
Dua minggu setelah kejadian tersebut gabe tidak pernah melihat ke lima wanita itu di dalam club dan selalu menunggu ada yang menghubungi dirinya namun tidak ada satupun yang menghubungi dirinya.
"Kau kenapa sih dari tadi memperhatikan HP mu dan tidak fokus dengan pekerjaan dirimu" tanya danke dengan penasaran.
"Apakah aku tidak tampan."
"Apaan sih pertanyaan dirimu membuat diriku jijik" ungkap danke dengan kesal dan menatap gabe dengan tatapan jijiknya.
"Aku tanya apa aku tidak tampan."
Kali ini danke menatap gabe dengan penuh makna "kalau kau tidak tampan apa kabarnya wanita yang sudah menghangatkan kasurmu bodoh."
"Nah itu dia" ungkap gabe dengan semangat dan menepuk tangannya sendiri dan membuat danke kaget.
"Apa-apaan sih kau berengsek buat orang jantungan aja" kali ini danke melempar majalah yang sudah di buat agar dapat di lemparkan dengan cukup jauh.
"Aku hanya ga habis pikir sama wanita itu kenapa bisa-bisanya dapat kartu namaku dia malah ga menghubungi diriku."
"Siapa sih yang kamu maksud gabe, kalau ngomong yang jelas dan jangan setengah-setengah" kali ini danke geram dengan yang di jelaskan oleh gabe tidak menemukan titik terangnya.
"Kau masih ingat wanita yang ada di bar waktu itu" kali ini gabe memberikan clue untuk danke.
"Yang mana" tanya danke dengan wajah bingungnya "kau tau dimana wanita yang kita temui di club itu ada banyak."
"Kau taunya hanya wanita yang bersedia memberikan kedua kakinya dengan sukarela kepadamu saja" jelas gabe dengan kesal. "Kau bilang dia akan mau bersama dengan ku karena status dan aku sudah memberikan kartu namaku tapi dirinya tidak menghubungi diriku dari tadi."
"Astaga wanita imut itu" kali ini danke ingat akan wanita yang dua minggu lalu mereka bahas "jadi kau sudah bertemu dengan dirinya dan dirinya sudah bereaksi dan minta kartu namamu dan setuju dengan rencanamu."
"Kalau setuju sih enak dan aku tidak perlu menunggu seperti saat ini" jelas gabe dengan kesal "aku memberikan kartu namaku karena dia buru-buru pergi namun aku tidak mendapatkan kepastian akan rencana itu."
"Kalau ga salah namanya adalah aliee deh dan dia teman dekat dari pemilik club yang biasa aku datangi" jelas danke dengan mengingat hal tersebut. "Sebaiknya kita cari oranglain saja, karena noxx atau wisnu dirgantara akan marah besar kalau kenapa-kenapa sama adik angkatnya itu."
__ADS_1
"Aku tidak takut dengan siapa namanya noxx atau wisnu kalau anak itu mau dirinya tidak ada hak lagi" ungkap gabe dengan penuh percaya diri.
"Terserah apa yang kau pikirkan dan aku sudah mengingatkan dirimu ya dan aku sudah pasti akan membantu kalau ada apa-apa dengan dirimu."
Bunyi telepon kantornya berdering dan dirinya mengangkat telepon tersebut dan me-loudspeaker telepon masuk tersebut.
"Ada apa gina."
"Maaf tuan di bawah ada orang dari perusahaan AKJ datang untuk kerjasama" jelas gina dengan suara yang tegas.
"Apakah aku harus datang, apa kalian tidak dapat menyelesaikan masalah kerjasama saja ini dengan AKJ" tanya gabe dengan penasaran.
"Bisa tuan, tapi waktu itu tuan mau melihat langsung kerjasamanya jadi saya tanya ke tuan untuk perihal tersebut."
"Baiklah aku akan datang lima menit lagi" gabe mematikan telepon tersebut dan menatap danke "aku harus pergi."
"Baiklah aku akan pulang dan malas menunggu apalagi ikut dengan dirimu yang sedang meeting dengan client" danke dengan sigap dan pergi meninggalkan ruangan gabe dengan santainya.
Gabe dengan malas turun ke ruang meeting dan menatap dari balik layar mengenai permasalahan kerjasama dengan perusahaan yang bisa di bilang kecil namun mempunyai anak cabang dimana-mana. Saat memperhatikan sekelilingnya dirinya menatap seorang wanita yang sudah menjadi pusat perhatiannya selama dua minggu ini.
"Aku menemukan dirimu gadis kecilku."
_____
aliee sangat bosan kalau soal meeting dirinya selalu di ajak sebagai alat bantu debat dan pengingat case yang ada. Saat selesai meeting dirinya ke toilet dan membasuh mukanya dengan air agar tidak mengantuk karena perbincangan yang kolot.
"Ah... sangat membosankan membahas yang tidak perting berulang kali" ungkap aliee dengan menghela napas berat.
"Jadi perusahaanku tidak bagus untuk kriteria."
Suara bariton itu mengagetkan aliee hingga dirinya jatuh dengan berjongkok namun dagunya terpentok meja wastafel.
__ADS_1
"Au."
Gabe langsung membantu aliee dan menatap dagu aliee dengan baik-baik "apa kau baik-baik saja."
"Kau membuatku kaget dan untung saja jantungku masih cukup baik saat ini" kali ini aliee menguatkan diri dan bersandar di wastafel.
"Maaf aku tidak bermaksud seperti itu" ungkap gabe dengan jujur dan menatap aliee dengan penuh menuntut.
"Apa."
"Kau sudah berjanji membantu diriku dan kemana kau selama dua minggu" tanya gabe berupa penuntutan.
"Aku hanya berfikir orang gila mana yang mau melakukan hal itu dengan diriku" kali ini aliee dengan santai menjawab dengan sambil mencuci tangannya.
"Kau juga gila kalau mau mengikuti tawaranku."
"Kalau tawaranmu logis aku akan mengiyakannya" tatap aliee dengan tidak mau kalah.
"Ku pastikan kita mendapatkan ke untungan yang sama besarnya dan aku akan menjadikan dirimu wanita yang beruntung karena sudah ku pilih."
"Kita lihat saja tawarannya tuan dan jangan terlalu percaya diri duluan" tawa aliee dengan kekehan kecilnya.
"Baiklah, malam ini di tempat kita bertemu pertama kali" jelas gabe mengenai lokasi yang akan mereka tuju.
"Maaf tuan tapi aku tidak bisa karena dimana disana ada kakak laki-laki saya yang sangat over protective apabila ada lelaki yang mendekati saya. Bisa kita pindah tempat ke yang lebih nyaman dan tidak dapat di ganggu" kali ini aliee terlihat lebih berani dan bertingkah seperti wanita penggoda.
"Baiklah tempatnya kau tentukan dan akan ku tunggu paling lambat besok apabila tidak ada tanggapan aku akan mencari yang lain" gabe menatap aliee dengan tatapan yang menginformasikan bahwa dirinya yang memegang kendali.
"Deal."
Next Episode
__ADS_1