Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 10 - Cemburukah?


__ADS_3

Bohong jika Elnara mengatakan dirinya baik-baik saja, karena kenyataannya dia merasa sakit hati. Tidak ada tempat untuknya berkeluh kesah, semua dia pendam seorang diri.


Beruntung ada Fian yang belakangan ini selalu ada menemaninya. Seperti saat ini, Fian menjemput Elnara dari kampus dan mereka tengah makan siang bersama.


"Suami kamu nggak marah aku ajak kamu makan siang bareng?" tanya Fian yang baru menyadari jika dia sudah berbuat jauh.


Elnara tersenyum kecut, ingin rasanya menjawab kalau suaminya bahkan tidak mau repot-repot menanyakan keadaannya. Sayangnya, Elnara tidak mau membuat nama Zayan jelek dimata sahabatnya.


"Santai aja Yan, suamiku bukan tipe pencemburu," jawab Elnara santai.


"Bagus kalau suamimu nggak cemburuan. Berarti dia percaya banget ya sama kamu."


Ucapan Fian sungguh membuat Elnara ingin tertawa keras. Jika Zayan mempercayainya tentu saja dia tidak akan membela Mikha tanpa bertanya padanya lebih dulu.


Elnara sudah akan menimpali ucapan Fian ketika matanya tidak sengaja menangkap bayangan 2 orang yang dia kenali. Mereka adalah Zayan dan Okta yang kebetulan sedang makan siang di restoran dekat kampus Elnara.


"El!" panggil Okta dengan semangat.


Elnara tersenyum, melambaikan tangan pada Okta. Jika saja yang Zayan datang tidak bersama dengan Okta mungkin Elnara akan pura-pura tidak mengenal pria itu.


"Wah, Bang Okta! Gabung sama kita Bang, sudah lama nih kita nggak ngobrol." Fian menyambut Okta dengan penuh semangat, dia belum menyadari sosok pria di samping Okta yang kini menyorot tajam pada Elnara.


"Hai, bro! Gimana kabar lo? Dari mana aja lo baru keliatan?" tanya Okta menyambut Fian dengan penuh semangat.


"Gue baik Bang, baru beberapa bulan ini gue balik ke Indonesia." Keduanya asik bercengkrama tanpa mengetahui ada seseorang yang menatap tidak suka pada mereka.


"Mas Okta, sudah dulu ngobrolnya. Kita makan siang dulu, bentar lagi Mas masuk kerja." Elnara segera memotong percakapan kedua pria itu.

__ADS_1


Sejujurnya Elnara tidak nyaman dengan tatapan yang dilayangkan oleh Zayan kepada dirinya. Entah mengapa Zayan menatapnya tajam seperti itu padahal Elnara merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Oh iya sampe lupa gue, yuk makan siang dulu." Okta menepuk keningnya pelan, bisa-bisanya dia terlalu asik bercerita sampai lupa untuk makan siang.


Keempatnya makan siang bersama dengan keheningan. Elnara sedang tidak ingin bercerita mengenai apapun, dia masih tidak nyaman dengan Zayan yang masih sesekali menatapnya tajam.


Fian sendiri makan dengan tenang, meski ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia bisa melihat tatapan tajam yang dilayangkan oleh pria di samping Okta itu pada Elnara.


"Gue lupa kenalin nih, dia sohib gue dari zaman sekolah." Seolah bisa membaca pikiran Fian Okta segera memperkenalkan Zayan.


"Fian," ucap Fian memperkenalkan dirinya.


Zayan hanya menyambut uluran tangan Fian dengan singkat. Dia sedang kesal karena Okta memperkenalkannya hanya sebagai seorang sahabat, bukan sebagai suami dari adik sepupunya.


Tidak ada yang tahu bahwa Okta sedang bermain-main dengan perasaan Zayan. Okta ingin melihat seperti apa reaksi Zayan melihat Elnara bersama pria lain dan tidak memperkenalkan dirinya sebagai suami gadis itu.


Makan siang sudah berlalu, Elnara dan Fian pergi lebih dulu karena Elnara masih memiliki jadwal kuliah. Kini hanya tinggal Zayan dan Okta, keduanya belum ingin beranjak dari restoran.


"Siapa dia?" tanya Zayan ketika memastikan Elnara dan Fian sudah pergi.


"Dia siapa maksud lo?" tanya balik Okta yang sengaja membuat Zayan emosi.


"Kamuu tahu maksud saya Okta. Sekarang cepat katakan siapa pria itu. Saya cukup terkejut dia bisa kenal dengan kamu dan Elnara."


"Dia sahabat El sekaligus pria yang tergila-gila sama El. Gue kaget sih dia balik lagi ke Indonesia, seandainya El belum nikah gue jamin Fian yang bakal nikahin El."


Ucapan Okta sukses membuat Zayan semakin panas. Zayan sendiri cukup terkejut karena dia merasa tidak suka melihat Elnara bisa tertawa lepas bersama pria lain.

__ADS_1


"Jangan-jangan mereka menjalin hubungan," ujar Zayan asal.


"Enak aja lo ngomong, lo pikir El cewek apaan. Jangan samain dia sama lo yang berbuat curang!" balas Okta dengan kejam.


"Saya nggak berbuat curang. Berapa kali harus katakan, hubungan saya dan Mikha hanya sebatas rekan kerja!" bantah Zayan yang tidak ditanggaii oleh Okta.


"Tererah lo! Lagian, kenapa juga lo mau tahu hubungan El sama Fian? Lo cemburu?"


Zayan tebelakak kaget mendengar pertanyaan dari OKta. DIa sendiri tidak tahu mengapa bisa bersikap seperti ini.


"Saya nggak cemburu!" Zayan kembali membantah yang dibalas senyum penuh ejekan dari Okta.


"Bagus kalau lo nggak cemburu, biar gue nggak merasa bersalah karene berharap cinta Fian eterbalaskan."


"Kamu lupa kalau Elnara itu istri saya?"


"Gue nggak lupa, tapi sebagai seorang kakak gue jelas lebih bahagia melihat adik gue dicntai bukan mencintai sepihak!" tandas Okta dengan tegas yang tidak bisa dibatah oleh Zayan.


Apa yang dikatakan oleh Okta benar, sebagaii seorang kakak tentu Okta lebih memihak Fian yang terlihat begitu tulus mencintai Elnara apa adanya.


"Zayan, gue tahu perasaan lo sama El. Gue tahu lo nggak punya rasa cinta sama dia, jadi berhenti bersikap seolah lo cemburu! Jangan buat adik gue berharap kalau pada akhirnya lo sakiti."


Usai mengatakan hal itu Okta segera pergi meninggalkan Zayan yang tidak bisa membalas setiap perkataan Okta.


"Ya, kamu benar Okta, kenapa saya harus bersikap seperti pria yang cemburu kalau saya sendiri tidak punya perasaan apapun pada Elnara selain rasa benci?" Gumam Zayan sembari tersenyum tipis.


Zayan ingin menertawakan dirinya sendiri karena bersikap seperti suami yang pencemburu. Boleh Zayan memukul dirinya sendiri agar kembali waras?

__ADS_1


To Be Continue ~~>


__ADS_2