Marlangen

Marlangen
BAB 25


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dari puncak ke Jakarta aku terus memikirkan tulisan di balik foto ibu. Apa ini adalah sebuah petunjuk dari Bapak untukku. Aku juga mengingat kata-kata hantu wanita muka rata tentang ibu dan rumah sakit jiwa.


Apa hubungan ibu dengan rumah sakit jiwa adalah pertanyaan yang sedari tadi aku pikirkan. Apa ibu benar-benar masih hidup?.


Saat aku sedang sibuk dengan pikiranku sendiri, tiba-tiba Adit menghentikan mobilnya. Ternyata jalan tol yang kami lalui macet, tepat di tol Jagorawi KM 42.


Ternyata penyebab kemacetan karena ada kecelakaan yang melibatkan dua mobil. Aku harap tidak ada korban jiwa. Lalu dari kejauhan aku mendengar raungan suara sirine ambulan. Entah kenapa perasaanku yang sudah tidak nyaman menjadi semakin tidak enak. Aku tidak suka berada dekat di tempat kecelakaan.

__ADS_1


"Pasti ini bakal macet lama deh." Keluh Amel yang duduk di belakang bersama Bayu.


Setelah Amel mengatakan itu tiba-tiba aku melihat sebuah truk kontainer besar melaju dengan cepat kearah mobil di didepanku, truk itu terus melaju dengan menabrak beberapa mobil dan truk di depannya. Aku melihat ada mobil yang terguling dan terbakar dan aku juga melihat orang didalamnya terbakar hidup-hidup. Aku hanya bisa mematung menyaksikan semua itu, Amel sudah menjerit histeris sebelum pingsan.


Setelah akhirnya truk kontainer itu berhenti sesudah menabrak sekitar Sepuluh kendaraan di depannya, Adit dan Bayu keluar mobil untuk membantu para korban. Sebelum keluar Adit berpesan padaku agar menunggu di mobil sambil menjaga keadaan Amel yang pingsan karena shok. Sungguh aku juga sangat gemetar.


Saat aku sedang duduk dijok belakng sembari menjaga Amel, aku melihat orang-orang dengan wajah dan tubuh penuh luka berjalan melewati mobilku. Aku tau mereka bukanlah manusia lagi, kondisi mereka benar-benar mengerikan. Tapi yang paling mengerikan adalah penampakan korban yang terbakar hidup-hidup di dalam mobilnya. Dia sekarang berdiri tepat disebelah mobilku, badannya hangus dengan beberapa kulit terlihas mengelupas juga. Dia menatapku seakan marah, seakan tidak terima bahwa dia yang harus menjadi korban. Aku memalingkan wajahku ke arah samping karena tidak kuat melihat penampakan itu, namun saat memalingkan wajah aku melihat seraut wajah dengan satu bola mata yang keluar dari rongganya dan kepala yang terbelah jadi dua memperlihatkan bagian dalam otaknya. Akupun reflek menjerit kaget, bukan hanya takut tapi juga mual.

__ADS_1


*****


Aku sampai di rumah Om Bagas ketika hari sudah malam, aku mengobrol sebentar dengan Om Bagas dan Sella tentang kecelakaan tadi yang sudah ramai di beritakan di stasiun Tv.


Lalu akupun pamit kekamar, aku begitu rindu dengan kamarku. Setelah membereskan barang yang kamarin aku bawa ke puncak, akupun beranjak mandi. Gara-gara penampakan korban kecelakaan tadi aku jadi terus-terusan bergidik. Mengingat kepala yang terbelah dua dan badan hangus membuatku tidak ingin lama-lama di kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian tidur, aku mengambil foto ibuku di dalam tas. Foto yang Adit ambil di rumah. Aku terus membaca kata di balik foto ibu. Apa aku harus kerumah sakit jiwa ini untuk memastikan bahwa memamg ibu masih hidup atau pernah dirawat disana . Tapi lebih baik aku tidka bicara dulu pada Om Bagas, lebih baik aku mencari tau dulu tentang kebenaran ini.

__ADS_1


****


__ADS_2