
Keesokan harinya saat Om Bagas, Sella dan aku sarapan akhirnya aku menceritakan semuanya bahwa Ibu masih hidup dan sekarang berada di rumah sakit jiwa.
"Jadi Bapakmu sudah membohongi kita habis-habisan, Langen?" tanya Om Bagas emosi.
"Sabar, Pah. Yang penting kita sudah tau Tante Wulan masih hidup," ucap Sella mencoba menenangkan Om Bagas.
"Hari ini juga aku bakal jemput Mba Wulan pulang kesini, Mba ku nggak gila," ujar Om Bagas dengan geram.
Hari itu juga Om Bagas cuti kerja dan pergi ke Semarang dengan aku dan Sella.
******
Setelah melewati hampir Tujuh jam perjalanan dengan kereta tanpa banyak bicara satu sama lain akhirnya kami sampai di Semarang. Kamipun menyewa taksi online untuk menuju rumah sakit jiwa dimana Ibu dirawat.
Sesampainya disana aku memberi tahu dokter bahwa Om Bagas adalah adik Ibu. Awalnya Dokter keberatan untuk mengijinkan Om Bagas bertemu Ibu karena beliau sudah berjanji pada Bapak bahwa hanya aku yang boleh menengok Ibu.
Tapi karena Om Bagas memaksa akhirnya Dokter itupun menyerah lagi pula Ibu sudah terlalu lama di rumah sakit jiwa. Lebih baik jika ibu berinteraksi dengan orang-orag terdekatnya.
Aku tidak berani ikut Om Bagas masuk ke dalam kamar Ibu. Aku takut ibu akan histeris seperti kemarin saat melihatku. Aku hanya mengintip di balik pintu. Melihat Ibu memeluk Om Bagas dengan kasih sayang membuatku iri. Kenapa ibu tidak bisa seperti itu padaku.
__ADS_1
Setelah ngobrol lumayan lama dengan Ibu, Om Bagas meminta untuk membawa Ibu pulang Jakarta.
"Saya mau membawa kakak saya ke Jakarta, Dok," ucap Om Bagas tegas pada Dokter itu.
"Sebenarnya kondisi Bu Wulan baik-baik saja, tidak pernah histeris atau membuat gaduh. Bu Wulan seperti orang normal, tapi kemarin Bu Wulan sempat lapas kontrol saat bertemu dengan putrinya," ungkap Dokter itu sembari meilirikku.
"Tadi ngobrol sama saya juga baik-baik saja, normal. Saya mau bawa Mba Wulan pulang sekarang."
Setelah menyelesaikan semua administrasi dan yang lainnya akhirnya Ibu bisa di bawa pulang ke Jakarta. Aku bisa melihat Om Bagas benar-benar merindukan Ibu sama seperti aku.
Saat melihatku ibu tidak histeris lagi melainkan seperti tidak menganggapku sama sekali, Ibu tidak mau menegorku bahkan melihatkupun tidak. Sepanjang perjalanan aku hanya ngobrol sebentar-sebentar dengan Sella.
******
"Maaf ya kamu jadi harus berbagi kamar denganku," kataku pada Sella.
"Ya ampun nggak usah sungkan kali, gue malah seneng punya temen sekamar," balasnya sambil tersenyum.
Malam itu aku tidak bisa tidur, memikirkan besok akan seperti apa. Apa aku harus mendekati Ibu. Tapi aku takut Ibu justru akan tambah membenciku. Padahal aku ingin sekali memeluk Ibu.
__ADS_1
"Langen kangen, Bu. Kenapa Ibu membenci Langen?" gumamku dengan air mata yang membasahi pipiku.
******
Keesokan harinya saat aku dan Sella turun ke ruang makan, aku sudah melihat Ibu sedang sibuk membuat sarapan. Aku melihat wajah Ibu begitu berseri-seri, jadi seperti ini rasanya makan disiapkan oleh Ibu sendiri.
Aku dan Sella pamit pada Om Bagas dan Ibu untuk berkuliah, Ibu begitu hangat dengan Sella tapi begitu dingin denganku bahkan Ibu tidak mau ku cium tangannya. Aku berusaha terlihat tegar di depan Sella dan Om Bagas meskipun perasaanku perih.
"Ibu lo butuh waktu buat nerima semua ini, jadi jangan dimasukin ke hati." Hibur Sella saat kami sudah berada di mobil.
Sesampainya di kampus seperti biasa Sella berpisah denganku, akupun memilih jalan sendirian. Sebelum dua sahabatku, Amel dan Bayu menghampiriku.
"Hey, lo kok keliatan nggak semangat banget, Langen?" tanya Amel.
"Nggak apa-apa kok" Jawabku.
"Langen emang misterius, kaya cenayang aja" ucap Bayu yang langsung membuatku tidak nyaman.
Sepertinya mereka tau aku sedang tidak ingin diganggu jadi merekapun memilih untuk pergi berdua. Akupun berjalam mendahului mereka. Baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara benda terjatuh diikuti suara jeritan Amel.
__ADS_1
Akupun membalikkan tubuhku dan sekarang aku tahu kenapa Amel menjerit karena aku juga melakukaan hal yang sama. Bagaimana tidak, sekarang aku melihat sebuah pot besar berada di atas kepala Bayu yang sekarang jatuh tertelungkup dengan kepala hancur seperti daging yang dicincang.
*****