
Aku sampai rumah dengan perasasn tidak karuan. Perasaan yang sama saat pertama kali Bapak pulang kerumah setelah dimakamkan, takut. Aku tidak tahu kenapa aku bisa setakut ini padahal aku pernah melihat penampakan yang lebih mengerikan dibanding penampakan Bapak atau Ibu.
Aku bergegas ke kamarku, rumah masih sepi karena Om Bagas dan Sella belum pulang. Saat aku membuka kamarku, rasa takutku bertambah ketika aku melihat tulisan seperti tempo hari. Tulisan yang ditulis dengan warna merah darah .
KOE ORA BAKAL BISO MLAYU!
[Kamu tidak akan bisa lari]
Aku langsung mengahapus pesan itu menggunakan tisu dengan tangan gemetar. Setelah selesai aku langsung memutuskan berkemas untuk pergi ke rumah Sapto aji, sahabat Bapakku. Aku tidak bisa seperti ini terus-terusan. Merasa ketakutan dan tertekan.
Saat aku sedang berkemas tiba-tiba ada panggilan masuk. Ternyata nomer Amel, mau apa lagi dia. Apa dia tidak puas sudah membuatku hampir di celakai Karla?
Tapi aku tetap mengangkat panggilan telfon itu.
"Hallo," ucapku dingin.
"Gue takut, Langen. Gue takut akan senasib dengan Bayu ditambah teror yang gue terima dari kamarin. Jadi gue terpaksa gunain Karla untuk celakain lo. Gue nyesel, tolong hentikan teror ini." Cecar Amel dengan suara terisak .
Aku tidak paham apa yang dia ucapkan, dan kenapa dia menangis.
"Aku nggak paham apa yang kamu ucapin, Mel," balasku heran.
"Gue minta maaf kalo udah nyakitin lo, gue lebih milih mati dengan cara gue sendiri dari pada harus di teror tiap hari menunggu mati," ujar Amel masih dengan terisak.
Saat Amel sedang bicara aku juga mendengar sayup-sayup suara kereta.
__ADS_1
"Mel, kamu dimana sekarang?" tanyaku sembari berjalan cepat keluar kamar.
"Gue di rel kereta deket kampus," jawab Amel sembari menutup telfonnya.
Saat aku sedang panik dan keluar rumah untuk menyusul Amel ternyata Sella baru pulang.
"Mau kemana lo kok kayaknya buru-buru banget?" tanya Sella.
"Kebetulan, Sel kamu udah pulang. Anterin aku sebentar ke rel kereta deket kampus. Tolong," balasku memohon.
Mungkin karena Sella melihatku seperti orang sedang kalap akhirnya tanpa tanya- tanya lagi Sella masuk mobil lagi diikuti olehku. Didalam perjalanan aku mencoba menelfon Amel tapi tidak aktif, aku menoba berkali-kali tapi tidak aktif juga.
Setelah sampai di rel kereta api dekst kampus, Sella memarkirkan mobilnya ditempat yang aman .
Seperti paham apa yang aku maksud Sella pun sudah berbalik lari begitu juga aku yang lari dengan panik mencari keberadaan Amel.
Semoga aku tidak terlambat, semoga aku masih bisa bertemu Amel. Setelah beberapa menit berlari-lari dengan panik sambil memanggil nama Amel akhirnya aku menemukannya.
Aku melihat Amel sedang berdiri di tengah rel kereta. Padahal dari arah belakangnya ada kereta sedang berjalan. Meskipu terlihat masih jauh, tapi aku tahu Amel tidak akan berusaha menghindar.
Aku berteriak menyuruH Amel menyingkir tapi Amel hanya diam seperti patung.
"AMEL AWAASSS!!"
Aku mendorongnya ke samping rel sebelum kereta berwarna putih itu menggilas Amel. Aku mengaduh sakit karena tubuhku terpelanting membentur kerikil pinggir rel. Amel yangs sudah susah payah aku tolong justru meronta-ronta seperti orang kesetanan.
__ADS_1
"PLAAK...."
Akupun menamparnya yang membuat Amel terkejut. Tapi karena tamparanku Amel justru menangis.
"Harusnya lo biarin gue mati ketabrak kereta" Isaknya yang membuatku menjadi trenyuh.
"Kamu kenapa sih, Mel? Kenapa pengen mengakhiri hidup?" tanyaku hati-hati.
"Kalo gue nggak bunuh diri, gue bakal tetap mati tragis, Langen," jawabnya dengan memeluk lututnya sendiri.
Amel benar-benar terlihat sangat ketakutan dam tertekan.
"Siapa yang neror kamu, Mel?"
"Gue nggak tau, dari kemarin beberapa kali tas gue ada yang ngisi ular. Beberapa kali ada yang nulis ancaman dengan darah di cermin kamar gue," jelas Amel yang sudah mulai tenang.
"Pesan seperti apa?" tanyaku lagi meskipun aku sudah tahu pesan seperti apa yang di maksud Amel.
Amelpun mengeluarkan smartphonnya dan menunjukan sebuah foto padaku. Ternyata dugaanku benar, pesan itu smaa seperti yang aku dapatkan hanya berbeda kata-katanya saja.
Sudah cukup, semua ini membuatku muak. Aku akan menghentikan siapapun yang sudah menterorku dan mencelakai orang-orang terdekatku.
Hal pertama yang harus aku lakukan adalah menemui Sapto Aji.
****
__ADS_1