
Suasana yang tadinya tenang dan nyaman mendadak geger karena kabar dari pria muda yang barusan memberi kabar perihal kematian seseorang yang dijadikan tumbal pesugihan.
Perempuan setengah baya yang di datangi pria muda itupun menjerit tertahan sembari menangis, mungkin yang meninggal adalah suami atau sanak keluarganya. Ingin sekali aku mengikuti mereka, tapi aku tidak enak.
Akhirnya karena kondisi yang menjadi tegang, kamipun memutuskan untuk kembali ke Villa. Ternyata disana sudah ada Bi Imah yang sedang menyiapkan makan siang.
"Baru dateng, Bi?" tanya Aldi dengan menghempaskan diri ke kursi makan.
"Iya, Den. Tadi bibi kerumah Ceu Uus dulu soalnya suaminya meninggal mendadak," jawab Bi Imah sambil tetap memasak.
"Kecelakaan Bi?" tanyaku penasaran.
"Bukan, Non. Kaya yang sudah-sudah sepertinya jadi tumbal pesugihan"
"Udah lah, Bi. Jangan ngarang cerita begitu nanti temen-temenku nggak betah disini," tegur Aldi Bete.
Bi Imah langsung terdiam, mungkin karena takut kena omel lagi.
Saat teman-temanku yang lain beranjak ke ruang tengah untuk menonton tv, aku tetap berada di ruang makan yang menyatu dengan dapur.
"Yang barusan meninggal kondisinya juga sama seperti yang sudah-sudah Bi?" tanyaku sembari melangkah ke dapur untuk mengambil minum.
"Iya, Non. Sama persis. Padahal kata Ceu Uus istrinya Kang Tatang yang barusan meninggal, pas dia ke kebun teh. Kang Tatang masih baik-baik saja, nggak ada tanda sedang sakit"
"Sebenarnya saya pengen melayat, Bi. Tapi nggak enak soalnya saya bukan warga kampung sini"
"Nanti ikut aja, Non ke pemakaman. Kebetulan area pekuburan di belakang kebun teh ini jadi nanti rombongan pengantar jenazahnya juga lewat sini," ujar Bi Imah sembari mencuci sayuran yang akan dimasak.
__ADS_1
Akupun kembali ke ruang tv menyusul teman-temanku yang lain.
******
Hari menjalang sore saat aku sedang santai di taman bersama Sella dan Amel. Terlihat rombongan pelayat yang mengiringi keranda berselimut kain hijau. Mungkin ini adalah jenazah orang yang diduga sebagai korban pesugihan.
Tapi mataku tertuju pada bagian paling belakang dari rombongan, aku melihat laki-laki paruh baya yang dibelakanganya diikuti oleh seekor kuda yang tampak lebih besar dari kuda yang biasa aku lihat. Kuda itu berwarna hitam dengan mata merah menyala. Aku tahu itu bukanlah kuda biasa, itu pastilah siluman kuda atau apapun yang berhubungan dengan teror pesugihan di kampung ini. Dan laki-laki yang diikutinya itu pastilah orang yang melakukan pesugihan.
Aku bergegas memanggil Bi Imah yang ada di dapur dan langsung membawanya ke Taman.
"Bi, laki-laki yang paling belakang itu siapa ya?" tanyaku pada Bi Imah dengan menunjukan seseorang yang ku maksud tanpa terlihat mencolok.
"Oh, itu juragan Jamal. Orang paling kaya di desa sini, Non. Kenapa atuh?" Bi Imah balik bertanya padaku dengan wajah polosnya.
"Nggak apa-apa kok Bi, cuma penasaran aja," kawabku kalem.
******
Keesokan harinya Bi Imah datang ke villa dengan mata sembab. Saat aku tanyai dia hanya bergeming.
Seperti biasa setelah menyiapkan sarapan Bi Imah mohon ijin pulang.
Hari ini kami berencana jalan-jalan ke dalam desa, kata Aldi didesa ada seperti semacam danau yang bagus untuk tempat foto. Mendengar itu tentu saja Sella dan Amel bersemangat sekali.
Kami pergi ke desa dengan berjalan kaki. Saat sedang berjalan menuju danau aku melihat satu rumah yang sangat berbeda dengan rumah lainnnya. Rumah itu besar dan mewah, meski tidak sebesar villa Aldi tapi rumah itu bertolak belakang dengan rumah penduduk yang lain.
Aku jadi ingin mampir ke rumah Bi Imah. Melihatnya dengan mata sembab seperti tadi perasaanku jadi ikut tidak enak.
__ADS_1
"Al aku nggak jadi ikut ke danau, aku mau main ke rumah Bi Imah aja. Rumahnya yang mana ya?" tanyaku.
"Kok lo malah nggak ikut sih, Langen?" ujar Sella cemberut.
"Iya nih nggak asik," gerutu Amel.
"Mau aku temenin kerumah Bi Imah?" tanya Adit berbaik hati.
"Nggak usah, Dit. Kamu ke danau aja sama yang lainnya. Maaf ya, Sel, Mel," ucapku tidak enak.
Akhirnya Aldi menunjukan rumah Bi Imah yang terletak tidak jauh dari belokan ke arah danau. Akupun mengetuk pintu rumah Bi Imah dan yang membuka seorang anak kecil seusia anak SD. Pasti ini anak bungsu Bi Imah, pikirku.
"Bi Imah ada, Dek?" tanyaku ramah.
"Ada, mari masuk," jawab anak kecil itu juga dengan ramah.
Akupun duduk di ruang tamu rumah Bi Imah yang sangat sederhana. Saat Bi Imah menemuiku, dia masih terlihat sembab. Seperti baru saja menangis. Akupun bertanya masalah apa yang membuat Bi Imah sampai terus-terusan menangis. Disitu akhirnya Bi Imah cerita bahwa suaminya ternyata punya hutang banyak pada Juragan Jamal untuk judi, semalam Juragan Jamal kesini dengan centengnya untuk menagih. Bi Imah kelihatan takut.
"Orang-orang disini kalau butuh uang pasti pinjem di Juragan Jamal, Non. Kan dia orang paling kaya disini," ucap Bi Imah masih terisak.
"Termasuk orang-orang yang meninggal tidak wajar seperti kemarin?" tanyaku.
" Iya, Kang Tatang juga hutang dan dia nggak sanggup bayar jadi dia sempet di caci maki sama centengnya Juragan Jamal"
Jadi orang itu menjadikan orang-orang yang berhutang padanya untuk di jadikan tumbal. Entah kenapa ada rasa marah dalam hatiku.
Setelah cerita panjang lebar akupun pulang sendirian ke vila, saat berjalan pulang aku melewati rumah juragan Jamal lagi.
__ADS_1
"Kamu bakal kena karma, Jamal!" gumamku tanpa aku sadari.