
Hari ini aku akan berangkat ke kota batik, tempat Sapto Aji tinggal. Aku akan berangkat tanpa memberitahu siapapun karena aku tidak ingin melibatkan siapapun lagi dalam masalahku.
Saat aku keluar kamar diam-diam disaat masih pagi buta begini, tidak kusangka Sella membuka pintu tepat ketika aku melewati kamarnya.
"Mau kemana lo pagi buta begini?" tanya Sella curiga.
"Mmmh itu, aku mau jogging," jawabku ala kadarnya.
"Jogging dengan pakaian serapi itu dan bawa tas segala? Lo pikir gue orang ****** dari mana?"
Aku memang tidak pandai dalam hal merangkai kata untuk berbohong. Jadi akupun jujur pada Sella bahwa aku akan pergi menemui seseorang yang bisa membantuku dalam masalah yang sedang aku hadapi.
"Gue ikut ya, nanti gue ajak Aldi sama Adit juga," pinta Sella antusias.
"Jangan, Sel. Aku nggak mau melibatkan kalian lagi dalam masalahku," balasku tidak enak.
"Kita itu saudara, Langen. Kita harus saling bantu sama lain. Lo nggak percaya sama gue?" tanya Sella dengan wajah kecewa.
"Bukan gitu Sel, aku cuma nggak mau bikin kamu atau yang lainnya celaka"
"Udah ah dramanya, gue mau ngabarin Aldi dan Adit buat ikut kita," balas Sella masa bodo.
Akupun tidak bisa menolak keinginan Sella apalagi jika dia sudah memaksa seperti itu. Setelah Sella selesai bersiap-siap ternyata Adit dan Aldi sudah menunggu di depan. Kali ini Aldi yang membawa mobilnya. Jadi aku dan Adit mendapat jatah duduk di belakang, sedangkan Sella tentu saja menemani Aldi di depan.
__ADS_1
*****
Sepanjang perjalanan aku lebih memilih diam, Sella dan Aldi sibuk bercanda dan berbincang berdua sedangkan Adit juga lebih banyak diam sama sepertiku. Sejak kejadian kemarin dikampus saat Adit memelukku, aku memang sedikit kikuk ketika dekat dengannya.
Selain itu aku juga memikirkan tentang Sapto Aji, aku takut alamat yang di tulis Ibu sudah bukan alamatnya lagi. Hanya dia satu-satunya harapanku untuk mencari tahu tentang masalah yang selama ini menimpaku.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Adit tiba-tiba.
"Nggak apa-apa. Kenapa Dit?"
"Muka kamu kaya lagi memikirkan banyak hal."
"Aku cuma lagi memikirkan tentang orang yang akan aku temui, aku takut alamatnya sudah berubah," ucapku jujur.
*****
Setelah menghabiskan waktu selama hampir Enam jam perjalanan lewat jalan Tol. Kami sampai juga di kota Batik tapi perjalanan masih belum berhenti karena alamat yang kami tuju berada di pelosok kota.
Terlihat sebuah plang nama desa saat kami memasuki jalan yang masih menggunakan tanah. Desa yang masih sangat asri karena banyak pohon disana sini yang mengingatkanku pada kampung halamanku.
"Lebih baik kita tanya dulu sama seseorang tentang rumah orang yang akan kamu temui, Langen," cetus Aldi sembari menyetir.
"Iya bener, lebih baik kita bertanya dulu biar nggak nyasar," timpal Adit.
__ADS_1
Akupun berinisiatif turun dari mobil untuk bertanya pada ibu-ibu yang sedang lewat di samping mobil.
"Ngampuntene, Bu. Kulo bade taken daleme Pak Sapto Aji teng pundi nggeh?" tanyaku sopan
[Permisi, Bu. Saya mau tanya rumah Pak Sapto Aji dimana ya?]
"Sapto Aji seng gendeng?" Ibu itu balik bertanya padaku.
[Sapto Aji yang gila?]
Aku tidak tahu harus menjawab apa jadi akupun hanya mengangguk.
"Mba.e jalan lurus wae mngko ono pertigaan milih sisi kiwe. Umahe Sapto Aji seng paling pojok ono wit peleme," jelas Ibu yang memakai daster itu.
[Mba jalam lurus saja nanti ada pertigaan milih sisi kiri. Rumahe Sapto Aji yang paling pojok ana pohon mangganya]
"Matursuwun nggeh, Bu," ucapku demgan ramah.
"Mba seng ati-ati yo. Sapto Aji gendeng doyan ngamuk," ujarnya sebelum berjalan pergi.
[Mba yang hati-hati ya. Sapto Aji gila suka ngamuk]
Jika benar Sapto Aji gila bagaimana mungkin aku akan bertanya padanya tentang semua yang menimpaku?
__ADS_1
****