Marlangen

Marlangen
BAB 22


__ADS_3

Cuaca pagi hari disini dingin, mengingatkanku pada kampungku yang juga selalu dingin setiap pagi. Aku sudah bangun duluan dibanding Sella dan Amel yang masih bergelung di balik selimut tebal.


Setelah mandi aku memilih keluar kamar menuju dapur. Tenyata disana sudah ada Bi Imah yang sedang sibuk memasak.


"Non udah Bangun?" tanya Bi Imah sembari sibuk menumis bumbu yang baunya begitu harum.


"Udah Bi, Bi Imah udah dateng dari tadi?"


"Tadi jam setengah Enam, non. Mau kesini dari habis subuh masih takut," ungkap Bi Imah.


"Loh takut kenapa Bi?" tanyaku penasaran.


"Takut ketemu kuda jadi-jadian"


"Maksudnya siluman kuda?"


"Bukan, Non. Maksudnya orang yang jalanin pesugihan jaran panoleh. Orang itu nanti berubah jadi kuda," jelas Bi Imah dengan tetap memasak.


"Oh pesugihan jaran panoleh," gumamku .


"Non tahu?"


"Sedikit sih, Bi. Tapi setau saya pesugihan itu tidak mencari tumbal," ucapku pada Bi Imah.


"Dulu saya kira begitu, Non. Pesugihan jaran panoleh hanya membuat orang yang melakukan perjanjian itu berubah jadi seperti kuda saat akan melakukan ritual pesugihan saja sampe dia mati nanti, tapi belakangan banyak orang meninggal nggak wajar disini. Kata keluarga orang-orang yang meninggal nggak wajar itu sebelum meninggal ada ringikan kuda disekitar rumah mereka," ungkap Bi Imah dengan wajah ngeri.

__ADS_1


"Dari mana Bi Imah tahu mereka meninggal nggak wajar?" tanyaku penasaran.


"Keluarga mereka mendengar ringikan kuda, Non dan kondisi jenazah mereka juga sama. Kaki dan tangan menekuk, mulut seperti menyeringai memeperlihatkan gigi mereka. Tidak mungkin itu cuma kebetulan karena sudah menimpa Tiga orang penduduk."


Pantas saja penduduk desa ketakutan, dari semua yang di jabarkan Bi Imah sepertinya orang-orang yang meninggal tidak wajar itu memang dijadikan tumbal pesugihan. Aku juga sudah mendengar sendiri ringikan kuda itu semalam.


Setelah mengobrol panjang lebar dengan Bi Imah yang sudah selesai memasak akupun membantunya untuk menyiapkan sarapan di ruang makan.


Sekitar jam setengah Tujuh Bi Imah pamit pulang untuk mengurus anak bungsunya yang masih duduk disekolah dasar.


"Non, saya pamit dulu sebentar ya mau ngurus anak saya. Nanti saya balik lagi buat beresin semuanya. Tolong bilangin Den Aldi ya." Ucap Bi Imah sebelum pulang.


******


Kami sarapan bersama, rasanya bahagia memiliki sahabat seperti ini. Hal yang dulu tidak pernah terpikirkan olehku.


"Boleh juga ide lo, bagusnya make baju apa ya biar di foto keliatan cantik?" tanya Sella.


"Oh iya, gue cuma bawa baju kasual biasa nih. Bagus nggak ya?" Timpal Amel


"Kalian make apapun juga udah keliahatan cantik kok," kataku jujur.


Sella dan Amel memang tipe cewek yang cantik dan modis, Sella mempunyai kulit putih yang merona dengan hidung kecil yang mancung, rambutnya juga di semir ombre yang sedang hits belakangan ini. Sedangkan Amel juga tidak kalah cantik dibanding Sella, Amel punya kulit kuning langsat yang tampak berkilau. Matanya belo dengan bibir seksi macam kylie jenner. Tidak salah Amel dijuluki kardashiannya kampus.


Berbeda denganku yang mempunyai kulit putih pucat, rambut yang hitam panjang. Mungkin aku tinggal memakai gaun putih panjang agar bisa masuk ke klub mba kunti. Sayangnya aku tidak bisa tertawa cekikian seperti mereka.

__ADS_1


"Coba lo bergaya sedikit, Langen. Pasti lo keliatan lebih cantik dibanding mereka," celetuk Bayu yang langsung di pelototi oleh Amel. Bayu hanya terkekeh seperti biasa.


"Jangan, aku lebih suka liat kamu polos seperti itu. Kelihatan imut," tiimpal Adit sambil menatapku.


"Cieeee." Tentu saja sorakan ini dikeluarkan oleh Sella, Amel, Bayu dan Aldi serempak yang membuatku malu setengah mati.


"Lebih baik kita lanjutkan makan dulu," sahutku sambil menundukan wajahku yang memerah.


******


Setelah selesai sarapan, kami jalan-jalan ke kebun teh. Cuaca masih terasa dingin jadi aku menggunakan jaket. Aku melihat beberapa penduduk desa yang sedang sibuk memetik teh.


Sella dan Amel sedang sibuk berfoto ria dibantu Aldi dan Bayu yang bertugas sebagai fotografer dadakan. Aku dan Adit hanya memeperhatikan.


"Selfie yuk." Ajak Adit yang langsung membuatku kaget.


"Aku gabisa foto, Dit," jawabku yang memang tidak suka foto.


"Tinggal senyum aja kok, sekali doang ya?" pinta Adit.


Akhirnya akupun mengiyakan permintaan Adit. Kami selfie bersama satu kali. Aku merasa wajahku aneh sekali di kamera tapi aku berusaha tersenyum .


"Bagus kan?" tanya Adit sambil menunjukan foto kami tadi padaku.


Sebelum aku menjawab pertanyaan Adit, perhatianku teralihkan oleh kedatangan seorang pria muda yang berjalan cepat ke arah seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk memetik teh.

__ADS_1


"Ceu, Akang Tatang meninggal. Jadi tumbal pesugihan jaran panoleh"


****


__ADS_2