Marriage With(Out) Love

Marriage With(Out) Love
Bab 57 - Memulai Kehidupan Baru


__ADS_3

Vika mengatakan pada Elnara bahwa dia akan bercerai dari Okta. Hal yang pertama Elnara lakukan adalah memeluk Vika dengan erat sembari menangis.


Elnara tidak bertanya apa alasan perceraian mereka karena dia tahu masalahnya pasti berasal dari Okta. Sedangkan Genta dan Almira tidak banyak berkomentar karena mereka tahu salah satu penyebab perceraian Okta dan Vika.


Saat ini Elnara mengantarkan Vika yang berniat untuk menenangkan diri setelah resmi bercerai. Wanita yang menyadari status baru itu ingin berlibur seorang diri ke kampung halaman orang tuanya.


"Lo hati-hati di sana ya, jangan lupa selalu hubungi gue. Satu lagi, jangan lama-lama di sana." Ujar Elnara sembari memeluk erat Vika seolah tidak rela ditinggalkan sahabat baiknya itu.


"Gue bakal balik kalau sudah lebih tenang, tapi gue nggak bisa jamin untuk hubungin lo. Biasalah di kampung, sinyal lumayan susah." Vika tersenyum berusaha menenangkan Elnara yang terlihat sangat sedih.


"Tolong saat lo kembali lo sudah jadi Vika yang dulu. Seburuk apapun hubungan lo sama Mas Okta, gue tetap sahabat lo."


Mata Elnara berkaca-kaca, gadis itu berusaha menahan tangisnya. Meski Vika berkata hanya akan pergi sementara, tapi tetap saja Elnara merasa kehilangan sahabatnya itu.


"Gue akan kembali sebagai sahabat lo, jaga diri lo. Ingat jangan nangis!" Sekali lagi Vika memeluk Elnara kemudian bergegas pergi sebelum sahabatnya itu menangis.


"Lo harus bahagia dan lupain si breng*sek Okta. Gue yakin suatu saat nanti si b*d*h akan menyesal!" gumam Elnara yakin sembari menatap kepergian Vika.


Sementara Vika berharap dia bisa segera melupakan Okta dan semua rasa sakit yang pria itu berikan. Vika ingin memulai kehidupan barunya dengan melupakan kenangan apapun yang berhubungan dengan Okta.


*


*


"Dari mana, El?" tanya Okta yang kebetulan berada di rumah orang tua Elnara.


Elnara hanya menatap sekilas pada Okta tanpa berniat menjawab pertanyaan pria itu. Entah mengapa Elnara merasa sakit hati pada Okta meski dia masih belum tahu penyebab perceraian Okta dan Vika.


"El, Mas tanya sama kamu. Kamu dari mana?" tanya Okta sekali lagi.


Elnara berbalik menatap tidak suka pada Okta yang masih menunggu jawabannya. Tidak ingin membuat keributan di rumah akhirnya Elnara memilih mengalah.


"Dari bandara," jawab Elnara singkat.


"Ngapain kamu ke bandara?" tanya Okta lagi yang tampak tidak puas dengan jawaban Elnara.


"Bukan urusan Mas," ucapan Elnara berhasil memancing emosi Okta.

__ADS_1


"El!" tegur Okta membuat Elnara menghela napas kesal.


"Ngantar Vika pergi, dia mau pindah ke kampung orang tuanya." Elnara memberi jawaban dengan sedikit melebihkan.


Okta terlihat kaget mendengar informasi itu, dia sedikit tidak percaya dengan perkataan Elnara.


"Jawab yang jujur, kemana Vika?" pertanyaan Okta sukses mengundang senyum sinis Elnara.


"Ngapain juga nanya-nanya, sudah nggak ada urusan!" Elnara menyahut dengan kasar, dia menatap tidak suka pada Okta yang terus memaksanya.


"El, tolong jawab dengan jujur!" pinta Okta yang tentu saja membuat Elnara semakin marah.


"Sudah El bilang, itu bukan urusan Mas lagi. Kalian nggak ada hubungan apa-apa lagi selain mantan suami istri!" seru Elnara marah, gadis itu bahkan melotot tidak suka pada Okta.


Okta sudah akan kembali mendesak Elnara ketika Almira yang baru keluar kamar menyela ucapannya lebih dulu.


"Apa yang dibilang El benar, kamu nggak punya hak untuk tahu apapun tentang Vika!" ucapan Almira membuat Okta tidak punya pilihan lain selain mengalah.


Mereka benar, Okta tidak punya hak apapun untuk tahu kehidupan Vika. Mereka sudah resmi bercerai, akan tetapi entah mengapa Okta tidak tenang mendengar Vika kembali ke kampung halaman orang tuanya.


Okta memang sepupunya, tapi bagi Elnara Vika bukan hanya sekedar sahabat tetapi juga saudara. Saat Vika memberi tahu mengenai perceraiannya, Elnara ikut merasa sakit akan hal itu.


Elnara sendiri belum cukup puas melihat wajah kecewa Okta. Bagi Elnara ini barulah permulaan dan dia nantinya akan membantu Vika membuat Okta sadar bahwa melepaskan Vika adalah sebuah kesalahan besar.


*


*


Sudah 2 hari Vika tinggal di rumah mendiang orang tuanya yang selama ini di tempati oleh pengasuhnya sewaktu kecil. Saat Vika dan Windi memutuskan untuk ke kota, mereka dengan percaya menyerahkan rumah ini kepada pengasuh mereka yang sudah seperti keluarga sendiri.


Rumah lama ini selalu membawa kehangatan tersendiri untuk Vika. Dia selalu mengingat masa kecil bersama orang tuanya dan juga Windi. Rumah yang memiliki banyak kenangan indah bersama keluarga kecilnya.


Tidak lama pengasuh Vika semasa kecil bernama Mbah Sum datang dengan seiring pisang goreng hangat.


"Sarapan, Mbak." Mbah Sum menyodorkan pisang goreng hangat ke hadapan Vika yang tampak melamun.


Vika menoleh dengan senyum kecilnya, "makasih Mbah."

__ADS_1


"Ngelamunin apa pagi-pagi gini, Mbak? Masih sedih ya?" tanya Mbah Sum yang sudah tahu mengenai perceraian Vika.


Mbah Sum ikut merasakan sedih mendengar kabar perceraian Vika. Terlebih saat Vika mengabarinya akan berlibur di kampung sampai merasa tenang. Mbah Sum merasa Vika tengah mencari cara untuk melupakan kesedihannya.


Vika menggeleng pelan sebelum menjawab, "cuma ingat masa kecil Vika."


Mbak Sum tersenyum hangat kemudian dengan lembut mengelus rambut Vika.


"Kesedihannya jangan disimpan berlarut-larut, sekarang waktunya Mbak semangat. Hari ini Mbak Windi mau datang, jadi Mbak nggak boleh sedih gini nanti Mbak Windi sama Mbah Sum ikutan sedih."


Ingin rasanya Vika menangis melihat orang-orang yang sangat peduli pada perasaannya. Setidaknya Vika merasa beruntung memiliki mereka yang tulus menyayanginya.


"Makasih Mbah, sekarang Vika lagi mencoba untuk bangkit memulai kehidupan baru. Doakan Vika bisa melewati ini semua ya Mbah."


"Mbah akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Mbak Vika dan Mbak Windi."


Keduanya terdiam sesaat menikmati suasana pagi yang begitu damai dan sejuk. Suasana yang tidak bisa Vika nikmati saat berada di kota.


Saat Vika ingin menyantap pisang goreng buatan Mbah Sum, tiba-tiba dia merasa sangat pusing dan mual. Vika kemudian berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


Entah mengapa Vika merasa mual dan pusing seperti ini. Sebelumnya dia merasa baik-baik saja, tidak ada yang aneh. Rasa mual dan pusing ini datang dengan tiba-tiba membuatnya bingung.


"Kenapa, Mbak? Mbak sakit?" tanya Mbah Sum panik.


"Vika nggak tahu Mbah, Vika merasa mual dan kepala Vika pusing." Keluh Vika setelah selesai membasuh wajahnya yang terlihat pucat.


"Mbak," panggil Mbak Sum lemah.


"Ada apa, Mbah?" Vika bertanya lemah.


"Ini hanya dugaan Mbah, mungkin saja Mbah salah menduga."


"Kenapa, Mbah?"


"Sepertinya ... sepertinya Mbak Vika ...."


Bersambung ~~

__ADS_1


__ADS_2