
Sudah satu minggu sejak kematian Ibu dan hari ini aku sudah di perbolehkan pulang, aku menempati kembali kamarku yang sempat di tempati Ibu.
Aroma Ibu masih tertinggal dan membuatku kembali menangis, entah kenapa hidupku jadi begini merana. Sejak ditinggal Bapak semua menjadi terasa menakutkan.
Saat sedang duduk di depan meja belajarku, tidak sengaja aku melihat sebuah buku bersampul ungu muda yang terlihat kusam, Itu bukan buku milikku. Akupun membuka buku kusam itu, disana tertulis "Milik Wulan". Berarti ini adalah milik Ibu, akupun membuka buku itu pelan-pelan dan mulai membaca setiap paragrafnya.
Diary:
Februari 1995
Sudah Enam tahun sejak aku menikah dengan Mas Ageng, hari ini akhirnya aku dinyatakan hamil. Aku begitu bahagia, aku juga melihat Mas Ageng sangat bahagia. Semoga kehamilanku ini membuat rumah tangga kami lebih lengkap.
Membaca setiap kata yang Ibu tulis membuatu tak bisa membendung air mataku, Ibu begitu bahagia saat hamil aku. Lalu aku membuka lembaran-lembaran diary itu lagi dan kembali membaca.
Diary:
April 1995
Kehamilanku akan memasuki bulan ke Tiga, tapi aku mendapat kabar tidak enak dari sahabatku. Katanya dia mendengar obrolan Agus, suaminya dengan Mas Ageng tentang perjanjian dengan siluman ular. Aku tidak tahu apa maksudnya tapi perasaanku menjadi tidak enak.
Aku kembali membuka lembaran berikutnya yang masih ditulis di bulan yang sama.
__ADS_1
Diary:
April 1995
Hari ini aku sedih sekali. Ratih, sahabatku satu-satunya ditemukan meninggal di kebun bambu milik Mas Ageng. Menurut Asih, abdi dalem rumah ini. Ratih ditemukan dengan kondisi mengenaskan, wajahnya hancur. Aku sungguh merasa kehilangan kamu, Ratih.
Ratih? Kenapa nama itu terasa tidak asing bagiku.
Aku kembali membuka halaman berikutnya, hanya ada tulisan-tulisan biasa yang membuatku senyum dan kadang menangis. Dari tulisan itu aku bisa membaca bahwa Bapak sangat mencintai Ibu dan sebaliknya.
Lalu aku berhenti di sebuah halaman yang tulisannya tidak rapi, seperti tulisan lainnya.
Diary:
Aku benci bayi yang ada dalam kandunganku, bayi yang kini sedang aku kandung bukanlah bayiku. Bayi ini adalah bayi iblis hasil dari pergumulan menjijikan Mas Ageng dan siluman ular. Aku akan membunuhnya.
Kenapa Ibu berpikir aku adalah anak siluman ular? Aku berada di rahimnya saat itu. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan semua ini. Karena rasa ingin tahuku akupun tetap membalikan setiap lembar dari buku diary milik ibu.
Diary :
September 1995
__ADS_1
Kandunganku sudah semakin tua, entah kenpa setiap aku berusaha menggugurkan kandunganku tidak pernah berhasil. Justru setiap hari aku melihat penampakan wanita setengah ular dengan wajah mengerikan. Aku ingin mengabari Bagas, adikku yang sekarang ada di Jakarta untuk meminta pulang ke kota. Tapi aku takut dengan Mas Ageng dan aku juga tidak bisa meninggalkannya.
Setelah tulisan itu Ibu sepertinya tidak menulis lagi, karena halaman berikutnya dan seterusnya kosong yang membuatku kecewa. Tapi saat aku akan menutup buku harian itu aku melihat di halaman terakhir ada sebuah tulisan. Sepertinya ini tulisan yang baru-baru ini ditulis Ibu tapi tidak ada bulan yang ibu tambahkan.
Diary:
***Anakku Marlangen, ketika kamu membaca tulisan ini pasti Ibu sudah tidak ada. Maafkan Ibu yang selalu berusaha menyakitimu, melukaimu dan seakan membencimu. Dari lubuk hati Ibu yang paling dalam, Ibu sangat menyayangimu.
Semua ini karena Bapakmu yang nekat bersekutu dengan siluman ular untuk membebaskan keluarganya dari kutukan yang entah Ibu juga tidak tahu.
Alasan Ibu selalu ingin membunuhmu karena Ibu tidak sudi kamu akan menjadi iblis seperti siluman ular itu. Meskipun Ibu ragu kamu anak Ibu tapi akulah yang melahirkanmu, Ibu tidak ingin kamu lebih menderita. Biarlah cukup Ibu yang menderita.
Jika kamu ingin tahu lebih banyak tentang siluman ular itu pergilah ke Sapto Aji, sahabat bapakmu. Dia tahu semuanya.
Ibu menyayangimu Langen, maafkan Ibu tidak pernah bisa selalu ada disampingmu. Kamu bukanlah anak iblis, kamu anakku. Anak yang selalu Ibu rindukan. Ibu benci semua waktu yang harus Ibu lewati tanpa kamu. Harus kamu tahu, betapa inginnya sekali saja Ibu memelukmu dan mengatakan bahwa Ibu sangat sayang padamu.
Tapi hidup kita seakan sudah dikutuk, tidak ada kebahagian untuk Ibu. Tapi kamu harus berjuang untuk bahagia Langen meski tanpa Ibu dan Bapak***
Tidak terasa aku terisak-isak karena dadaku begitu sesak, ada kebahagian yang kurasakan karena ternyata Ibu menyayangiku tapi kepedihan terasa lebih menyergapku
"Langen juga sayang sekali sama, Ibu," gumamku lirih sembari terisak.
__ADS_1
****