
Setelah menelpon Papinya, Elnara segera pergi menuju rumah orang tuanya. Gadis itu membawa semua barang-barangnya tanpa ada yang tersisa, dia tidak mau membuat Zayan tidak nyaman jika ada barangnya yang masih tertinggal.
Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tuanya, Elnara hanya menatap kosong jalanan yang dipadati kendaraan. Tidak ada air mata yang mengalir karena dia sudah lelah untuk sekedar menangisi kisah cintanya.
Setelah tiba di rumah orang tuanya, Elnara langsung dsambut oleh Genta dan Almira. Keduaya memeluk Elnara dengan erat, seolah menguatkan sang putri.
"El, istirahat aja ya. Kamar El sudah diberesin, jangan mikirin macam-macam." Ujar Almira sambil menuntun Elnara menuju kamar lamanya.
Genta hanya menatap keduanya dari jauh, tidak ingin mendekat karena masih belum siap melihat wajah sedih putrinya.
"Mas nggak kerja?" tanya Almira yang sudah kembali setelah memastikan Elnara masuk ke dalam kamar.
"Gimana Mas bisa kejar kalau pikiran Mas tertuju pada El." Jawab Genta lirih seraya memeluk sang istri dengan erat.
"Mas jangan begini, aku nggak mau Mas jatuh sakit gara-gara masalah ini. El juga pasti sedih kalau liat Papinya seperti ini."
Genta menggeleng lemah, tidak tahu harus menjawab apa. Meski Elnara belum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi Genta sudah bisa menebak masalah ini berkaitan dengan mantan Zayan itu. Sebagai seorang Ayah jelas dia marah dan ingin membalaskan rasa sakit putrinya.
Genta ingin menghancurkan keduanya hingga hidup dalam kesengsaraan. Namun, Elnara sudah memintanya untuk tidak menyentuh Zayan. Elnara tidak ingin Zayan semakin membencinya dan Genta tahu kebencian Zayan hanya akan membuat Elnara semakin bersedih.
Untuk alasan itulah Genta memilih menahan diri. Genta akan menyerahkan semua pada sang putri, dia yakin Elnara membalas sakit hatinya dengan cara yang lebih bijak.
"Mas, masalah ini biar aku yang urus. Mas nggak perlu memikirkan apapun, untuk saat ini fokus utama kita adalah membuat El melupakan kesedihannya."
Almira tersenyum hangat, senyum yang selalu berhasil membuat Genta merasa tenang. Namun, tidak ada yang tahu jika dibalik senyum hangat Almira saat ini tersimpan dendam yang membara.
*
"Bagaimana?" tanya Almira pada seseorang yang diam-diam menemuinya.
__ADS_1
"Inii Bos, semua berisi foto dan informasi mengenai keduanya." Pria yang merupakan mata-mata Almira itu menyerahkan sebuah amplop besar.
"Kerja bagus, untuk sementara biarkan kita bekerja dengan diam. Saya tidak mau sampai suami dan putri saya mengetahui hal ini." ucapn Almira dengan tenang setelah melihat isi di dalam amplop besar itu.
"Baik bos!" pria itu mengangguk patuh kemudian segera pergi agar tidak ada yang melihat pertemua keduanya.
Almira membaca dengan seksama semua informasi dari kudua orang yang sangat dia benci. Mereka adalah Zayan dan Mikha. Diam-diam Almira mengerahkan anak buahnya untuk mencari tahu tentang Zayan dan sekertarisnya yang selalu bersama.
"Kalian belum kenal siapa saya, berani mengusik putriku artinya berani berhadapan dengan saya." Almira tersenyum sinis, menatap foto Zayan dan Mikha yang sedang makan malam berdua.
Foto itu diambil kemarin malam dan Almira tahu pasti foto itulah yang menjadi sumber tangisan Elnara.
Sambil bersiap untuk memulai aksinya, Almira segera menghubungi Okta. Keponakan tersayangnya itu harus menjadi saksi bagaimana marahnya seorang Almira.
"Halo, Mami cantik!" sapaan Okta terdengar sangat ceria, dia belum tahu saat ini sedang ada masalah besar.
"Mami nggak mau basa basi, tolong kamu segera jemput Mami. Mami mau bertemu dengan sahabat baik kamu."
*
Okta mengantar Almira ke kantor Zayan tanpa bertanya apa maksud kedatangan Almira ini. Firasat Okta mengatakan akan ada perang besar sebentar lagi.
"Mi, itu sekertaris Zayan ada di sana sama karyawan yang lain. Mami mau datangin langsung atau tunggu di ruangan Zayan?" Okta menunjuk Mikha yang tampak berbincang akrab dengan beberapa karyawan.
"Nggak perlu, justru lebih seru buat perhitungan sama wanita nggak tahu malu itu. Biar orang-orang pada tahu seperti apa kelakukan busuknya." Almira tersenyum sinis membuat Okta sedikit takut.
Dengan percaya diri, Almira berjalan mendekati Mikha. Kedatangan Almira membuat mereka yang sedang berbincang seketika terdiam. Mereka menatap bingung pada sosok Almira yang terlihat sangat mengitimidasi.
"Kamu yang namanya Mikha?" tanya Almira menatap tajam pada Mikha yang masih tidak tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
"Iya Bu, saya Mikha. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mikha dengan ramah.
Almira terdiam sejenak, menatap Mikha dengan tatapan menilai. Mikha yang ditatap seperti itu merasa seperti direndahkan.
"Kamu ... nggak lebih cantik dari anak saya." itulah komentar pertama dari Almira yang berhasil membuat Mikha dan karyawan lain terkejut.
"Maksud Ibu apa ya?" tanya Mikha berusaha untuk tidak terpancing.
"Memang benar pelakor itu tidak pernah lebih unggul dari istri sah. Coba lihat diri kamu ini, sudah tidak cantik, terlihat norak dan sangat tidak tahu malu!" Sekali lagi Mikha dan karyawan lain kembali terkejut mendengar ucapan meremehkan dari Almira.
"Saya tidak ngerti apa maksud Ibu berucap seperti itu, tapi sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Saya bukan pelakor dan saya tidak mengenal Ibu." Mikha menatap Almira dengan tajam, dia tidak terima dengan tuduhan tidak berdasar itu.
"Saya Ibunya Elnara, masa kamu tidak kenal anak saya. Dia istri sah bos kamu, Zayan!" jawaban Almira sukses membuat Mikha semakin terkejut.
Di depannya adalah Ibu dari Elnara dan apa yang sudah dikatakan oleh wanita itu tentu akan menjadi gosip heboh di kantor.
"Mami, lebih baik kita ketemu Zayan dulu. Tujuan Mami untuk ketemu Zayan, kita buang-buang waktu untuk berurusan dengan dia." Okta segera menyela karena tidak ingin terjadi keributan, dia tidak mau jika nantinya Elnara dan Almira menjadi bahan gosip.
"Kamu salah Okta, Mami kesini bukan cuma mau bertemu Zayan, tapi juga mau melihat siapa pelakor rendahan ini. Lagipula, biar semua tahu seperti apakah sifat asli wanita busuk ini." Almira menyorot tajam pada Mikha yang tampak pucat karena malu.
Banyak karyawan yang menyaksikan hal ini dan jelas sebentar lagi akan ada gosip panas yang menyebar. Banyak yang tahu seperti apa kedekatan Zayan dan Mikha karena itulah banyak yang bersyukur melihat Mikha dipermalukan seperti ini.
Okta melihat banyak karyawan yang menonton pertunjukan ini akhrinya memutuskan membawa paksa Almira menuju ruangan Zayan. Urusan Mikha akan mudah Okta atasi, lebih penting untuk memberi pelajaran pada Zayan.
Setibanya di ruangan Zayan, tanpa permisi Almira dengan kasar membuka pintu ruangan tersebut. Zayan tampak terkejut, tetapi saat melihat Almira dan Okta ekspresinya berubah tenang.
"Mami," Zayan menyambut tanpa tahu apa-apa.
Begitu tiba di depan Almira, yang Zayan adalah sebuah tamparan keras. Tanparan yang membuat pipi Zayan tampak merah dan telapak tangan Almira terasa kebas.
__ADS_1
"Itu adalah balasan kecil untuk pria yang sudah menyakiti hati putriku. Kamu mungkin tidak tahu kalau saya bahkan jauh lebih kejam dari suami saya. Setelah ini, kamu dan selingkuhan kamu itu akan mendapat balasan yang jauh lebih kejam dari ini hingga membuat kalian berlutut memohon ampun!"
To Be Continue ~~>>