
Zayan benar-benar tidak tahu jika Elnara pulang ke rumah orang tuanya. Kemarin dia harus terjebak dengan karyawan lain yang ingin merayakan ulang tahunnya.
Tadi pagi saat pulang ke rumah, Zayan pikir Elnara masih tidur sehingga memutuskan untuk tidak membangunkan gadis itu.
Tidak ingin masalah ini terus berlarut dan justru berakhir dengan kekacauan, akhirnya Zayan memutuskan untuk ke rumah orang tua Elnara demi menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Undur semua jadwal saya hari ini dan jangan ganggu saya dengan pekerjaan!" perintah Zayan pada Mikha yang duduk di depan mejanya dengan wajah sedih.
Zayan tidak punya banyak waktu untuk menanyakan apa yang terjadi pada wanita itu. Ada hal yang lebih penting untuk dia urus.
"Kamu mau kemana?" tanya Mikha saat sadar Zayan akan pergi.
"Ada urusan penting yang harus saya urus, kamu atur ulang jadwal hari. Ingat jangan ganggu saya untuk hari ini!" Zayan sudah bersiap pergi ketika Mikha kembali bersuara.
"Mau menemui El? Sepenting apa dia sampai kamu rela membatalkan jadwal hari ini?" Mikha bertanya dengan marah.
Zayan berbalik dan menatap sinis pada Mikha, "kalau kamu lupa, dia itu istri saya jadi tentu saja dia penting!"
Mikha semakin marah mendengar ucapan Zayan, bahkan pria itu sudah pergi meninggalkannya begitu saja. Sekali lagi Mikha merasa Zayan semakin jauh dan hal itu karena kehadiran Elnara.
*
Tiba di rumah mertuanya yang Zayan dapatkan justru pengusiran kejam oleh Genta. Pria itu dengan kejam menutup pintu untuk Zayan dan mengabaikan sang menantu yang terus memanggil nama Elnara.
"Elnara, saya tahu kamu dengar suara saya. Tolong keluar, kamu salah paham. Biarkan saya menjelaskan apa yang terjadi!" Zayan terus berteriak mengabaikan tatapan prihatin dari pekerja di rumah mertuanya.
Sedangkan Elnara yang mendengar kegaduhan segera keluar kamar. Betapa terkejutnya gadis itu ketika mendengar suara Zayan yang berteriak memanggil namanya.
"Kamu mau menemuinya?" pertanyaan itu datang dari Almira yang tengah duduk santai di rumah tamu.
__ADS_1
"Mami? Itu benar-benar Mas Zayan?" tanya Elnara yang tampak tidak percaya mendengar suara Zayan.
"Iya, kenapa? Kamu luluh dan berniat menemuinya?" Almira kembali bertanya dengan tenang, wanita itu seakan menikmati suara teriakan Zayan di luar sana.
"Nggak, Mi ... El cuma kaget aja Mas Zayan datang." Elnara menjawab dengan ragu, dia masih bingung alasan Zayan datang dan berteriak seperti itu.
"Kalau begitu masuk kamar, kamu lebih baik istirahat. Biarkan suami kamu itu di luar, dia harus merasakan frustasi seperti yang sudah kamu rasakan."
Elnara menagngguk patuh, gadis itu segera kembali ke kamar meski hatinya masih berharap bisa mendengar Zayan meneriakan namanya.
"El!" panggilan Almira menghentikan langkah kaki Elnara yang kini sudah berdiri dianak tangga pertama.
"Iya, Mi?" Elnara menoleh menatap Almira yang kini berjalan mendekatinya.
"Mami nggak tahu apa yang terjadi sama pernikahan kalian. Selama ini Mami kira semua baik-baik saja, tapi ternyata Mami salah. Maaf Mami terlambat tahu masalah ini, sebagian seorang Ibu seharusnya Mami tahu keadaan kamu."
"Mami nggak salah, El yang salah karena menutupi semua ini dari Mami. Maafin El, seharusnya El bisa terbuka sama Mami. Sekarang semua berantakan dan El nggak tahu harus berbuat apa."
Almira melepas pelukannya dan dengan lembut menghapus air mata Elnara yang masih mengalir membasahi pipi pucat itu.
"El, Mami mengatakan ini sebagai bentuk kepedulian dan perlindungan Mami terhadap putri Mami. Ingat Nak, sesuatu yang dipaksakan tidak akan berakhir baik. Kalau hanya memberi luka, lebih baik lepaskan. Mungkin ini yang terbaik untuk El, kegagalan dalam rumah tangga bukan hal yang memalukan. Jangan pikirkan hal lain selain hati kamu, pikirkan hati kamu jangan sampai terus terluka hingga tidak bisa disembuhkan."
Elnara tahu semua perkataan Almira adalah hal yang benar. Selama ini dia memaksa Zayan agar pernikahan mereka terus berjalan, tapi Elnara lupa bahwa pernikahan mereka terasa hambar dan hanya memberi luka untuk mereka berdua.
"Mami, El sudah ngambil keputusan. Boleh El bicarakan hal ini sama Mas Zayan?" Almira tersenyum hangat sebelum mengangguk, mengizinkan Elnara bertemu dengan Zayan.
Setelah mendapat izin, Elnara segera membuka pintu dan mendapati Zayan yang kini menatapnya penuh kelegaan. Elnara berusaha untuk tetap tersenyum meski hanya menatap Zayan saja mampu membuat hatinya kembali terluka.
"Syukurlah kamu membuka pintu, saya mau menjelaskan tentang semalam--" ucapan Zayan terpotong ketika Elnara dengan cepat menyela.
__ADS_1
"Mas, ada yang mau El bicarakan. Boleh El bicara lebih dulu?" Elnara berbicara dengan hati-hati, mereka harus membicarakan hal ini dengan kepala dingin agar tidak ada dendam.
"Baiklah," putus Zayan pada akhirnya membiarkan Elnara berbicara lebih dulu.
"Sebelumnya, El mau bilang terima kasih untuk tiga puluh hari yang Mas berikan. El senang bisa merasakan menjadi istri Mas, maaf Mas sudah buat waktu Mas terbuang sia-sia. Tadi malam adalah malam terakhir dari perjanjian itu dan Mas sudah menentukan pilihan, karena itu El mau mengucapkan terima kasih dan selamat tinggal untuk Mas. El melepaskan Mas dengan ikhlas, Mas nggak akan merasa tersiksa dengan pernikahan ini."
Elnara mengucapkan semua itu sambil menahan tangisnya. Seperti apapun sikap Zayan selama ini tidak akan pernah membuat Elnara mampu membenci pria itu. Elnara dengan bodoh tetap mencintai Zayan meski tahu cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Elnara, dengar semua itu cuma--" ucapan Zayan kembali terpotong ketika Elnara memilih berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Elnara berlari menuju kamarnya dengan air mata yang kembali membasahi pipinya. Tidak dia pedulikan teriakan Zayan yang terus memanggil namanya dan meminta untuk mendengar semua penjelasan pria itu.
Zayan sudah akan menyusul langkah Elnara yang sayangnya gagal ketika Okta muncul di depan pintu. Pria yang merupakan sahabat baik Zayan itu dengan kasar mendorong tubuh Zayan hingga mundur beberapa langkah.
"Gue sudah pernah bilangkan, jangan pernah menyakiti El atau lo akan kehilangan dia. Gue sudah ngasih lo kesempatan dan lo dengan bodohnya membuang kesempatan yang lo miliki." Okta berkata dengan tegas seraya menutup pintu rumah dari luar agar Zayan tidak memiliki akses masuk.
"Okta, dengar ini cuma kesalahpahaman. Biarkan saya menjelaskan ini semua sama Elnara, dia harus tahu apa yang terjadi." Ucap Zayan dengan tenang dan masih memaksa untuk masuk ke dalam rumah.
"Kesempatan yang lo punya sudah habis, jadi lebih baik lo pergi sekarang!"
"Kamu nggak bisa mengusir saya seperti ini!"
"Bisa, gue jelas bisa karena gue kakaknya El dan gue nggak terima lo nyakitin adek gue!"
"Okta, saya--"
"Lo bilang kalau lo akan lepaskan El ketika dia sendiri yang meminta hal itu 'kan? Sekarang dia yang melepaskan lo dan itu artinya lo juga harus melepaskan dia!"
To Be Continue ~~>>
__ADS_1