Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 65 - Restu yang Dinanti


__ADS_3

Pada akhirnya Windi melembutkan hatinya dan memilih menyerah. Yang dia inginkan adalah kebahagiaan Vika dan itu adalah bersama Okta. Windi hanya bisa berdoa semoga Okta dan Vika bisa bahagia bersama. Dengan keikhlasan dan harapan sederhana, Windi memberikan restu untuk hubungan mereka.


Windi percaya setelah perjalanan menyakitkan untuk keduanya, mereka sama-sama belajar dari masa lalu. Menghargai pasangan dan saling terbuka.


Di sinilah Okta berada, duduk di hadapan Windi yang sedari tadi masih diam. Okta sendiri tidak tahu harus berbuat apa, tidak ada Vika yang bisa mengusir kecanggungan ini.


"Kamu menyesal dengan yang sudah terjadi?" tanya Windi membuka percakapan.


"Iya Kak, bahkan sejak tahu apa yang terjadi saya nggak bisa menghilangkan rasa bersalah dan takut ini. Seandainya saya bisa mengulang waktu, seharusnya saya berjuang meyakinkan Vika untuk tetap bersama."


"Ini adalah pelajaran berharga yang Tuhan berikan untuk kalian. Kalian harus mencoba ikhlas dan memulai semua dari awal."


Okta hanya diam menunggu kata-kata selanjutnya dari Windi.


"Aku akan beri kalian restu asalkan kalian yakin menjalani kehidupan baru kalian dengan sungguh-sungguh. Jadikan apa yang sudah terjadi sebagai pelajaran berharga!" Windi berkata dengan tegas.


Okta menoleh kaget, dia tidak menyangka Windi akan memberikan restu secepat ini.


"Kak Windi benar-benar kasih restu untuk kita?" tanya Okta yang masih tidak percaya.


"Ya, setelah dipikirkan ini yang terbaik untuk kalian. Kalian saling mencintai dan aku nggak punya hak untuk memisahkan kalian. Doaku hanya kebahagiaan dan yang terbaik untuk kalian berdua."

__ADS_1


"Terima kasih, Kak ... terima kasih untuk restu Kak Windi." Okta tidak bisa menutupi rasa bahagianya, pria itu tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


Ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka. Okta berharap tidak ada lagi halangan untuk hubungan mereka kedepannya.


*


*


Vika menangis terharu saat mendengar Windi memberikan restu untuk hubungannya bersama Okta. Ternyata Windi berusaha untuk melembutkan hatinya dengan kebahagiaan Vika.


Kabar bahagia ini segera Vika sampaikan pada Elnara. Dia ingin sahabat baiknya itu ikut merasakan bahagia.


"Gue senang banget, gue berharap ini langkah yang baik untuk gue dan Mas Okta." Vika melebarkan senyumnya saat melihat bayi kecil Elnara membuka mata.


"Aamiin ... Lo mau gendong?" tanya Elnara saat menyadari tatapan Vika.


"Gue mau, tapi gue takut El." Vika berusaha menahan tangannya yang terasa gatal ingin mencubit gemas pipi Alzam.


"Coba saja, gue yang bantu. Biar lo terbiasa juga nantinya." Dengan perlahan Elnara menyerahkan Alzam pada Vika yang menyambut dengan gugup.


Tanpa bisa dicegah Vika menangis. Membayangkan jika anaknya lahir mungkin dia sudah direpotkan dengan berbagai hal.

__ADS_1


"Kok lo nangis? Lo bayangin calon anak lo ya?" Elnara bertanya lembut sembari mengusap bahu Vika agar sahabatnya itu bisa menenangkan diri.


"Gue ngebayangin gimana rasanya jadi Ibu dan direpotkan oleh anak gue. Meski gue mencoba terlihat baik-baik saja, nyatanya gue nggak bisa El. Saat lo lahiran, gue nangis dengan perasaan bersalah."


"Vi, lo harus ikhlas. Jangan selalu nangis begini, lo bilang mau memulai kehidupan baru. Gue tahu pasti berat, tapi coba untuk merelakan ya. Ingat Tuhan akan mengganti semua hal yang hilang dari lo dengan ganti yang lebih baik."


Vika menganggu dengan air mata yang masih mengalir. Saat Vika kehilangan orang tuanya dia sibuk menyalahkan takdir kejam Tuhan. Saat dia kehilangan anaknya, dia sibuk menyalahkan diri sendiri.


Vika akui dia selalu berlarut-larut dalam kubangan kesedihan hingga lupa jalan kembali. Dia merasa beruntung memiliki Elnara sebagai sahabat yang bisa menjadi sandarannya. Elnara selalu bisa menenangkan hatinya yang gelisah.


"El, doakan gue ya kalau nanti nikah lagi sama Mas Okta gue bisa cepat punya anak. Gue mau jadi Ibu, gue mau bahagia El."


"Gue selalu doakan yang terbaik buat lo. Nah, untuk sekarang lo bisa belajar jadi Ibu Alzam. Tuh liat, Alzam senyum liat lo itu artinya dia suka sama lo."


Vika dan Elnara tertawa gemas melihat wajah imut Alzam yang tengah tersenyum. Secara wajah Alzam itu seperti Zayan versi bayi, tapi secara sifat sungguh mirip dengan Elnara.


Vika jadi membayangkan jika besar nanti Elnara akan menghadapi Alzam seperti menghadapi Zayan dengan sifat seperti dirinya.


Bersambung ~~


Beberapa bab lagi akan tamat ya. Yuk, ikutin karya author yang lain, ada chat story juga loh 😁🥰

__ADS_1


__ADS_2