain kafan, Bapak dengan wujud seperti saat akan menidurkan aku dulu. Tanpa pikir panjang akupun memeluk Bapak.
"Bapakk, Langen kangen," ucapku sambil terisak. Aku benar- benar merindukan Bapak.
"Jah ayu, kamu sudah menemukan kerismu. Nasibmu ono neng tanganmu," ujar Bapak dengan mengelus rambutku lembut.
"Langen kudu piye, Pak?" tanyaku
"Ojo wedi, kamu anak seng kuat, Nduk. Maaf Bapak wes rabiso njaga awakmu. Bapak sayang koe, Nduk. Bapak pamit yo," ucap Bapak sambil berdiri menjauh dariku.
Aku berusaha menggapai Bapak dan berteriak memanggil namanya , tapi bayangan Bapak semakin memudar.
Aku terbangun dengan wajah basah karena air mata, mimpi yang terasa sangat nyata. Kenapa aku merasa kali ini Bapak sudah benar-benar pergi dari sisiku. Aku merasa sendirian, aku merasa tidak ada tempatku bergantung. Haruskah aku menjalani semua ini sendirian?
"Bapak, Langen janji bakal jadi orang yang lebih kuat. Langen sayang Bapak" kataku lirih sambil terisak.
****
__ADS_1