
Mata Okta berkilat marah, dia benar-benar tidak menyangka Zayan akan bertindak bodoh seperti ini demi melindungi perasaan Mikha.
"Iya, Zayan sudah menikah. Menikah dengan adik gue, jadi gue harap lo sadar diri!" Okta berkata dengan sadis tidak memedulikan wajah Mikha yang tampak pucat.
"Okta, kita bicarakan ini di dalam. Saya nggak mau ada keributan di sini!" Zayan sudah bersiap menarik tangan Okta, akan tetapi sahabatnya itu mengangkat tangan pertanda tidak ingin diganggu.
"Dengarin omongan gue Zayan, sebagai kakak dari Elnara gue minta lo untuk nggak bertindak jauh. Jangan sampai gue tahu lo nyakitin El karena lo benar-benar berhadapan sama gue. Lo paling tahu bahkan gue rela kehilangan nyawa gue demi El. Ingat, ini bukan sekedar ancaman Zayan. Gue nggak pernah main-main sama omongan gue jika itu menyangkut El!"
Sekali lagi Okta melayangkan tatapan permusuhan pada Zayan dan Mikha, kemudian pria itu segera pergi. Dalam setiap langkahnya, Okta bersumpah jika suatu hari nanti Elnara datang menangis padanya, Okta sendiri yang akan membalas setiap tetes air mata Elnara.
Setelah Okta pergi, kini tinggal Zayan dan Mikha yang masih berdiri di depan pintu ruangan Zayan. Mikha masih menangis, menatap kecewa pada Zayan.
"Elnara? Jadi gadis kecil itu istri kamu, Zayan? Kamu menikah dengan orang lain, padahal kamu tahu bahkan sampai detik ini aku masih cinta sama kamu." Mikha menatap kecewa pada Zayan yang hanya menampilkan raut wajah datar.
"Apa peduli kamu? Saya menikah dengan siapapun itu bukan urusan kamu!" Zayan berkata dengan sinis berusaha mengabaikan air mata Mikha.
"Tapi aku cinta sama kamu, Zayan!" teriak Mikha tidak terima.
"Setelah pergi tanpa kabar sekarang kamu mengumbar kata cinta?" Zayan menatap datar pada Mikha yang terlihat putus asa.
Ketika Zayan berbalik untuk kembali ke dalam ruangannya, Mikha kembali bersuara.
"Aku yakin kamu juga masih cinta sama aku. Aku yang akan buktikan itu sendiri, aku akan buat kamu sadar akan perasaan kamu sendiri!" ucap Mikha dengan percaya diri, akan tetapi Zayan tidak memberi reaksi apapun.
Zayan segera masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Mikha yang masih berdiri dengan hati yang terluka.
__ADS_1
"Aku yakin Zayan, kamu masih cinta sama aku. Kamu bahkan nggak mengatakan apapun mengenai pernikahan kamu, aku tahu kamu menjaga perasaanku." gumam Mikha menatap nanar pada pintu ruangan Zayan yang tertutup rapat.
*
Berbekal rasa percaya diri, Mikha akhirnya memutuskan untuk menemui Elnara. Mikha ingin semuanya jelas dan dia akan memberi pengertian pada Elnara.
Elnara sendiri tidak tahu apa tujuan Mikha mengajakanya bertemu dijam makan siang ini. Sudah beberapa minggu ini Elnara sengaja menghindari Mikha. Namun, Mikha dengan sengaja mengajak Elnara bertemu dengan dalih ada hal penting yang harus dibicarakan.
"Ada apa, Mbak Mikha?" tanya Elnara langsung begitu duduk di depan Mikha. Elnara sudah enggan untuk berbasa-basi setelah mengetahui masa lalu Mikha dan Zayan.
"Aku sudah tahu hubunganmu dengan Zayan," ucap Mikha membuka percakapan.
"Baguslah kalau Mbak Mikha tahu." Elnara tersenyum singkat kemudian berpura-pura sibuk dengan makan siangnya.
"Kamu tahu hubungan saya dengan Zayan?" Mikha bertanya dengan hati-hati.
"Bukan itu maksudku. Yang ku maksud hubungan spesial antara aku dengan Zayan. Kami adalah mantan kekasih yang sudah bertahun-tahun menjalin kasih."
Mendengar ucapan Mikha yang percaya diri Elnara justru tertawa kecil.
"Saya juga tahu itu," sahut Elnara santai.
"Kamu tahu, tapi kamu nggak berbuat sesuatu?" Mikha bertanya dengan nada kesal yang tidak bisa dia tutupi.
"Berbuat apa, Mbak? Marah-marah dan melabrak Mbak Mikha? Maaf, tapi saya nggak berminat untuk melakukan hal itu."
__ADS_1
"Sudah cukup basa-basinya. Aku mengatakan hal ini untuk mengingatkan kamu. Zayan dan aku memiliki hubungan spesial, jadi saya harap kamu segera sadar dan mundur!"
"Memangnya Mbak Mikha ini siapa sampai berani menyuruh saya mundur?"
"Terserah kamu jika memilih patah hati, yang jelas aku sudah memperingatkan kamu untuk mundur. Hubunganku dan Zayan sudah membaik itu artinya kami akan kembali menjalin kasih. Seharusnya kamu tahu diri, lepaskan Zayan untuk saya agar kami bisa bahagia!"
"Lucu, dari tadi Mbak membawa kata hubungan spesial dan terus mengungkit masa lalu kalian. Dengar Mbak, tidak ada kata spesial untuk masa lalu karena jika spesial tidak akan berakhir dengan sia-sia. Apa Mbak nggak malu setelah meninggalkan Mas Zayan dan sekarang datang dengan keyakinan akan memulai dari awal?"
"Kamu tahu apa anak kecil? Aku membicarakan hal ini baik-baik sama kamu, seharusnya sebagai sesama wanita kamu mengerti perasaanku! Apa ini yang orang tua kamu ajarkan?"
Elnara sudah benar-benar muak mendengar setiap kalimat tidak tahu malu yang diucapkan oleh Mikha. Dengan marah Elnara menyiram wajah Mikha dan menampar wanita itu hingga membuat pengunjung restoran menatap mereka berdua.
"Mbak itu berpendidikan, tapi sayang sangat tidak tahu malu. Berani sekali Mbak membawa orang tuaku! Seharusnya saya yang bertanya, apa ini didikan orang tua Mbak dengan menjadikan Mbak sebagai pelakor?"
"Diam kamu!" Mikha berdiri dengan wajah merah dan bersiap membalas perlakukan Elnara, tapi sayang wanita itu kalah gesit dari Elnara.
"Jangan berani Mbak menyentuh saya dengan tangan kotor Mbak itu! Sedikit saja Mbak menyentuh saya, akan saya pastikan balasan yang Mbak terima jauh lebih sakit!"
Dengan keras Elnara menghempaskan tangan Mikha membuat wanita itu terdorong. Beruntung Mikha bisa menahan dirinya, jika tidak bisa dipastikan Mikha akan terduduk memalukan.
"Kalau Mbak meminta saya untuk mundur dan menyerahkan suami saya sama Mbak itu artinya saya menyerahkan harga diri saya sama Mbak. Jika Mbak yakin Mas Zayan masih mencintai Mbak, maka biarkan dia yang datang sendiri pada Mbak!"
Usai mengatakan hal itu Elnara segera pergi meninggalkan restoran. Mikha yang menjadi pusat perhatian segera pergi diiringi cemooh dari pengunjung restoran. Mikha berhasil mendapat cap sebagai pelakor tidak tahu malu dan mantan yang gagal move on.
Elnara sendiri sudah berada di dalam taxi yang membawanya menuju rumah. Elnara tidak menangis, dia hanya tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Elnara pikir Mikha adalah wanita baik yang mungkin akan berpikir dewasa. Namun, kenyataannya Mikha tidak lebih dari dari wanita yang terjebak dalam bayang-bayang masa lalu.
__ADS_1
To Be Continue ~~>