
Aku masih duduk termenung didepan kamar Ibu dirawat, sudah tidak ada lagi suara teriakan Ibu yang menyakitkan. Kata Dokter, Ibu sudah disuntik dengan obat penenang.
"Leher kamu lebam dan ada luka cakaran, lebih baik kita obati dulu," ucap Adit khawatir.
Aku masih tetap bergeming, rasa sakit dileherku tidak ada apa-apanya dibanding luka hatiku. Ibu kandung yang selama Delapan Belas tahun baru aku temui justru ingin membunuhku.
"Maaf, bisa ikut keruangan saya?" ucap Dokter setelah keluar dari kamar rawat Ibu.
"Gimana dengan Ibu saya, Dok?" tanyaku histeris.
"Lebih baik kita obrolkan diruangan saya," balas Dokter itu sambil berjalan melewatiku.
Aku dan Aditpun mengikutinya.
Sesampainya diruangan Dokter itu, tanpa basa-basi akupun menuntut jawaban atas pertanyaanku tadi.
"Sudah sangat lama Ibu Wulan tidak pernah histeris lagi seperti ini. Sudah hampir Delapan Belas tahun. Terakhir Bu Wulan seperti itu adalah saat beliau untuk pertama kalinya dibawa kemari oleh Pak Ageng," ungkap Dokter yang sekarang sedang duduk dengan wajah heran.
"Keadaan Ibu saya sebelumnya apa baik-baik saja?" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Sangat baik-baik saja bahkan bagi saya Bu Wulan sudah sembuh total dari gangguan jiwanya. Tapi Pak Ageng bersikeras untuk tetap menempatkan Bu Wulan disini."
"Tapi kenapa sekarang Bu wulan terlihat hilang kendali seperti tadi, Dok?" tanya Adit yang sedari tadi hanya diam.
"Itu yang saya heran, kenapa setelah sekian lamanya Bu Wulan kambuh lagi," jawab sang Dokter.
******
Setelah menghabiskan waktu Dua jam di rumah sakit jiwa akhirnya aku dan Adit pun pulang ke Jakarta. Sebelumnya aku melihat keadaan Ibu yang kini sedang tidur pulas karena efek obat penenang.
"Bu, Langen pulang. Nanti pasti Langen akan kesini lagi," gumamku parau.
Disaat aku sedang memikirkan Ibu, tiba-tiba wanita yang duduk di bangku sebelahku mengajak bicara.
"Asli semarang, Mba?" tanya wanita itu tapi tatapannya terus kedepan tanpa menengokku.
"Bukan, Mba," jawabku singkat karena aku benar-benar sedang tidak ingin berbicara.
"Saya kira Mba asli sini, saya juga bukan asli sini tapi terpaksa berada disini," balasnya tanpa aku tanya.
__ADS_1
"Kalau terpaksa kenapa tidak memilih pindah saja?" tanyaku lagi yang mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
"Karena saya sedang mencari sesuatu, Mba," jawabnya dengan tetap memandang ke depan.
"Cari apa, Mba?
"Cari bola mata saya, Mbak," jawab wanita itu sembari memalingkan wajahnya ke arahku.
Ternyata dia bukanlah manusia, wajahnya hancur separuh dengan kulit penuh darah dan nanah. Bola matanya pun hilang sebelah. Dia menyeringai padaku dan memperlihatkan gigi berwsrna hitam yang berbau busuk.
Akupun terlonjak kaget dan langsung memalingkan wajahku ke arah lain.
******
Kami sampai di Jakarta pukul Sebelas malam, rasanya letih bolak-balik Jakarta-Semarang tanpa istirahat. Aditpun mengantar aku kerumah Om Bagas, aku melihat rumah Om Bagas sudah gelap menandakan penghuninya sudah tidur.
Akupun masuk menggunakan kunci serep yang aku bawa dan langsung menuju kamar. Hari ini tenagaku benar-benar habis, mungkin sebaikanya aku akan menjelaskan pada Om Bagas tentang Ibu yang masih hidup besok pagi saja. Sebelum terlelap aku tidak kupa menyanyikan kidung penghantar tidurku.
*****
__ADS_1