
Okta terbangun dari tidurnya, tiba-tiba perasaan tidak nyaman menyusup ke hatinya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, saat ini pikirannya hanya tertuju pada Vika.
Tanpa pikir panjang Okta mencoba menghubungi Vika berharap mantan istrinya itu mau menjawab panggilannya. Sayangnya, meski mencoba berkali-kali Vika tetap tidak menjawab panggilannya.
"Ku mohon jawab teleponku Vika," gumam Okta lirih.
Seolah mendengar permintaan lirih Okta tidak lama panggilan telepon pria itu dijawab.
"Halo, Vika. Maaf Mas telepon kamu malam-malam, Mas cuma khawatir sama kamu." Okta tidak sadar jika suaranya terdengar sangat semangat hingga tidak menyadari siapa yang menjawab teleponnya.
"Okta," panggil suara yang tidak asing bagi Okta.
"Kak Windi?" Okta terlihat terkejut mendengar suara Windi yang terdengar dingin.
"Jangan hubungi Vika lagi. Hubungan kalian berakhir ketika hakim mengetuk palu, jadi cukup sampai di sana. Apapun yang terjadi pada Vika bukan urusan kamu dan begitu juga sebaliknya."
Okta tertegun sesaat, dia cukup terkejut mendengar ucapan Windi. Terlebih lagi baru kali ini dia mendengar suara Windi yang begitu dingin.
Okta sudah bersiap memohon pada Windi ketika mantan kakak iparnya itu lebih dulu mematikan panggilan. Berikutnya nomor telepon Vika tidak bisa dihubungi, sepertinya Windi memblokir nomornya.
Okta semakin dilanda kekhawatiran. Perasaan tidak nyaman itu membuatnya mau tidak mau menghubungi Elnara.
"Kenapa, Mas? Kalau Mas lupa ini sudah jam dua pagi," suara Elnara terdengar parau menandakan gadis itu terbangun.
"Maaf Mas ganggu kamu, Mas cuma lagi pusing. Nggak tahu kenapa Mas merasa khawatir sama Vika, tadi Mas juga sudah coba hubungi dia."
__ADS_1
Elnara menghela napas mendengar suara Okta yang terdengar sangat putus asa.
"Terus Vika bilang apa?"
"Bukan Vika yang jawab panggilannya, tapi Kak Windi. Kak Windi bilang Mas nggak boleh hubungi Vika lagi dan yang buat Mas semakin khawatir suara Kak Windi seperti habis menangis."
"Biar El coba hubungi Vika atau Kak Windi. Mas tunggu saja kabar dari El, mungkin Kak Windi cuma nggak mau Mas hubungi Vika lagi."
"Baiklah, Mas tunggu kabar dari kamu."
Panggilan ditutup dan Okta harus bersabar menunggu kabar dari Elnara. Dalam hati Okta berharap semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi pada Vika.
*
*
Kesunyian yang menyesakkan dada Vika, hingga tanpa sadar air matanya mengalir. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang.
Dulu saat kehilangan orang tuanya dia menangis meraung-raung meminta pada Tuhan untuk mengembalikan kedua orang tuanya. Sekarang dia kembali merasakan hal yang sama, yaitu kehilangan.
Ya Tuhan, apa salahku hingga mendapat cobaan seperti ini. Aku bahkan belum melihatnya dan menerima kehadirannya.
Vika membatin penuh kesedihan. Luka perceraiannya belum kering dan kini dia harus menerima kenyataan bahwa dia harus kehilangan calon anaknya.
Windi yang baru masuk segera mendekat dan memeluk Vika dengan erat. Sebagai seorang Kakak tentu saja Windi sangat sedih melihat bagaimana adiknya terluka.
__ADS_1
"Kak, kenapa Vika harus mengalami ini semua?" Vika menangis dalam dekapan Windi.
"Ikhlas ya, kita hadapi ini sama-sama. Ada Kakak dan Mbah Sum yang akan nemenin Vika." Windi ikut menangis, merasakan bagaimana sakitnya Vika.
"Mungkin ini hukuman Tuhan karena Vika masih belum bisa menerimanya. Vika terlalu jahat Kak jadi Tuhan menghukum Vika seperti ini."
"Nggak Dek, kamu adik Kakak yang paling baik. Percayalah ini adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan untuk kita. Kamu harus kuat menghadapi ini semua."
Keduanya menangis bersama, merasakan sakitnya kehilangan untuk kesekian kalinya. Mungkin benar inilah yang terbaik untuk Vika.
Mungkin Tuhan memberinya jalan ini agar dia tidak lagi berhubungan dengan Okta. Vika harus menjalani takdir ini dengan ikhlas walau sangat menyakitkan.
"Kak, Vika bisa minta tolong?" Vika bertanya setelah tangisnya mulai reda.
Ada hal penting yang harus dia lakukan sebelum terlambat. Hal penting yang akan menentukan masa depannya.
"Ada apa? Kakak pasti bantu kamu," ucap Windi tulus.
"Tolong jangan katakan mengenai hal ini pada Mas Okta atau El. Vika hanya ingin menyimpan ini sendirian, Mas Okta nggak perlu tahu bagaimana sakitnya Vika. Untuk El, Vika nggak mau dia ikut sedih. Bisakan, Kak?"
Windi tersenyum kecil sebelum menjawab, "ya inilah yang terbaik untuk kamu."
Inilah rahasia terbesar yang Vika simpan rapat dari Okta. Rahasia yang akan membawanya pada takdir lain. Vika tidak pernah tahu bahwa apa yang terjadi hari ini akan membawa luka baru untuk orang yang dia sayangi.
Bersambung ~~
__ADS_1