
Hari ini aku akan berusaha menanyai Amel, tentang kuntilanak laki-laki penunggu pohon di depan rumahnya.
Sebelum berangkat kuliah, seperti biasa aku sarapan dulu. Di ruang makan sudah ada om Bagas dan tante Rani, tidak terlihat di sana ada Sella. Mungkin dia sudah berangkat duluan karena tadi aku mendengar suara mobilnya meninggalkan rumah.
"Kamu di jemput sama temen laki-laki kamu lagi, Langen?" tanya om Bagas sembari memasukan potongan roti kedalam mulutnya.
"Iya, Om. Dia katanya mau jemput Langen," jawabku malu-malu.
Entah kenapa om Bagas sempat berpikir bahwa aku dan Adit menjalin hubungan spesial.
Padahal kan kami hanya berteman biasa, meskipun saat bersama Adit jantungku berdebar-debar, berbeda saat aku sedang bersama Bayu.
"Keliatannya dia cowok yang baik," ucap tante Rani menggodaku.
"Jangan di ledek, Mah. Liat tuh pipi Langen sudah merah" Canda om Bagas yang membuatku tambah tersipu.
Untunglah saat om Bagas dan tante Rani asyik menggodaku, terdengar suara klakson mobil di depan rumah. Itu pasti Adit, aku pun pamit pada om Bagas dan tante Rani.
******
Saat aku sudah berada di dalam mobil Adit, aku mulai bercerita tentang makhluk yang aku temui di rumah Amel.
Entah kenapa dihadapnnya aku mau membuka hal-hal yang dulunya ingin aku tutupi dari semua orang.
"Hah? kuntilanak laki-laki? Emang ada makhluk halus begituan?" tanyanya terkejut dengan wajah lucu.
"Ada kok, kamu belum pernah denger?" tanyaku balik pada Adit.
"Belum lah, lagian kuntilanak kan identik dengan perempuan," ucapnya dengan masih berkonsentrasi mengendarai mobilnya.
"Emang jarang sih ada kuntilanak laki-laki, tapi mereka memang ada. Biasanya mereka jadi ingon-ingon dukun gitu"
"Ingon-ingon itu maksudnya?"
"Maksudnya jadi peliharaan gitu, atau nggak dijadikan anak angkat biar bisa disuruh-suruh melakukan hal jahat kaya santet gitu," jawabku mencoba menjelaskan pada Adit apa yang aku tahu tentang kuntilanak laki-laki.
__ADS_1
"Gila ya, dari pada melihara begituan mending melihara anjing," ujarnya spontan yang entah kenapa membuatku tertawa.
"Kamu cantik banget kalo ketawa begitu," ujar Adit yang langsung membuatku terdiam dengan wajah merah padam.
Karena aku tiba-tiba terdiam, Adit merasa tidak enak. Padahal sumpah aku tidak apa-apa, aku hanya merasa malu saja dan merasa ada sesuatu yang mengepak-ngepak di dalam dadaku.
"Eh sorry, Langen. Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman. Aku cuma berusaha jujur aja," ungkapnya yang makin membuat wajahku merah.
"Iya nggak apa-apa kok," jawabku yang bertambah salting.
Aku pun lupa pembicaraanku dengan Adit tentang kuntilanak laki-laki yang ada di depan rumah Amel. Sampai akhirnya kami sampai di kampus. Aku berpisah dengan Adit yang memang berbeda fakultas denganku.
*****
Setelah jam kuliah habis, aku beranjak menuju taman belakang kampus, aku sudah janjian dengan Amel disana lewat pesan whatsapp. Ternyata saat aku sampai disana, Amel sudah berada di sana dan melambai riang ke arahku. Aku pun langsung menghampirinya.
"Udah lama nunggu aku?" tanyaku tidak enak sembari duduk di sebelah Amel.
"Ah enggak kok, baru juga gue dateng," balas Amel, "ngomong-ngomong lo mau bicara apa, Langen? Keliatannya penting banget" tanya Amel dengan wajah kepo.
Wajah Amel yang tadinya riang gembira berubah terkejut.
"Maksud kamu apa sih? Aku nggak paham," jawabnya dengan mengalihkan pandangan dariku.
"Aku melihatnya Mel, dia merangkak turun dari pohon belimbing"
"Jj...jjadi lo bisa liat yang begituan?" tanyanya tambah terkejut.
"Iya, jadi bener kan apa yang aku lihat? Kenapa kamu harus menutupinya dari aku?" Aku balik bertanya pada Amel.
Amel menatapku sesaat, mungkin dia ingin memastikan bahwa aku tidak berbohong padanya.
"Bentuknya gimana sih, Langen? Gue nggak pernah liat penampakannya langsung. Cuma nyokap gue pernah dan katanya serem banget" ungkap Amel serius.
"Makhluk itu kuntilanak laki-laki dan memang bentuknya serem. Apa kalian nggak pernah diganggu?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Kuntilanak laki-laki? Emang kuntilanak ada yang bentuknya laki?" tanya Amel kaget.
"Ada Mel, yang aku tanyain kenapa dia bisa ada disitu?"
Seakan sedang berpikir aku harus menunggu jawaban Amel beberapa detik sebelum akhirnya dia mulai bercerita.
"Dulu kakek gue semacam dukun, tapi dukun ilmu hitam. Bokap gue yang anak satu-satunya kakek gue nggak setuju sama apa yang dilakukan kakek gue. Sampai akhirnya bokap milih keluar dari rumah,"ucap Amel lirih, "Tapi beberapa tahun setelah gue lahir, kakek gue sakit. Bokap di suruh pulang, ternyata saat bokap pulang kakek sudah sekarat dan akhirnya meninggal," papar Amel sembari sesekali menyedot minumannya.
"Terus gimana?" tanyaku yang jujur saja sangat penasaran.
"Sebelum kakek meninggal, dia ngasih pesan ke bokap. Katanya ada peliharannya satu yang bakal ada dirumah ini. Dia nempati pohon belimbing depan rumah, tapi kata kakek dia nggak bakal ganggu keluarga kami."
"Jadi beneran dia nggak gangu kamu dan keluarga kamu?"
"Enggak sih cuma sekali, nyokap gue pernah liat dia. Gara-gara nyokap tengah malam denger suara bebek di depan rumah. Karena penasaran nyokap ngintip di jendela. Beliau kaget pas liat, ternyata di depan ada makhluk seram banget. Besoknya nyokap sakit dan bokap gue akhirnya memutuskan untuk mangkas tuh pohon belimbing. Tapi anehnya pohon itu susah banget dipangkas, padahal pohon itu sama sekali nggak pernah berbuah semenjak gue pindah kesitu," jelas Amel dengan wajah takut.
Aku tahu, sosok kuntilanak laki-laki itu sedikit lebih berbahaya, berbeda dengan kuntilanak biasa yang biasanya hanya iseng menggangu orang.
"Ciri-ciri pohon yang di diami kuntilanak laki-laki emang gitu,Mel. Pohonnya nggak pernah berbuah dan tanda kehadirannya itu berupa suara bebek," ucapku mencoba menjelaskan pada Amel tentang kuntilanak laki-laki, "Tapi syukurlah dia nggak pernah ganggu keluarga kamu. Mungkin juga kakek kamu sengaja nempatin dia buat jaga-jaga keluarga kamu," sambungku lega karena makhluk seram itu tidak pernah melukai Amel dan keluarganya.
******
Setelah ngobrol banyak dengan Amel, kami pun berpisah. Aku ingin cepat pulang ke rumah untuk beristirahat.
Namun, tidak tahu kenapa badanku rasanya lemas, tenggorokanku juga terasa sakit. Mungkin aku panas dalam, tapi tadi pagi saat aku bengun dari tidur. Aku melihat lebam biru pada leherku, seperti bekas orang setelah dicekik. Itu sebabnya sekarang aku memakai baju model turtleneck agar lebam biru dileherku tidak terlihat.
Aku tidak tahu lebam biru ini di sebabkan oleh apa, karena semalam saat aku akan tidur pun lebam biru ini belum terlihat.
Ketika sudah sampai di rumah, aku bergegas menuju ke kamarku. Tapi saat aku masuk kedalam kamar. Betapa terkejutnya aku, karena di cermin meja rias terdapat tulisan berwarna merah darah.
"KOE BAKAL MELU AKU!"
[KAMU BAKAL IKUT AKU!]
****
__ADS_1