
"Mari berpisah!" perkataan itu Vika ucapkan dengan tenang meski hatinya bergemuruh sakit.
Okta menoleh kaget, dia tidak percaya Vika akan mengatakan kalimat itu.
"Apa maksudmu?" tanya Okta setelah berhasil meredam rasa kagetnya.
"Ayo bercerai Mas, bukannya lebih baik kita berpisah?" Vika kembali berucap dengan nada tenang.
"Kamu tahu apa yang kamu bicarakan?"
"Tahu Mas, sangat tahu. Jadi, tolong segera beri keputusan."
Okta terdiam sesaat, masih merasa tidak percaya dengan perkataan Vika. Okta menghela napas berat sebelum akhirnya kembali bersuara.
"Kita bicarakan ini nanti, Mas harap kamu nggak buat keputusan dengan gegabah." Okta segera pergi meninggalkan Vika yang tidak bereaksi apapun.
Sepanjang hari Okta terus berpikir apa yang salah dengan Vika. Menurut Okta hubungan mereka selama ini baik-baik saja dan bahkan mereka baru selesai bulan madu.
Vika hanya meminta berpisah tanpa memberi penjelasan. Selama ini Vika tidak pernah mengeluhkan apapun, bisa dibilang kehidupan rumah tangga mereka baik-baik saja. Tidak ada alasan kuat yang membuat Vika mengambil keputusan untuk berpisah.
*
*
Vika tahu keputusannya ini terlalu mendadak, tapi demi menyelamatkan kepingan hatinya yang telah hancur. Selain itu Vika tidak ingin jika suatu hari nanti Okta akan mencampakannya. Dia hanya ingin menyelamatkan harga dirinya, hanya itu.
Yang pertama Vika lakukan setelah memutuskan untuk bercerai adalah menghubungi Windi. Kakaknya itu sedang berada di luar kota menemani suaminya yang sedang dinas.
Setelah sedikit berbasa-basi akhirnya Vika menceritakan secara singkat keinginannya.
__ADS_1
"Cerai? Kamu yakin? Memangnya ada masalah apa yang membuat kamu memutuskan bercerai?"
Windi bertanya tanpa menutupi rasa terkejutnya. Dia pikir rumah tangga adiknya baik-baik saja karena Vika tidak pernah mengeluhkan apapun.
"Ada hal yang nggak bisa Vika ceritakan sekarang. Yang jelas Vika sudah yakin dengan keputusan Vika."
Terdengar Windi menghela napas, sepertinya wanita itu masih belum pulih dari rasa terkejutnya.
"Kakak yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Apapun itu Kakak akan mendukung keputusan kamu, Kakak berharap ini yang terbaik untuk kamu."
Mendengar ucapan Windi membuat Vika tidak bisa menahan laju air matanya. Windi hanya diam mendengar isak tangis Vika, sebagai seorang kakak tentu saja Windi khawatir. Namun, untuk saat ini tidak ada yang bisa Windi lakukan selain menenangkan Vika.
"Vika, dengarkan Kakak. Saat kamu ingin menikah Kakak adalah orang yang paling bahagia dan sekarang saat kamu ingin bercerai Kakak adalah juga bersedih. Apapun keputusan kamu, Kakak adalah orang pertama yang akan selalu mendukungmu. Jangan merasa sendiri, ada Kakak yang akan selalu menerimamu kembali. Sekarang, hapus air matamu dan bersikap tegarlah. Setelah Kakak kembali, semua urusan perceraian akan Kakak urus kamu hanya perlu menunggu."
Vika merasa bahagia memiliki Windi sebagai Kakak perempuannya. Windi selalu berada di sisinya dan mendukung semua keputusan yang dia ambil.
*
*
Tanpa pikir panjang Okta segera menemui Vika yang sedang berada di kamar. Mata wanita itu terlihat sembab karena habis menangis.
"Kamu tahu?" tanya Okta langsung.
Vika menoleh kaget, untuk sesaat wanita itu terdiam mencerna pertanyaan sang suami sampai akhirnya Vika kearah mana pertanyaan itu.
"Iya, aku tahu dan untuk itulah aku meminta cerai!" jawab Vika dingin, dia bahkan mengubah cara bicaranya.
"Kamu ngikutin, Mas?" tanya Okta menatap tak percaya pada Vika.
__ADS_1
"Kenapa? Bukannya bagus karena dengan begitu aku lebih cepat tahu keburukan Mas. Jadi, nggak perlu berbasa-basi lebih baik kita bercerai!"
"Dengar Vika, kamu hanya salah paham. Mas dan Mira hanya masa lalu dan kami nggak menjalin hubungan apapun selain pertemanan."
Vika menatap datar Okta karena apapun yang pria itu katakan dia tidak akan percaya.
"Aku nggak peduli Mas! Keputusanku sudah bulat, aku mau kita cerai!" seru Vika menahan sakit hatinya.
"Mas nggak terima, kamu hanya terbawa emosi sesaat. Setelah tenang kita bicarakan masalah ini lagi!" putus Okta yang sudah bersiap pergi ketika Vika kembali bersuara.
"Cinta ... apa sedikit saja Mas nggak menaruh rasa cinta untukku?" tanya Vika lirih.
Okta cukup terkejut mendengar pertanyaan Vika dan reaksi itu cukup menjadi jawaban atas pertanyaan Vika. Tidak perlu diperjelas karena bahkan hanya setitikpun Okta tidak menaruh rasa cinta padanya, melainkan hanya rasa nyaman karena hati pria itu sudah dipenuhi oleh wanita lain.
"Kita cerai ya, Mas." Ucap Vika lagi kali ini terdengar nada memohon dalam suaranya.
Okta masih tidak memberi reaksi apapun, pria itu bahkan tidak menoleh untuk sekedar menatap Vika.
"Aku capek karena di sini hanya aku yang jatuh cinta, sedangkan Mas terjebak dengan masa lalu Mas. Aku cukup tahu diri untuk nggak bertanya alasan Mas menikahiku, jadi aku mohon lepaskan aku. Biarkan aku menata hatiku Mas, hanya itu yang aku inginkan."
Terdiam cukup lama, kesunyian yang menyesakkan. Sampai akhirnya Okta berbalik dan menatap Vika. yang juga menatapnya dengan putus asa.
"Baiklah, Mas akan mengabulkan keinginan kamu." Setelah menjawab keinginan Vika, pria itu segera berbalik pergi meninggalkan rumah.
Vika terduduk lemas, rumah tangga yang dia harapan selalu harmonis kini hancur berantakan. Kisahnya cukup sampai di sini dan Vika cukup tahu diri karena selama pernikahan Okta sudah menjelma menjadi suami idaman. Vika tidak meminta apapun selain kebebasan, untuk masalah lain akan menjadi urusan belakang. Cukup Okta menyetujui keinginannya dan dia akan mundur menata ulang kehidupannya.
Bersambung ~~
Setuju Vika dan Okta cerai?
__ADS_1
Ramaikan terus novel ini ya 😊💖
Jangan lupa favorit, like dan komennya 🥰🫶