
Kejadian jatuhnya Karla menjadi trending topic di kampus, bahkan saat polisi dan ambulan datang untuk mengevakuasi tempat kejadian perkara banyak bahasiswa dan mahasiswi berkerumun untuk melihat mayat Karla di evakuasi. Aku heran dengan mereka, sengaja berdesakan untuk melihat mayat yang kondisinya mengenaskan.
Saat itu saksi mata atas kejadian yang menimpa Karla tentu saja diperiksa terutama aku, beberapa anak melaporkan ke pihak kepolisian yang sedang bertugas bahwa aku sempat bertengkar dengan Karla sebelum dia terjatuh.
"Anda yang bernama Marlangen?" tanya seorang polisi yang terlihat masih muda.
"Iya pak saya Marlangen," jawabku sopan.
"Coba ceritakan tentang pertemuan anda dengan korban sebelum terjadi insiden." Perintah polisi itu.
Akupun menceritakan semua yang terjadi tadi tanpa aku kurangi dan tambahi. Aku tidak harus berbohong apapun karena memang aku tidak salah sama sekali.
Setelah mengintrogasiku Polisi itupun pergi dengan mengucapkan terimakasih atas kerja samaku dalam penyelidikannya. Saat aku akan berjalan pulang, seseorang mencekal tanganku. Ternyata orang itu adalah Adit.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya dengan suara ngos-ngosan.
"Aku baik-baik aja, Dit," jawabku heran.
Tiba-tiba Adit menarik tanganku, membuat aku menubruk badannya yang bidang itu.
"Aku pikir kamu kenapa-kenapa. Aku sangat khawatir. Tapi syukurlah kamu nggak apa-apa," ucap Adit sembari masih memelukku dan mencium pucuk rambutku.
Aku hanya diam bergeming, rasanya jantungku berdegup dengan kencang hingga aku takut Adit akan mendengarnya. Untuk pertama kalinya aku dipeluk oleh laki-laki yang bukan siapa-siapaku. Entah kenapa rasanya begitu nyaman. Tapi aku sadar ini di kampus, akupun melepaskan pelukan Adit walaupun rasanya tidak rela.
"I..iyaa nggak apa-apa," balasku tidak kalah salah tingkah.
Akhirnya setelah ngobrol sebentar aku pamit pulang pada Adit, sebenarnya Adit memaksa ingin mengantarku tapi aku tetap menolak. Aku sudah memutuskan untuk menjauhi semua orang sebelum masalahku ini selesai.
__ADS_1
*****
Aku berjalan menyusuri jalan sendirian, melihat keramaian ibukota. Berada di tempat seramai ini ruang hatiku tetap terasa hampa. Aku sengaja pulang sendiri tanpa Sella karena aku ingin ke makam Ibu, aku baru sekali datang kesana saat baru pertama kali pulang dari rumah sakit.
Setelah sampai di makam Ibu, aku duduk bersimpuh di dekat batu nisan yang bertuliskan "Wulan Kenanga". Nama Ibu benar-benar cantik seperti rupanya. Tanpa terasa air mataku kembali menetes, setiap ingat Ibu pasti membuatku tidak kuasa menahan tangis.
Saat aku sedang khusu berdoa untuk Ibu tiba-tiba aku merasakan udara di sekelilingku terasa lebih dingin dari saat pertama aku datang, padahal cuaca hari ini lumayan panas. Aku menengok kebelakang saat merasa ada yang menepuk pundaku.
Tapi alangkah kagetnya aku saat mataku melihat sosok yang menyerupai Ibu tapi dengan wajah yang mengerikan. Wajah dengan kulit tersayat disana-sini yang mengeluarkan darah dan belatung, belum lagi darah kental yang menetes-netes keluar dari mulutnya. Sebelum aku beringsut mundur sosok itu sudah semakin mendekat ke arahku dan saat jarak kami sudah sangat dekat dia berteriak keras.
"PERRRGIIII!!"
Itu suara Ibu tapi dengan raungan yang mengerikan, akupun berlari menjauhi area pemakaman karena merasa sangat takut. Takut melihat Ibu menjadi sangat mengerikan seperti itu.
__ADS_1
Kenapa orang-orang terdekatku yang sudah meninggal selalu hadir lagi dengan kondisi yang sangat menakutkan?
*****