Marlangen

Marlangen
Kerasukan


__ADS_3

Bayangan sosok wanita setengah ular itu terus memenuhi pikiranku. Entah kenapa aku tidak bisa melupakan wajahnya.


Bola matanya yang putih dan lidahnya yang menjulur panjang juga kata-katanya yang mengatakan bahwa aku anaknya.


Kegelisahan ku ternyata menyita perhatian om Bagas yang saat itu sedang sarapan bersamaku. Kebetulan tante Rani dan Sella sudah keluar katanya ada keperluan.


"Kamu kenapa terlihat sangat gelisah, Langen?" tanya om Bagas


"Ndak apa-apa Om," jawabku sambil menunduk.


"Masih kepikiran tentang mimpimu semalam?"


Aku hanya bergeming, aku bingung harus menjawab apa. Aku tidak ingin terlihat aneh di depan om Bagas.


"Sudah, jangan dipikirkan lagi. Inget mimpi itu cuma bunga tidur," ujarnya lagi sambil tersenyum.


*****


Di kampus aku tidak punya teman dekat, tapi aku tidak apa-apa. Memang dari dulu aku tidak punya banyak teman.


Saat sedang serius mendengarkan penjelasan dosen, tiba-tiba salah satu mahasiswi berteriak histeris. Sontak semua mahasiswa dan mahasiswi yang berada dikelas terlonjak kaget.


Mahasiswi itu meraung-raung dan tertawa. Tapi yang keluar bukanlah suaranya. Suaranya begitu berat seperti suara seorang pria.

__ADS_1


Beberapa mahasiswa mencoba menghampiri mahasiswi itu, mereka mencoba menenangkannya. Tapi mahasiswi itu lebih tidak terkendali, dia membanting kursi dan melemparkannya pada orang-orang disekitarnya.


Sontak semua yang ada dikelas itu berhamburan keluar, tidak terkecuali aku. Namun sialnya aku berada di baris terakhir antrian dipintu untuk keluar. Saat tiba-tiba mahasiswi yang sepertinya kerasukan itu menarikku dan mengguncang-guncangkan badanku. Aku menyadari ini bukanlah tenaga seorang perempuan.


"Ojo uculke kalungmu, ojo uculke kalungmu!!" ucap mahasiswi itu dengan suara berat. Suara itu begitu familier. Itu suara bapak.


"Bapaaak," panggilku lirih.


"Ojo lengah, bala bakal teka!" ujarnya lagi dengan suara keras.


[Jangan lengah, bencana akan datang]


Seketika orang-orang yang berada disitu mencoba menyelamatkanku dari cengkramam mahasiswi yang sedang dirasuki.


Para mahasiwa pun berhamburan menyelamatkan mahasiswi yang sekarang tidak sadarkan diri itu dan membawanya ke UKS untuk pertolongan pertama. Sedangkan aku masih saja berdiri ditempat, sampai seseorang memegang bahuku.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya orang itu yang ternyata adalah dosenku.


"Saya baik-baik saja pak," jawabku sopan.


Dosen itupun mengangguk dan berjalan keluar kelas.


*****

__ADS_1


Malam ini entah kenapa aku merasa begitu dingin, padahal AC dalam kamarku sudah aku matikan. Saat aku mulai membuka laptopku untuk mengerjakan tugas kuliah tiba-tiba ada suara bisikan di telinga kiriku.


Otomatis aku menengok ke sebelah kiri. Namun yang aku temukan hanya kekosongan, saat aku kembali akan konsentrasi pada laptop, bisikan itu datang lagi dan berganti di telingaku sebelah kanan.


Aku mencoba tidak memperdulikannya dan tetap mencoba berkonsentrasi pada layar laptopku. Sampai aku mendengar suara senandung seorang wanita yang entah dari mana asalnya tapi seakan bergema didalam kamarku. Suaranya begitu indah mengalun dan tanpa sadar aku mengikutinya.


Lingsir wengi


Sliramu tumeking sirno


Ojo tangi nggonmu guling


Awas jo ngetoro


Aku lagi bang wingo wingo


jin setan kang tak utusi


Dadyo sebarang.


Entah karena suara senandungku yang terlalu keras, tiba-tiba pintu kamarku dibuka dengan kasar. Saat aku menoleh ke arah pintu. Selly yang ternyata membuka pintu kamarku tampak sangat terkejut. Dia langsung berteriak memanggil kedua orangtuanya.


"Pah, Mah. Ada ular disini!!" teriaknya dengan mata terbelalak memandangku yang kini merasa bingung melihat tingkahnya.

__ADS_1


****


__ADS_2