Marlangen

Marlangen
BAB 32


__ADS_3

Seharian aku hanya tiduran diranjang dengan mata sembab karena terlalu lama menangis. Sekarang aku tahu kemana aku harus bertanya. Didalam buku harian Ibu sudah tertulis alamat Sapto Aji, sahabat Bapak yang bisa membantuku menjelaskan semua yang terjadi padaku dan pada keluargaku.


Tapi lagi-lagi alamatnya ada di luar kota, kota yang terkenal dengan batiknya. Kali ini aku harus kesana sendirian, aku tidak ingin melibatkan siapapun . Aku tidak ingin lagi mencelakai orang-orang yang dekat denganku karna aku tidak siap untuk merasa kehilangan lagi. Akhirnya kuputuskan kesana esok lusa sekalian untuk memulihkan energiku yang masih sedikit lemas.


******


Hari ini aku akan kembali berkuliah setelah satu minggu mendekam di rumah sakit, seperti biasa aku berangkat dengan Sella.


"Kalo nanti lo ngerasa nggak enak badan, lo bisa telfon gue biar nanti gue anter balik" ucap Sella setelah keluar dari mobil.


"Iya, Sell. Aku udah baikan kok. Nggak usah kuatir," balasku sambil tersenyum .


Kamipun berpisah di pintu kampus, tiba-tiba smartphone ku berbunyi . Ternyata ada notifikasi pesan dari Amel, dia ingin bertemu denganku di lantai Tiga. Aku merasa senang karena Amel akhirya mau bertemu denganku. Akupun dengan semangat menuju tempat pertemuanku dengan Amel.


******

__ADS_1


Setelah aku sampai ternyata ditempat itu masih belum terlihat Amel, hanya ada beberapa anak yang berlalu lalang. Setelah menunggu sekitar lima belas menit, seseorang memanggilku dari belakang.


"Lo Marlangen kan?" tanya cewek berambut pirang dan berlipstik merah itu dengan jutek.


"Iya benar. Ada apa?" tanyaku balik.


"Lo baru keluar dari rumah sakit kan? Harusnya lo sekalian mati!" umpat cewek yang sama sekali tidak aku kenal.


"Maksud kamu apa?" tanyaku geram.


Kami tidak pernah berkenalan atau mengenal satu sama lain tiba-tiba dia ingin aku mati. Sebenarnya dia orang sinting dari mana. Lagi pula Amel tidak kunjung datang, dimana sih dia?


Aku tidak pernah ingin menyakiti orang lain walaupun mereka kadang tidak bersikap ramah padaku, tapi kali ini ingin rasanya aku menonjok muka cewek di depanku ini. Siapa sebenarnya cewe ini. Kenapa Amel mempertemukan aku dengan cewek ini.


"Lo pasti sedang betanya-tanya siapa gue kan? Gue Karla. Cewek Bayu yang sudah lo bunuh!" Tuduh cewek sinting ini.

__ADS_1


"Aku nggak pernah bunuh Bayu!" desisku marah.


"Halaah, Amel udah cerita semuanya. Gara-gara lo Bayu meninggal. Lo pembawa sial!!"


Amel bilang padanya seperti itu? Kenapa Amel berubah jahat seperti begitu. Aku benar-benar sedih memikirkan Amel.


"Kenapa diam, Heh? Lo harusnya yang mati bukan Bayu!" bentaknya sambil mendorongku ke pinggir teralis besi pembatas hingga aku hampir jatuh kebawah.


Tapi sebelum dia berhasil mendorongku, cewek itu kehilangan keseimbangannya sendiri hingga badannya terdorong kesamping dan meluncur jatuh kebawah. Aku bisa melihat wajahnya yang sangat terkejut. Sebelum suara berdegum yang lumayan keras menyentakkanku.


Akupun langsung berlari ke lantai Satu tempat cewek itu terjatuh. Suara teriakan dari beberapa mahasiswi membuatku semakin takut. Akupun menyeruak gerombolan para mahasiswa yang sedang mengelilingi sesuatu. Saat pada akhirnya aku sampai di barisan paling depan.


Aku melihat cewek itu terlentang dengan posisi tidak normal. Tangan dan kakinya seperti patah hingga tulang sikunya mencuat keluar menembus kulitnya. Kepala bagian bawahnya mengeluarkan darah segar yang membuat rambut pirangnya berubah kemerahan dan mata yang melotot itu seakan sedang menahan kesakitan.


Satu lagi, aku melihat kematian tragis di depan mataku. Lalu saat aku mencoba berpaling tatapanku bertabrakan dengan Amel. Dia seakan ketakutan melihatku. Aku ingin menghampirinya dan bertanya padanya maksud dia mempertemukan aku dengan cewek itu. Tapi sebelum aku mendekatinya, Amel sudah berlari menjauhiku.

__ADS_1


Semengerikan itukah aku dimatanya?


*****


__ADS_2