Marlangen

Marlangen
Hantu Muka Rata


__ADS_3

Kalian tahu apa yang paling tidak aku sukai? Aku tidak suka hujan dan petir. Karena mereka yang kalian sebut makhluk tak kasat mata akan ikut berteduh di dalam rumah.


Kalian mungkin akan menertawakan aku, kalian pasti tidak akan percaya bahwa makhluk tak kasat seperti mereka juga butuh berteduh.


Terserah kalian mau percaya atau tidak karena aku pernah mengalaminya. Salah satunya sore ini, ketika sebagian Jakarta sedang diguyur hujan lebat.


***


Aku sedang memainkan gawai ku, melihat layar dengan senyum simpul. Bertukar pesan whatsapp dengan Adit memang membuatku sedikit lupa akan hal yang akhir-akhir ini menyita pikiranku.


Hubunganku dengan Adit memang bukanlah hubungan romantis , dia hanya menganggapku teman dan aku pun sebaliknya.


Dia laki-laki yang baik, kadang membuatku tertawa. Suatu hal yang dulu jarang sekali aku lakukan. Saat bersamanya membuatku merasa seperti gadis yang normal.


Aku juga merasa bahagia, saat menghabiskan waktu dengannya. Walau hanya sekedar makan di kantin kampus, atau saat dia mengantarku pulang.


***


Suara gemrisik air mulai terdengar keras, aku pun langsung menutup jendelaku. Saat aku sudah berbaring lagi di tempat tidur, tiba-tiba sesosok perempuan masuk kekamarku dengan menembus atap kamar. Sekarang dia berdiri di pojokan dekat pintu kamar.


"Ikut neduh, Mba," ucapnya lirih.


Aku hanya bergeming tidak menjawabnya, sosok wanita itu terus menunduk dengan rambut yang menutupi wajahnya.


"Kamu siapa?" tanyaku dengan suara dingin yang memang sering aku pakai saat bertemu dengan makhluk-makhluk seperti mereka.


"Aku Ratih," jawabnya singkat sambil perlahan menunjukan wajahnya padaku.


Aku benar-benar terkejut saat melihat wajahnya yang ternyata rata. Tanpa mata, hidung dan bagian lainnya. Aku pun langsung berpaling menatap gawaiku lagi. Rasanya merinding melihat wajahnya yang rata begitu.


Hampir setengah jam dia berdiri dipojokan dan beberapa kali aku pun curi-curi pandang ke arahnya. Saat hujan mulai reda sosok wanita itu pun sudah menghilang.


*****


Karena sudah sore, aku pun bergegas untuk mandi, aku keluar dari kamar menuju kamar mandi di lantai dua yang terletak di sebelah kamar Sella. Saat aku melewati kamarnya tiba-tiba Sella juga keluar.


"Lo bisa nggak, berhenti nyanyi lagu-lagu aneh? Gue bisa budeg dengerin suara lo!" bentaknya


Aku heran dengan ucapan Sella, padahal aku tidak habis bernyanyi apapun . Saat malam aku menyenandungkan tembang jawa yang bapak ajarkan padaku saja, aku menyanyi dengan sangat lirih. Bagaimana Sella mendengarnya .


"Kapan kamu dengernya, Sel?" tanyaku dengan bingung.

__ADS_1


"Barusan lah, udah deh lo mending mulai sekarang brenti nyanyi begituan. Bikin kuping gue sakit aja!" ucapnya lagi sambil menutup pintu kamarnya dengan kasar.


Aku bertambah heran karena aku tidak merasa baru menyanyi. Dari tadi aku hanya tiduran sambil main handphone. Apa mungkin hantu wanita tadi? Tapi kalau pun hantu tadi yang menyanyi, pasti aku juga mendengarnya.


Sudahlah mungkin Sella yang salah dengar, lalu kuputuskan untuk melanjutkan niatku mandi.


*****


Aku mandi dibawah guyuran shower, meskipun habis hujan aku tidak merasa kedinginan. Saat sedang asyik mandi sambil memejamkan mataku, tiba-tiba aku mencium bau busuk.


Ketika aku membuka mataku ternyata air shower yang kugunakan untuk mandi, berubah menjadi darah yang kehitaman. Aku pun menjerit sekuat yang aku bisa.


"Langen, kamu baik-baik saja?" tanya suara di balik pintu yang terdengar khawatir.


Aku pun langsung mengambil handuk dan menghambur keluar dari kamar mandi. Ternyata di depan kamar mandi sudah ada tante Rani yang terlihat khawatir, juga Sella yang melihatku curiga.


"Tante, air showernya berubah jadi darah." Aduku dengan sedikit terisak.


Sella mencoba melongok kedalam kamar mandi dan mematikan showernya. Lalu saat dia kembali keluar, dia menatapku jengkel.


"Lo gila, ya? mana ada darah?!" tanya Sella kasar.


Sella menarik tanganku dan membawaku kembali ke kamar mandi. Dia juga menyalakan showernya lagi.


"Tuh liat, mana ada darah heh? Dasar cewek aneh!" bentaknya kesal dan meninggalkanku bersama tante Rani.


"Mungkin kamu sedang kecapean jadi berhalusinasi. Lebih baik kamu istirahat saja dikamar ya," ucap tante Rani dengan suara lembutnya.


Aku ingin membantahnya bahwa yang aku lihat tadi nyata. Tapi percuma saja, tidak akan ada yang percaya padaku. Sedih rasanya sekarang tidak ada seorang pun yang bisa mengerti aku seperti bapak.


Bapak, langen kangen.


****


Aku mencoba memberanikan diri kembali mandi. Entah kenapa, aku merasa takut. Biasanya jika ada lelembut yang usil padaku, aku merasa biasa saja karena memang aku sudah sering melihat penampakan mereka.


Tapi ini berbeda, ada aura yang begitu negatif. Yang akhir-akhir ini selalu mengikutiku, membuatku kadang merasa pusing.


Ku coba membuka shower itu lagi, tidak ada darah berbau busuk seperti tadi. Aku pun mandi dan mencoba fokus untuk tidak memikirkan hal-hal negatif.


Setelah selesai, aku pun beranjak ke kamarku. Saat melewati pintu kamar Sella lagi, aku berhenti dan menatapnya.

__ADS_1


Dari dalam kamarnya terdengar Sella sedang bercakap-cakap, mungkin dia sedang menelfon pacar atau temannya.


Aku berharap suatu saat nanti, aku dan Sella aku berbaikan. Dia satu-satunya sepupu yang aku punya. Bagaimana pun perlakuannya, aku sayang padanya.


***


"Langen, waktunya makan malam," panggil tante Rani dari balik pintu kamarku.


"Iya, Tante," jawabku sembari beranjak untuk membuka pintu.


Saat aku membuka pintu, ternyata di depan kamarku kosong tidak ada tante Rani atau siapa pun.


Tidak mungkin tante Rani akan menghilang secepat itu, karena letak kamarku dan tangga lumayan jauh jaraknya.


Tiba-tiba aku merasakan udara dingin di sekitarku, membuatku merinding. Akhirnya, aku pun memilih untuk turun ke bawah menuju ruang makan.


Ternyata di sana sudah ada om Bagas dan Sella yang sedang duduk di kursi makan, bau harum masakan membuat perutku keroncongan.


"Baru saja Om mau ke kamarmu, Langen," ucap om Bagas saat melihatku bergabung ke meja makan.


Aku sempat melirik ke arah dapur, di sana tante Rani sedang sibuk memasak. Jadi memang tadi bukanlah tante Rani.


"Langen, kenapa diam saja? Duduk sini," perintah om Bagas yang menyentakanku.


"Iya, Om," balasku sembari duduk.


Aku duduk di kursi sebelah Sella, saat Sella memandangku, aku pun coba mengulas senyum. Tapi Sella justru menanggapiku denga jutek.


Aku tidak tahu kenapa Sella seakan sangat membenciku, rasanya benar-benar sedih di benci oleh saudara sendiri.


"Makanan sudah siap," ujar tante Rani sembari berjalan membawa mangkok besar di tangannya.


"Baunya harum banget, Mah. Pasti enak." Puji om Bagas yang membuat tante Rani senyum-senyum.


"Masakan Mamah, emang paling the best," ucap Sella dengan mengacungkan dua jempolnya.


Kami pun tertawa bersama dan menikmati makan malam yang sudah tante Rani siapkan.


Rasanya sangat bahagia, andai saja aku bisa begini dengan kedua orang tuaku. Entah kenapa, aku benar-benar iri pada Sella.


****

__ADS_1


__ADS_2