Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 41 - Zayan Sakit


__ADS_3

Beberapa minggu telah terlewat dan Okta tidak kunjung mendapat restu dari Windi. Berbagai cara telah pria itu lakukan, sayangnya Windi masih enggan memberi maaf.


Vika sendiri tidak bisa berbuat banyak karena selain sifat Windi yang keras, wanita itu adalah satu-satunya keluarga yang Vika miliki.


Sementara itu Genta dan Almira terus mendesak Okta untuk segera rujuk dengan Vika.


"Okta nggak tahu harus berbuat apa, Mi." Ujar Okta dengan frustasi ketika Almira menanyakan kapan dia akan rujuk dengan Vika.


"Maksud kamu apa?" tanya Almira yang masih belum mengetahui perihal penolakan Windi.


"Kak Windi nggak merestui kami untuk rujuk, dia bahkan nggak mau memaafkan kesalahan Okta."


Sebenarnya Almira sudah pernah menduga hal ini, tapi dia tidak menyangka jika sampai saat ini Windi masih belum memberi restu.


"Anggaplah ini hukuman untuk kamu yang sudah menyia-nyiakan Vika. Nikmati prosesnya dan buktikan kalau kamu benar-benar serius."


"Iya Mami, Okta sadar apa yang sudah Okta perbuat di masa lalu dan sekarang adalah balasan untuk Okta. Mami sama Papi tenang saja, Okta akan memperjuangkan Vika dan membuktikan kalau Okta benar-benar mencintai Vika dengan tulus."


Perkataan Okta membuat Almira tersenyum lembut, sebagai seseorang yang turut membesarkan Okta tentu saja Almira merasa bersalah.


"Mami dan Papi akan selalu berdoa untuk kamu, jangan menyerah. Jika kamu dan Vika kesulitan, Mami akan selalu siap membantu kalian."


"Terima kasih, Mi. Terima kasih karena selalu di samping Okta," ucapn Okta dengan tulus.


Keduannya tersenyum hangat, saling menyalurkan rasa sayang lewat tatapan hangat. Meski keduanya bukan Ibu dan anak kandung, tapi kasih sayang mereka begitu besar dan penuh ketulusan.


*


Zayan pulang dari kantor dengan keadaan lemas, wajah pria itu terlihat pucat membuat Elnara menatapnya khawatir.


"Mas Zayan pucat banget, ayo Mas duduk dulu." Elnara segera menghampiri Zayan, menuntun suaminya itu untuk segera duduk di sofa kamar.


"Kepala saya pusing," keluh Zayan lemah.

__ADS_1


"El bantu ganti baju dulu ya, setelah itu makan dan minum obat." Elnara sudah akan berdiri untuk mengambil pakaian ganti Zayan ketika pria itu justru memeluknya dengan erat.


"Jangan kemana-mana," pinta Zayan lirih.


"El cuma mau ambil baju ganti, Mas lepas dulu ya. El nggak kemana-mana kok," bujuk Elnara yang mendapat penolakan dari Zayan.


"Nanti saja, saya masih mau peluk kamu." Zayan mengeratkan pelukannya membuat Elnara tidak bisa bergerak bebas.


"Mas Zayan harus ganti baju, makan dan minum obat. Sebentar saja kok Mas, setelah itu El temani Mas tidur."


Zayan terdiam sejenak sebelum akhirnya melepaskan Elnara. Tawaran Elnara menemaninya tidur terdengar menarik.


Setelahnya, Zayan benar-benar hanya duduk patuh di atas sofa ketika Elnara membantunya mengganti pakaian. Pria itu juga dengan patuh menerima suapan dari Elnara serta meminum obat yang diberikan istri cantiknya itu.


Elnara sedikit lega karena Zayan mau diajak kompromi. Selama 1 tahun menikah, inilah pertama kalinya Zayan jatuh sakit dan Elnara sedikit bingung bagaimana merawat pria itu.


"Elnara? Katanya kamu mau menemani saya tidur," suara serak Zayan menyadarkan Elnara yang ternyata masih duduk di atas sofa.


Zayan sudah siap tidur di atas ranjang, menanti Elnara untuk bergabung dengannya. Tanpa berkomentar Elnara segera bergabung dan langsung disambut pelukan erat dari Zayan.


Zayan tersenyum kecil, entah mengapa memeluk Elnara bisa menghilangkan rasa sakitnya. Elnara seolah obat mujarab untuknya.


Malam ini adalah awal untuk Elnara karena keesokan harinya Zayan justru bersikap lebih manja dan tidak pernah mau Elnara jauh dari jangkauannya.


Seperti saat ini ketika Doni dan Fanya menjenguknya, pria itu justru memilih untuk tidur di atas sofa ruang tamu berbantalkan kedua paha Elnara. Alasannya tentu saja tidak ingin sang istri meninggalkannya.


"Fanya baru tahu kalau Mas bisa semanja ini," ejek Fanya yang tidak dihiraukan oleh Zayan.


"Fanya!" tegur Doni pelan.


Genta dan Almira hanya tertawa kecil, awalnya mereka juga kaget melihat sikap manja Zayan.


"Mas Zayan lagi sakit, jadi wajar dong sedikit manja." Jawab Elnara sembari mengelus lembut kening Zayan.

__ADS_1


"Sama seperti Papi kamu El, dia juga manja banget kalau lagi sakit." Ucap Almira santai yang justru membuat Genta malu, pria itu merasa wibawanya turun karena ucapan Almira.


"Kalau itu sih El juga tahu Mami, bisa dibilang El ini saksi mata kemanjaan Papi." Goda Elnara yang disambut tawa Almira, Doni dan Fanya.


"Sudah kalian jangan ribut! El bantu Zayan kembali ke kamar, sepertinya Zayan mau tidur." Perkataan Genta mengalihkan perhatian semua orang yang kini menatap Zayan.


"Mas Zayan, yuk kembali ke kamar. Mas tidur di kamar saja biar lebih nyaman."


Dengan lembut Elnara membantu Zayan untuk bangun dan menuntun pria itu untuk masuk ke dalam kamar. Pemandangan itu sungguh menghangatkan hati mereka.


"Saya bersyukur karena El bisa menerima Zayan lagi, terima kasih karena Pak Genta dan Bu Almira mau menerima Zayan lagi." Ucapan tulus itu datang dari Doni yang kini menunduk malu. Pria itu merasa malu atas sikap Zayan selama ini.


"Mereka saling mencintai, saya bisa melihat hal itu. Untuk alasan sederhana itulah saya memaafkan Zayan," jawab Almira dengan bijak.


"Kami senang karena kesempatan kedua ini bisa digunakan dengan baik. Sekarang, sebagai orang tua kita hanya bisa mendoakan agar rumah tangga anak-anak kita bisa langgeng."


Genta berkata dengan penuh wibawa, menunjukkan tidak ada penyesalan untuk kesembuhan yang telah dia berikan untuk Zayan. Keempatnya terdiam selama beberapa saat sebelum kembali membuka percakapan lain.


Tidak ada yang menyangka bahwa sebentar lagi akan ada badai untuk menguji Zayan dan Elnara. Badai yang berawal dari seseorang yang tidak pernah mereka sangka.


To Be Continue ~~>>


Rekomendasi novel keren dan menarik untuk kalian. Yuk, mampir dan dukung karyanya ya 😊👇


Judul : Wanita Pengganti Kekasih Sang CEO


Author : SyaSyi



Blurb :


Clara Wilson dan Elena Gloria adalah dua wanita yang berbeda, tetapi memiliki wajah dan bentuk tubuh yang sangat mirip. Mereka seperti kembar. Namun, mereka memiliki sifat yang berbeda. Clara memiliki sifat angkuh, sedangkan Elena memiliki sifat ramah dan lembut.

__ADS_1


Demi sebuah karier, Clara rela memutuskan hubungan dengan Alexander Dimitri. Pria yang sudah dua tahun menjalin hubungan dengannya. Bahkan dua bulan lagi mereka berencana menikah, dan sudah bertunangan. Pertemuan Alexander dengan Elena merubah segalanya. Alexander menjadikan Elena sebagai wanita pengganti, kekasihnya yang telah pergi meninggalkan dirinya.


Akankah Alexander jatuh cinta dengan Elena, wanita sang pengganti? Bagaimana kisah selanjutnya hubungan mereka? Apa reaksi Clara saat dirinya mengetahui sosok pengganti dirinya?


__ADS_2