
Perkenalanku dengan Amel dan Bayu membuat kami akhirnya menjadi teman akrab. Setiap berada di kampus, kami selalu jalan bersama. Aku merasa sangat bahagia karena akhirnya aku mempunyai teman.
Amel sangat perhatian dan baik padaku, begitu juga dengan Bayu. Meskipun Bayu sering bicara seenaknya tapi aku tahu, dia berusaha selalu jujur dan tidak menutupi perkataan dengan omongan manis.
Seperti yang tempo hari sudah aku janjikan ke Amel, hari ini untuk pertama kalinya aku akan main dirumah teman. Dari dulu saat masih dikampung, tidak sekali pun bapak mengijinkan aku untuk main dirumah teman sekolah atau pun tetangga.
Harus mereka yang main kerumahku. Jadi aku begitu senang akhirnya bisa merasakan main dirumah seorang teman. Apalagi teman sebaik Amel.
****
Sepulang kuliah, kami bertiga sudah meluncur ke rumah Amel menggunakan mobil milik Bayu, sebelum itu aku sudah mengabari rante Rani tentunya, untuk pamit pulang terlambat. Aku kan tidak mau dibilang ponakan tidak punya adat karena pergi tanpa pamit.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan setengah jam, kami sampai dirumah Amel yang terlihat sederhana namun asri.
Banyak pepohonan di depan rumahnya, aku pun turun dari mobil dan mengikuti Amel dan Bayu masuk kedalam rumah Amel.
Tapi sebelum aku masuk ke dalam rumah Amel, aku merasa seperti di awasi oleh sesuatu. Aku pun menengok kebelakang, tapi tidak ada siapa-siapa. Aku mencoba tidak menghiraukan perasaanku dan memilih untuk ikut masuk kerumah Amel.
*****
Di dalam rumah Amel, aku dan Bayu sudah di sambut oleh ibunya Amel. Wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu sangat ramah menyambutku yang baru pertama kali main ke rumah Amel.
"Temen baru Amel ya?" tanyanya sesaat setelah aku mencium tangannya.
"Iya, Tante," balasku lembut.
"Pantesan, Tante baru liat. Biasanya teman Amel nggak ada yang cantik," ucap Ibunya Amel.
"Iyalah, kan yang main kerumah cuma si Bayu. Dia mah ganteng juga kagak apalagi cantik, Mah," sambung Amel dengan cekikikan.
"Bully aja terus, Mel," gerutu Bayu.
Amel justru ketawa melihat wajah cemberut Bayu. Aku dan Ibunya Amel juga ikut tertawa melihat Amel menggoda Bayu.
"Tapi bener loh, kamu ini memang cantik sekali." Ibunya Amel masih saja memujiku yang membuat wajahku memerah.
"Terimakasih, Tante," balasku.
Setelah mengobrol dengan ibunya Amel, kamipun duduk di ruang tengah yang sebelahnya ada taman kecil.
"Rumah kamu adem ya, Mel," ucapku kagum.
__ADS_1
"Karena banyak tanaman dan pohon mengelilingi rumahku, Langen," balasnya sembari membuka toples makanan ringan untuk di sajikan padaku dan Bayu.
"Tapi menurut gue, suasananya terlihat suram karena rumah lo kaya ketelen taneman," ujar Bayu.
"Sureman idup lo kali, Bay," balas Amel dengan wajah sebal.
"Lah kok sewot."
Aku hanya tersenyum melihat perdebatan antara Amel dan Bayu, yang justru terlihat lucu.
***
Tanpa terasa waktu sudah beranjak malam, aku minta pamit pulang pada Amel dan ibunya. Bayu tentu saja yang mengantarku pulang, aku kan belum paham jalan disekitar rumah Amel.
"Kapan-kapan main lagi, ya," ucap ibu Amel padaku dengan ramah.
"Iya, Tante," balasku sumringah.
Amel pasti sangat bahagia, mempunyai ibu yang begitu perhatian. Andai Ibuku masih ada, mungkin aku akan sebahagia Amel.
"Langen, woii. Kok malah ngelamun sih?" Suara Bayu menyadarkanku dari lamunan tentang ibu.
Saat Amel mengantarku dan Bayu ke pintu depan, tiba-tiba salah satu dahan pohon belimbing di depan rumah Amel bergerak dengan sendirinya. Kami bertiga pun menoleh ke arah pohon belimbing itu.
Astaga aku benar-benar kaget ,melihat makhluk yang aku lihat dibawah pohon belimbing itu.
Aku melihat di sana ada makhluk menyerupai kuntilanak tapi terlihat lebih besar namun kurus, dengan rambut panjang yang gimbal.
Cara jalannya merangkak terbalik alias kayang, tapi kepalanya memutar seratus delapan puluh derajat.
Kukunya panjang dan matanya berwarna merah menyala. Ingin rasanya aku berteriak, saat makhluk itu merangkak cepat ke arahku.
Tapi sebelum makhluk itu lebih dekat ke arahku, tiba- tiba dia mundur lagi dan kembali merangkak ke pohon belimbing.
"Ah, itu cuma angin kok," ujar Amel sambil tersenyum kaku. Wajahnya seakan menyembunyikan sesuatu.
Aku ingin menanyakan pada Amel apakah dia tahu ada makhluk menyeramkan yang berdiam diri di depan rumahnya, tapi aku merasa justru Amel ingin merahasiakannya dari aku dan Bayu.
Mungkin aku akan menanyainya besok saja saat kami hanya berdua.
*****
__ADS_1
Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamarku, mengganti pakaian dan pergi mandi.
Di dalam kamar mandi, aku terus saja memikirkan makhluk seram yang berdiam di pohon belimbing depan rumah Amel dan sepertinya Amel juga sudah tau ,tapi dia berusaha menutupinya.
*****
Kuntilanak laki-laki adalah sosok yang barusan aku lihat di rumah Amel . Aku pernah melihatnya beberapa kali, tapi itu saat aku masih tinggal di kampung.
Tidak kusangka, di kota sebesar ini masih ada kuntilanak laki-laki.
Sejak kapan kuntilanak laki-laki itu berdiam diri di pohon belimbing depan rumah Amel? Pasti ada seseorang yang sengaja memelihara dan membawanya kesana.
*****
Setelah selesai mandi, aku pun bergegas kembali ke kamar. Tapi baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya, aku mendengar seseorang memanggil namaku dari arah kamar mandi.
Karena penasaran, aku kembali membuka pintu kamar mandi. Tapi yang aku lihat hanya ruangan kosong tidak ada siapa pun. Aku pun menutup kembali pintu kamar mandi, mungkin aku yang salah dengar, pikirku meyakinkan.
Saat aku melewati kamar Sella, tiba-tiba aku mendengar Sella berteriak minta tolong.
Aku yang kaget dengan teriakan Sella serta merta mendobrak pintu kamarnya, tapi saat pintu sudah terbuka, aku justru melihat Sella tiduran di atas ranjang dan sedang memainkan gawainya.
"Hey, lo apa-apaan sih, masuk kamar orang nggak permisi!!" bentak Sella padaku.
"Tadi aku denger kamu teriak minta tolong, Sel" jawabku jujur.
"Teriak apaan? Gue dari tadi diem aja ya! Lo gausah alesan deh . Lo mau nakutin gue doang kan?"
"Sumpah aku nggak mikir begitu," sanggahku sambil tertunduk.
"Halaah meskipun lo berusaha nakutin gue, gue nggak bakal takut! Udah sana pergi dari kamar gue!" Usir Sella dengan nada ketus.
Aku pun beranjak ke kamarku, tapi aku yakin benar-benar tidak salah dengar. Aku memang mendengar suara teriakan Sella seakan dia sangat ketakutan.
Aku juga mendengar suara yang memanggil namaku dikamar mandi tadi.
Tapi itu suara siapa? Dan kenapa akhir-akhir ini aku merasa sedang di amati oleh sesuatu.
Apakah ini ada hubungannya dengan wanita setengah ular itu. Sudahlah aku selalu buntu setiap memikirkannya.
*****
__ADS_1