
Elnara memilih diam mendengarkan penjelasan Zayan. Sebelumnya dia sudah memberikan ponselnya dan memperlihatkan foto apa yang dikirimkan oleh Mikha.
Zayan tampak menghela napas lelah, sepertinya pria itu tidak menyangka bahwa Mikha telah berbuat sejauh ini.
"Foto ini memang benar, saya merayakan ulang tahun dengan beberapa karyawan. Malam itu saya sudah mau pulang, tapi tiba-tiba mereka masuk ke dalam ruangan saya sambil membawa kue ulang tahun. Saya tidak enak menolak, jadi saya pikir akan merayakan sebentar dengan mereka sebelum pulang."
"Kenapa Mas nggak ngabarin El?" tanya Elnara langsung ketika mendengar penjelasan singkat dari Zayan.
"Handphone saya hilang, saya sudah ingin menghubungi kamu tapi tiba-tiba hilang entah berada dimana. Mikha juga berjanji akan menghubungi kamu dan saya dengan bodohnya percaya pada ucapannya."
"Sepertinya Mbak Mikha yang sengaja sembunyikan handphone Mas." Sahut Elnara pelan yang disetujui oleh Zayan.
"Mengenai foto kedua, itu semua jelas rekayasa Mikha. Malam itu, karyawan lain meminta untuk traktir makan malam dan saya mengabulkan permintaan mereka begitu saja. Kami makan malam bersama dan sepertinya Mikha merekayasa seolah kami makan malam hanya berdua."
"Mas juga nggak pulang, apa itu juga termasuk rencana dari Mbak Mikha?" Elnara kembali bertanya dengan berani, dia sudah lelah menebak-nebak apa yang terjadi malam itu.
"Saya tidak tahu, malam itu setelah makan malam saya langsung pamit pada karyawan lain. Tiba-tiba saya merasa sangat pusing dan beberapa karyawan laki-laki membantu saya. Saya tidak ingat apa yang terjadi, paginya saya bangun di atas ranjang hotel. Ingin menghubungi kamu, tapi handphone saya belum ditemukan."
Elnara terdiam, menimbang-nimbang apa yang sebenarnya sudah direncanakan oleh Mikha. Sepertinya, wanita itu sengaja membuat kesalahpahaman ini dan dengan mudah menebak Elnara akan meminta pisah dari Zayan.
"Mas Zayan ngasih tahu Mbak Mikha tentang permintaan tiga puluh hari dari El?" tanya Elnara yang membuat Zayan dengan berat hati mengangguk.
"Ya, awalnya saya pikir setelah tiga puluh hari itu hubungan kita bisa membaik. Selain itu, saya memiliki beberapa rencana lain untuk Mikha." Zayan menjawab dengan santai, tapi menyimpan sedikit rahasia.
"Rencana apa, Mas?" tanya Elnara penasaran.
__ADS_1
Zayan menatap Elnara sejenak, berpikir apakah dia harus menceritakan rencananya pada gadis itu.
"Maaf, sepertinya saya nggak bisa memberitahu kamu dulu. Yang pasti ini tidak melibatkan kamu, saya hanya mencari tahu tentang masa lalu Mikha." Zayan menjelaskan dengan pelan, seolah takut akan menyakiti hati Elnara.
"Baiklah, El akan menunggu Mas Zayan menceritakan sendiri. El harap tidak akan ada kekecewaan lagi setelahnya."
"Kamu mau memaafkan saya dan kembali ke rumah kita?" itu adalah pertanyaan yang sedari tadi ingin Zayan tanyakan pada Elnara.
"El memaafkan Mas, tapi El harap Mas nggak mengecewakan El lagi. Jika itu sampai terjadi, jangan harap akan asa kesempatan untuk memperbaiki."
Zayan mengangguk mantap mendengar ucapan Elnara. Pria itu juga berjanji tidak akan membuat Elnara kembali kecewa.
Siang itu mereka memutuskan untuk kembali bersama dengan harapan hubungan keduanya bisa membaik. Elnara mengambil keputusan ini dengan pertimbangan Genta dan Okta yang sudah lebih dulu membuka jalan damai untuk mereka.
*
"Kenapa Mas ada di sini?" tanya Vika kesal ketika mendapati Okta yang sudah bersandar nyaman di samping mobilnya.
"Mas nungguin kamu, tolong anterin Mas ke kantor." permintaan itu membuat Vika mendengus kesal.
"Memangnya di mana mobil Mas dan gimana bisa Mas terdampar di kampus ini?" tanya Vika kesal.
"Mobil Mas lagi dipinjam Zayan, dia mau meluruskan masalah dengan El. Sudah, cepat buka pintu mobil kamu dan antarkan Mas ke kantor!" perintah Okta seenaknya membuat Vika semakin kesal.
Meski kesal karena perilaku seenaknya Okta, pada akhirnya Vika membiarkan Okta mengambil alih kursi pengemudi. Pria itu benar-benar menguasai mobilnya saat ini dan Vika tidak bisa melakukan hal lain selain mengikuti kemauan kakak dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"Seharusnya Mas naik taksi, bukan malah merepotkan seperti ini." Vika mendumel kesal, tapi tetap tidak bisa melakukan banyak hal.
Okta hanya berdiam diri mendengarkan omelan dari Vika yang menurutnya lucu. Melihat Vika cemberut membuat Okta kembali mengingatkan kenangan mereka dulu.
"Vika," panggil Okta dengan lembut.
Vika menoleh, menatap Okta dengan pandangan bertanya.
"Sepertinya El dan Zayan sudah berbaikan," ucap Okta memulai percakapan normal.
"Kenapa Mas lakuin hal itu? Seingat Vika, Mas kemarin marah besar dan melarang Mas Zayan bertemu dengan Elnaram."
"Zayan sudah menjelaskan apa yang terjadi, dia juga dengan gentle sudah menemui Papi dan meminta restu kami untuk menjelaskan apa yang terjadi pada El. Kalau Papi sudah memberi izin, itu artinya Papi menghargai usaha Zayan. Mas pikir tidak ada salahnya memberi kesempatan kedua."
Vika tidak bereaksi apapun karena gadis itu jelas tidak setuju. Vika masih membenci Zayan karena telah membuat sahabatnya kecewa dan menangis.
"Vika harap setelah ini Mas Zayan nggak membuat El nangis lagi. Walaupun Vika benci Mas Zayan, tapi demi kebahagiaan El, mau nggak mau Vika harus mendukung mereka."
Okta hanya diam mendengarkan. Sebenarnya ada hal lain yang ingin dia sampaikan pada Vika. Hal inilah yang membuatnya rela menunggu panas-panasan gadis itu di parkiran kampus.
"Apa kita juga bisa mengulang semua dari awal?" tanya Okta hati-hati setelah berhasil mengumpulkan keberanian.
Vika menoleh, menatap pria di sampingnya dengan kaget. Tidak pernah terpikirkan oleh Vika bahwa Okta akan menanyakan hal ini.
Sejujurnya, Vika ingin memperbaiki hubungannya dengan Okta. Namun, dia masih ragu mengingat bagaimana mereka bisa berakhir seperti itu.
__ADS_1
Haruskah Vika kembali mengulang masa lalu mereka dan memperbaiki apa yang sudah keduanya rusak?
To Be Continue ~~>>