
Aliee mengantar Gabe ke mobilnya karena hari sudah mulai malam dan Aliee sedikit kesal karena Gabe mengeluarkan taringnya karena berhasil membuat ayah dari Aliee menyukainya.
"Apa kamu ada pikiran untuk menyerah dengan apa yang kita mulai saat ini" Gabe menatap Aliee dengan serius.
"Kenapa, apa kamu berubah pikiran dengan yang kamu temui tentang diriku" tatapan penuh tanya itu tidak dapat di hindari saat mendengar ucapannya.
"Tidak" tidak ada tatapan keraguan dari mata Gabe saat mengucapkannya. "Aku hanya tidak mau baba kecewa dengan apa yang kita lakukan, beliau sangat mengharapkan dirimu memiliki keluarga yang utuh."
"Aku sudah memikirkannya dengan sangat cermat, aku memilih kamu yang sama-sama memiliki tujuan masing-masing yang tidak akan membuat kerugian bagi kita berdua."
"Baiklah... Aku berjanji akan memperlakukan keluargamu sebagai keluarga ku."
"Yasudah hati-hati di jalan, sampai bertemu kembali saat aku ada jadwal libur."
"Apa-apaan itu, jangan bawa motor biar aku aja yang jemput. Kita masih banyak lagi yang mau di bahas" tatapan mata yang tidak mau kalah lagi yang di gunakan oleh Gabe kepada Aliee.
"Ya terserah karena aku juga malas berdebat dengan dirimu" ungkap Aliee dengan jengah akan ungkapan dari Gabe.
"Yasudah aku pulang dulu" Aliee hanya menjawab dengan ungkapan ehm saat Gabe mengecup keningnya.
_____
Sesuai dengan apa yang Gabe ucapkan dirinya benar-benar di jemput dan menatap Aliee menatapnya dengan tatapan kaget.
"Kemana perginya kemewahan yang biasa kamu pake" tanya Aliee dengan bingung.
"Malu dengan aku bawa motor biasa kaya gini" tanya Gabe dengan melakukan pengetesan akan hal tersebut.
"Tidak" kali ini Aliee tersenyum lebar" aku malah lebih suka ini karena tidak terlalu macet. Tapi biasanya cowok akan ambil yang kopling, ini kenapa bawa yang metik."
"Ya memang ini buat cewek kok bukan buat cowok."
"Maksudnya apa ya" tanya Aliee dengan bingung.
"Lolanya jangan keterusan, udah naik keburu makin macet lagi."
"Baiklah, tapi kita mau kemana" Aliee bingung namun masih nurut untuk naik ke atas motor.
"Lihat rumah."
Saat baru bertanya Gabe sudah langsung mengendarai motornya dengan cepat. Aliee berdoa dalam hati semoga dirinya tidak mati cepat, tapi kalau Gabe mati duluan tidak apa.
Sesampainya di rumah megah yang ada di kawasan elit Jakarta Aliee menatap Gabe dengan bingung.
"Kenapa kesini."
"Ini rumahku yang nantinya akan kita tempati. Cuma aku juga udah janji sama baba akan beli rumah didekat sana."
"Jadi cuma bahas itu aja" tanya Aliee dengan bingung.
"Bukan masih ada lagi, omah aku sakit dan kamu di minta ikut sama aku" tatapan mata putus asa terlihat sangat jelas di mata Gabe.
__ADS_1
Aliee sempat berfikir terdahulu sebelum mengiyakan permintaan dari Gabe "berapa lama."
"Satu Minggu, kita berangkat satu Minggu lagi."
Aliee tidak dapat berbicara apapun karena dirinya tau kalau akan kalah melawan Gabe saat ini. Kini Aliee memikirkan cara agar dirinya bisa pergi bersama lelaki yang akan menjadi calon suaminya tersebut.
"Jadi apa lagi yang mau di bahas" tanya Aliee agar tidak terlalu membuang waktu.
"Tidak ada."
"Ga jelas."
"Mau kemana kamu" tanya Gabe saat dirinya melihat Aliee pergi ke arah pintu.
"Pulang, karena ga ada hal penting yang bisa di bahas lagi. Kalau lama-lama disini sama kamu akan buat aku kehilangan energi yang aku punya."
"Diam disitu biar aku antar pulang" Gabe kesal karena dari tadi Aliee jalan dengan sangat cepat dan kini dirinya sudah berlari kecil menghampiri Aliee.
"Dasar anak keras kepala."
Sesampainya di rumah Aliee bingung kenapa Gabe ikutan turun dan menahan diriku.
"Kenapa" tanya Aliee dengan heran.
"Ini motor buat kamu karena aku ga mau kamu kenapa-kenapa, ingat keselamatan itu penting."
"Aku ga mau, kan masih ada motor disini yang bisa di gunakan" kekeh Aliee kepada Gabe.
"Kamu tega lihat baba ga pake motor karena kamu."
"Tidak ada hal yang aneh kok, jangan selalu berfikiran yang aneh-aneh jadinya otak mu jadi suka rusak."
"Enak aja."
"Ngapain kalian berantem di depan rumah, kaya ga ada tempat yang lebih enak apa" tegur sang ayah dari Aliee.
"Ga apa kok baba... lagian aku cuma antara pacar aku aja pulang dan kasih motor ini buat dia bawa ke kantor" wajah polos andalan Gabe yang selalu digunakan saat berbicara dengan ayah dari Aliee.
"Kamu kasih motor" kali ini ayah menghampiri dan duduk dekat anak tangga depan rumah.
"Iya biar ada yang digunakan baba saat dirumah kalau Aliee pergi ba."
"Bagus itu."
"Orang tadi di suruh ke rumah buat lebih nyaman ya... Tapi ini kenapa orangtua juga ikutan nimbrung di luar juga."
Gabe tertawa kecil dan menatap ketiganya "aku harus pamit undur diri, soalnya malam ini aku harus pergi ke suatu tempat karena urusan kerjaan yang ga bisa ditinggal."
"Bawa aja motor ini, kamu pulang gimana" tatap Aliee dengan bingung.
"Mobil sudah menunggu di atas, dua hari lagi jangan bawa motor karena ada yang mau aku bahas sama kamu soal pernikahan. Aku pamit undur diri dulu semua."
__ADS_1
Gabe langsung pergi dari mereka semua karena tidak mau ada pertanyaan yang akibatnya akan panjang. Aliee masuk ke rumah dan duduk di sofa dengan menghela nafas panjang.
"Pusing amat kak yang mau nikah" tanya Ani yang melihat sang kakak seperti kewalahan.
"Aku baik-baik saja mengenai pernikahan, yang aku pikirkan saat ini adalah neneknya Gabe sakit dan aku di ajak kesana untuk menemani dirinya yang diminta neneknya Gabe."
"Bagus dong jadi kamu bisa kenal dekat dengan keluarga dari calon suamimu nantinya" ungkap sang ayah kepada anak perempuannya.
"Iya pa... Semoga kabar baik ya yang datang nantinya."
"Amin."
_____
Aliee tidak menganggap omongan dari Gabe benar yang akan datang dua hari lagi. Dan dia langsung buru-buru pulang dan langsung ke tempat Gabe berada yaitu ruang tunggu tamu.
"Kamu benar-benar datang pas pulang dari Singapore."
"Kan aku udah janji sama kamu, jangan bilang kamu lupa."
Aliee memutar matanya mencari jawaban namun dirinya memilih untuk jujur "aku ga lupa cuma aku nekad bawa motor karena aku pikir kamu bakal kerumah."
"Aku nanti ke rumah sambil antar kamu kok, cuma sekarang ga ada yang perlu dibahas di rumah. Kamu mau baba kena serangan jantung karena pembicaraan kita berdua."
"Ya ga lah" ucap Aliee dengan cepat "tapi aku bawa motor."
"Tinggal."
"Enak aja... besok aku berangkat ke kantor gimana" kali ini Aliee menatap Gabe dengan kesal.
"Aku jemput kamu pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor."
"Kepagian tau kalau naik mobil, aku biasa jalan jam 6 kurang 15 menit."
"Yaudah aku akan datang jam segitu, jadi jangan banyak alasan dan sekarang kita pergi dari pada nanti pulangnya kemalaman."
"Yaudah ayo pergi."
Aliee jalan duluan dan meninggalkan Gabe dibelakang dan dirinya langsung menaiki mobil yang biasa di bawa oleh Gabe.
Aliee yakin apa yang akan dibicarakan nanti akan berefek pada hal yang tidak penting. Kini mereka sudah ada di salah satu cafe yang ada di Jakarta.
"Ini kamu baca dulu aja detailnya dan tambah apa yang perlu di tambahkan" Gabe menyerahkan berkas yang sedari tadi di pegang sekertarisnya.
Dirinya membacanya dengan secara seksama dan semuanya adalah detail pernikahan yang akan di laksanakan.
"Cuma ini aja" tanya Aliee dengan mencoba untuk sabar.
"Iya."
"Gabe tau kaya gini kita bisa bahas di jalan, dua puluh menit aja cukup. Jalan ke rumah aja naik mobil lebih loh dari segitu" geram Aliee akan sikap calon pasangannya itu.
__ADS_1
"Biar saja" jawabnya enteng "kalau di mobil aku tidak bisa dengan jelas melihat wajahmu."
Next Episode.