
Vika menjalani hari-harinya seperti biasa, wanita itu kembali ke kampus dan berbaur dengan teman-temannya yang lain.
Berbeda dengan Vika yang terlihat lebih baik, Okta justru semakin kacau. Melihat Vika yang bahagia tanpa dirinya dan dekat dengan pria lain sukses membuat Okta terbakar api cemburu.
Okta akui dia terlambat menyadari perasaannya, tapi dia tidak ingin menyerah. Dia ingin memperjuangkan Vika.
Saat ini Okta diam-diam mengawasi Vika dan harus menyaksikan pemandangan yang membakar hatinya. Dia harus melihat Vika berada di Club malam bersama Fian. Meski dia mengenal Fian tetap saja Okta tidak mempercayai pria itu.
"Vika," panggil Okta lembut saat Vika menuruti perkataannya untuk segera keluar dari Club.
"Ada ada, Mas?" tanya Vika kesal.
"Ayo pulang, ikut mobil Mas!" perintah Okta dengan nada datar.
Vika ingin menolak, tapi dia sadar sekarang berada di keramaian dan tentu dia tidak mau menjadi pusat perhatian. Dengan kesal Vika terpaksa mengikuti keinginan Okta.
"Ngapain kamu ke club malam?" tanya Okta memecah keheningan.
"Aku rasa itu bukan urusan, Mas!" jawab Vika datar.
Okta menghela napas lelah, dia tidak suka dengan perubahan sikap Vika.
"Mas nggak suka kamu melakukan hal yang baik buat kamu. Sekalipun kamu ke sana sama Fian itu nggak menjamin keamanan kamu."
"Aku pergi dengan siapapun, aman atau nggak itu sudah bukan urusan Mas lagi! Tolong berhenti ikut campur urusanku!" Vika menaikkan nada bicaranya menandakan dia sudah kehilangan kesabaran.
"Seperti yang sudah Mas bilang, sampai kapanpun Mas nggak akan bisa melepas kamu." Okta berkata dengan tenang.
__ADS_1
"Egosi! Setelah kita resmi bercerai saat itu aku sudah menutup semua hal yang berkaitan dengan Mas!"
Vika sudah siap membuka pintu mobil Okta ketika pria itu menarik pelan lengannya. Mereka saat ini berada di depan rumah Vika dan dari kejauhan Windi mengawasi dengan perasaan marah.
"Tolong kasih Mas kesempatan untuk memulai semua dari awal. Mas janji nggak akan menyakiti kamu lagi, maaf karena Mas bertindak bodoh dengan menyia-nyiakan kamu."
"Aku bisa memaafkan Mas dengan mudah, tapi untuk menerima kembali aku nggak bisa."
Vika dengan pelan melepas tangan Okta yang memegang lengannya. Wanita itu segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.
Okta tahu tidak akan mudah mendapat kesempatan kedua, tapi dia tidak akan menyerah. Jika dulu Vika yang berjuang, sekarang giliran dia yang berjuang untuk mendapatkan wanita itu.
Sementara di dalam rumah, Windi menatap penuh selidik pada Vika.
"Itu mobil Okta 'kan?" tanya Windi penuh selidik.
Windi masih tidak yakin, tapi dengan terpaksa membiarkan Vika untuk berlalu begitu saja. Windi yakin Vika tidak akan luluh pada Okta setelah apa yang pria itu lakukan.
*
*
Okta benar-benar menepati ucapannya untuk berusaha memperjuangkan Vika. Pria itu tidak kenal lelah dengan terus mendekati Vika meski harus menerima penolakan.
Sejujurnya Vika mulai goyah karena rasa cinta yang dia miliki untuk Okta masih ada. Selama beberapa bulan Okta berjuang, dia bisa melihat keseriusan dan ketulusan dari pria itu.
Seperti saat ini, pria itu banyak membantunya menyelesaikan tugas kuliah. Okta bahkan rela begadang demi menemaninya mengerjakan tugas kuliah disaat pria itu harus menghadiri rapat pagi hari.
__ADS_1
"Mas tidur saja," ucap Vika tidak tega melihat wajah lelah Okta.
"Nggak, Mas tungguin kamu sampai selesai. Kalau ada yang nggak kamu ngerti bisa tanya Mas." Okta menjawab dengan senyum di wajahnya.
Mereka saat ini berada di apartemen milik Okta. Kebetulan Windi sedang di luar kota bersama suaminya dan kesempatan itu Okta gunakan untuk menghabiskan waktu bersama Vika dengan dalih mengerjakan tugas kuliah.
"Mas nggak capek?" tanya Vika tiba-tiba.
"Capek?" tanya balik Okta hang tidak mengerti kearah mana pertanyaan Vika.
"Capek nungguin aku. Mas sudah banyak berjuang dan berkorban untuk aku, tapi sampai sekarang aku belum bisa nerima Mas lagi."
Okta tersenyum hangat sebelum menjawab, "Mas berjuang untuk kamu dan Mas nggak akan pernah lelah."
"Perjuangan Mas belum seberapa dibanding dengan apa yang sudah kamu lakukan. Saat ini Mas menikmati setiap proses yang Mas lakukan."
Vika terdiam sesaat, dirinya menimbang-nimbang untuk mengatakan sesuatu.
"Mas, aku sudah memikirkan ini dan ku rasa ini saat yang tepat untuk memberi Mas jawaban. Aku ... akan mencoba memulai dari awal bersama Mas, tapi ada satu permintaanku."
Okta tampak tidak siap dengan jawaban Vika. Dia tidak menyangka jika Vika mau menerimanya kembali.
"Apa permintaanmu?" tanya Okta tidak sabar.
"Rahasia hubungan ini dari keluarga kita."
Bersambung ~~
__ADS_1