
Elnara menyiapkan sarapan dengan senyum indah yang menghiasi wajah cantiknya. Selama 1 minggu ini hubungannya dengan Zayan semakin membaik. Suaminya itu setuju untuk menjalankan kehidupan pernikahan norma seperti permintaan Elnara.
Zayan juga bersikap baik dan menuruti apa saja yang diinginkan Elnara. Setelah mengiyakan permintaan Elnara, Zayan langsung berubah menjadi lebih baik. Sepertinya pria itu bisa menjalankan perjanjian dengan baik.
"Saya ada meeting sore nanti, jadi kemungkinan akan makan malam di luar. Kamu nggak perlu masak, saya bawakan makan malam untuk kamu." Kalimat sederhana dari Zayan tentu membuat Elnara semakin berbunga-bunga.
Menurut Elnara, selama 1 minggu ini Zayan benar-benar seperti suami idaman meski sedikit kaku dan tidak banyak bicara. Elnara berharap ini adalah awal yang bagus untuk hubungan mereka, mungkin dikemudian hari Zayan bisa membuka hati untuknya.
“Terima kasih, Mas. Ehm ... El boleh ngatar makan siang untuk Mas Zayan?” Elnara bertanya denga hati-hati, seminggu ini Elnara menahan diri untuk tidak mengantarkan makan siang untuk Zayan.
Zayan hanya berdeham singkat menjawab pertanyaan Elnara. Meski begitu, Elnara tetap merasa senang karena Zayan mengizinkannya. Sejujurnya, Elnara ingin membuat Mikha tahu bahwa hubungannya dengan Zayan telah membaik, mungkin dengan begitu Mikha sadar dan memilih mundur.
*
"Gue lihat akhir-akhir ini lo lebih ceria, abis menang togel lo?" tanya Vika asal ketika melihat wajah cantik Elnara yang berseri.
"Sembarangan lo, gue cuma lagi bahagia aja. Ada beberapa hal yang berjalan baik, gue berharap sih semoga ini semua bertahan lama." Elnara menjawab masih dengan senyum manis dibibirnya.
"Gue senang liat lo ceria lagi, gue berdoa semoga lo bahagia terus. Jangan murung lagi ya, gue nggak tega liat lo gitu."
"Thank you, lo emang sahabat baik gue yang selalu pengertian."
"Kalau gitu makan siang bareng yuk, bentar lagi jam makan siang nih." Ajak Vika saat melihat jam menunukkan pukul setengah 12 siang.
"Ya ampun, gue lupa. Gue balik duluan ya, gue janji sama Mas Zayan mau bawain makan siang. Sorry, gue nggak bisa nemenin lo makan siang."
Vika tersenyum kecil sebelum mengangguk dan mempersilahkan Elnara untuk pulang lebih dulu. Sejujurnya, Vika tidak merasa yakin dengan Zayan, dia tidak mau Elnara tersakiti. Namun, mau bagaimana lagi jika kebahagiaan Elnara adalah bersama dengan Zayan.
"Vika?" Merasa namanya dipanggil, Vika segera menoleh dan mendapati Okta berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Mas Okta, apa kabar Mas?" Vika menyapa dengan canggu terlebih di samping Okta berdiri seorang wanita cantik.
"Baik, kamu sendirian? Mana El? Biasa kalian kemana-mana selalu berdua." tanya Okta santi tanpa memedulikan senyum kaku Vika.
"El pulang duluan, Mas. Katanya mau ngantar makan siang untuk Mas Zayan. Kalau gitu VIka duluan ya Mas, permisi."
Belum sempat Okta menjawab, Vika sudah lebih dulu pergi. Setelah beberapa tahun gadis itu masih menghindarinya. Okta tidak bisa berbuat banyak karena inilah yang terbaik untuk mereka berdua.
*
Elnara baru sampai di depan ruangan Zayan ketika melihat Mikha keluar dari ruangan tersebut. Raut wajah wanita itu menggambarkan kekecewaan, Elnara yakin Zayan baru menolak wanita itu.
"Ada perlu apa?" tanya Mikha dengan raut wajah tidak bersahabat.
"Saya rasa Mbak nggak perlu tahu saya ada perlu apa sama suami saya sendiri." Elnara menjawab dengan tenang kemudian segera masuk ke dalam ruangan Zayan tanpa mau menatap wajah Mikha.
Melihat hal itu membuat Mikha semakin panas, tapi dia yakin sebentar lagi Elnara akan keluar dengan wajah sedihnya karena ditolak oleh Zayan. Namun, sampai setengah jam Mikha menunggu tidak ada tanda-tanda Elnara akan kelua dari ruangan Zayan.
Mikha semakin kesal karena merasa Zayan mulai membuka hatinya untuk Elnara. Demi apapun, Mikha tidak rela hal itu terjad karena dia telah berjuang sejauh ini demi meluluhkan hati Zayan.
Tidak lama Elnara keluar dari ruangan Zayan bersama pria itu. Wajah Elnara terlihat cerah membuat Mikha semakin dibakar api cemburu. Belum lagi melihat Zayan mengantar Elnara sampai di depan lift.
"Kalian berbaikan?" tanya Mikha langsung ketika Zayan lewat di depannya.
Zayan tidak menjawab, pria itu memilih masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Mikha yang masih terus bertanya.
"Zayan, jawab aku! Kamu baikan sama Elnara?" tanya Mikha lagi.
"Iya," jawab Zayan singkat.
"Oh, jadi karena hal ini kamu menjauhiku selama satu minggu ini. Jahat banget kamu, selama ini kamu anggap kedekatan kita ini apa?"
"Saya nggak mau bahas ini sama kamu dan saya rasa nggak ada yang salah kalau saya berhubungan baik sama istri saya sendiri."
__ADS_1
"Kamu nggak bisa melakukan hal ini sama aku Zayan! Aku cemburu dan aku nggak suka mau dekat sama Elnara! Aku minta kamu jauhi dia lagi!" Mikha mulai berteriak marah, menatap wajah Zayan dengan kecewa.
"Kalau kamu lupa, dia itu istri saya! Suka atau tidak, kamu harus terima kenyataan dia istri saya dan nggak ada larangan saya dekat dengannya." Zayan menjawab dengan tenang meski raut wajah mulai terlihat kesal.
"Bagaimana dengan aku Zayan? Sekalipun dia istri kamu, tapi aku adalah wanita yang kamu cintai dan kamu tahu pasti seberapa besar cinta yang aku miliki untuk kamu."
"Bisa berhenti bahas hal ini? Saya nggak mau berdebat sama kamu!" Zayan berbalik, siap untuk kembali ke meja kerjanya.
"Kamu lebih milih dia daripada aku?" Mikha mulai menunjukka air matanya, merasa sakit hati akan semua tindakan Zayan selama 1 minggu ini.
"Jangan mulai!" ucap Zayan memberi peringatan.
"Kamu lebih milih dia orang yang kamu baru kenal sema satu tahun ini daripada aku? Kamu tahu gimana tersiksanya aku jauh dari kamu dan harus menderita karena lumpuh? Dan sekarang saat aku kembali kamu lebih memilih gadis lalin yang baru kamu kenal!"
"Cukup!" bentak Zayan marah.
"Tolong jangan tinggalin aku Zayan, aku nggak sanggup kalau harus pisah lagi sama kamu." ujar Mikha memohon dengan sangat menyedihkan.
"Bersabarlah," ucap Zayan pelan membuat Mikha mentapnya tidak mengerti.
"Apa maksud kamu?" tanya Mikha bingung.
"Jika kamu ingin kembali, yang perlu kamu lakukan adalah bersabar. Bersabarlah hingga beberapa minggu lagi."
Mikha menatap Zayan tidak percaya sebelum akhirnnya bertanya, "kamu akan kembali padaku?"
"Ya," jawab Zayan singkat.
Mikha tersenyum senang, merasa sangat bahagia mendengar hal ini. Zayan akan kembali padanya, inilah yang dia tunggu selama ini.
Keduanya saling tatap tanpa menyadari ada seseorang yang diam-diam mendengar semua pembicaraan mereka.
Seseorang yang kini berlari menahan tangis yang menyesakkan dada. Dia adalah Elnara yang kembali ke ruangan Zayan karena ponselnya tertinggal. Namun, Elnara justru dikejutkan dengan pembicaraan sepasang mantan kekasih itu atau mungkin sudah menjalin kasih kembali?
__ADS_1
To Be Continue ~~>>