
"Jadi kapan kalian merencanakan untuk menikah."
"Ehm."
"Sudah selesai kamu" jelas sang ayah dengan menetralkan ekspresinya dari keterkejutannya.
"Sudah" kali ini Aliee menatap Gabe "apa kau sudah makan, kalau belum mau ku masakkan sesuatu."
"Aku ajalah yang kau masakkan, kapan lagi kamu masak kaya kemarin-kemarin" tatap sang ayah dengan penuh antusias.
"Baiklah" jawab Aliee dengan nada menyerah "kalian mau di masakin apa."
"Bihun."
Aliee hanya menggeleng jengah dengan kelakuan adik perempuannya dan ayahnya, mereka selalu memesan menu yang sama kalau di tanya.
"Kamu ga keberatankan menunggu sebentar aku mau beli bahannya dulu" Aliee ijin sebentar kapada tamunya tersebut.
"Aku ikut denganmu."
Aliee menatap pakaian yang digunakan oleh Gabe yang bisa dibilang bukan pakaian sehari-hari bagi orang menengah ke bawah.
"Aku mau ke pasar dan kamu ga apa dengan pakaianmu yang wah itu" tanya Aliee dengan wajah ga percaya.
"Aku baik-baik saja, aku aku antar" kini Gabe sudah berdiri dengan sigap.
"Tidak, dengan kendaraan yang kamu miliki kita yang akan kesusahan" sanggah Aliee dengan cepat. "Pakai motor aku aja biar cepat, aku ga mau kenapa-kenapa nanti sama mobil kamu dan lagi pula ga jaug kok."
"Jangan bilang abang ga bisa bawa motor" tatap Ani dengan tatapan tidak percayanya.
"Aku bisa kok" sanggahnya dengan cepat "ayo kita pergi sekarang karena kalau terlalu lama nanti mereka kelaparan."
Aliee tertawa kecil menatap tingkah Gabe dan dirinya pergi duluan dengan cepat dan Aliee mengambil kunci motor kesayangan ayahnya dan mengikutinya keluar. Aliee melempar kunci tersebut dan Gabe menangkapnya dengan sigap lalu menatap Aliee dengan tatapan tidak percaya karena melempar kunci tersebut.
"Ayo pak... nanti mereka lapar bagaimana" goda Aliee pada Gabe mengingatkan ucapannya sebelumnya.
"Dimana letak motornya"
Kini Gabe menatap Aliee dengan geram karena Aliee hanya memberikan arahan dengan bibirnya yang sedikit di manyunkan ke arah motor itu berada. Dia menghela napas kesal namun dirinya memutar balik arah motor tersebut.
__ADS_1
"Untung ketauan buruknya duluan sebelum nikah kalau tingkahnya kaya anak kecil."
"Baguslah kalau kamu sadar dan siapa suruh datang tanpa kasih aba-aba" balas Aliee tidak mau kalah.
"Baiklah sekarang ke arah mana kita jalan" Gabe mengalah akan perdebatan tersebut dan memilih membiarkan Aliee menang.
Gabe menatap bagaimana Aliee menawar sesuatu di pasar tradisional ini dan hanya Aliee orang yang dapat membawanya kesini. Seorang Gabe tidak pernah menginjak pasar tradisional sebelumnya dan kini dirinya merasakan padatnya pasar di pagi hari dan berdesak-desakan dengan yang lainnya. Orang lain tidak ada hentinya menatap Aliee dan Gabe, bagaimana tidak, saat ini Aliee berjalan dengan mengandengan tangan Gabe agar tidak tertinggal.
"Selamat pagi Bude*."
"Kamu datang toh ndo**" jelas wanita paruh baya yang menjaga toko dagangannya.
"Iya Bude, aku pesan bumbu yang seperti biasa ya dan semuanya seperapat aja bude" jelas Aliee dengan memilih sayuran yang ada di dekatnya dengan sangat teliti.
"Sejak kapan kamu beli lebih dari seperat ndo, itu suamimu" wanita paruh baya itu menatap gabe dengan tatapan senang. "Akhirnya bude tau kalau kamu punya suami dan pantas saja ga mau di ajak soalnya ganteng pisan ya orangnya."
"Bude bisa aja" Aliee tersenyum malu akan ucapan wanita tersebut dan memberikan sayuran tersebut. "Sudah bude, sok di hitung berapa semuanya" jelas Aliee dengan mengeluarkan dompetnya.
"Tunggu ya tak hitung dulu."
"Kamu sering ke sini, aku kira kamu hanya tau ke mall saja" ucap Gabe tanpa maksud menyindir "kamukan orangnya selalu berpenampilan sempurna."
"Penampilan sempurna bukan berarti dia memiliki gaya yang high class."
"Semuanya jadi Rp. 45.000 ndo" jelas wanita tersebut dengan memberikan kantong berisi belanjaan tersebut.
Gabe mengeluarkan dompetnya dan Aliee menatap gabe dan melihat isi dalam dompetnya dan dirinya tertawa karena tidak ada sepeser uang yang ada di dalam dompetnya.
"Sebaiknya kamu menyediakan uang receh di dalam dompet agar dapat digunakan apabila tidak ada uang cash."
Aliee membayar belanjaan tersebut dan Gabe mengambil barang belanjaan tersebut dan langsung pergi keluar dari padatnya orang yang berlalu-lalang.
"Makasih ya bude."
Aliee mengejar Gabe yang sudah keluar menaiki tangga ke arah parkiran dan dirinya mengambil alih belanjaan tersebut dan dirinya hanya diam hingga sampai rumah.
"Kalian berantam" tanya sang ayah dari Aliee.
"Ga pa, aku hanya ingin cepat selesai saja memasaknya dan silahkan berbincang lagi dengan Gabe yang lama juga aku ikhlas."
__ADS_1
Memasak bihun tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya 30 menit semuanya sudah jadi dan dengan sigap Aliee menyiapkan semuanya dengan cepat dan di bantu Ani.
"Aku jamin kau suka dengan masakan putriku, dia sangat pandai memasak dan aku akan sangat kehilangan dirinya kalau dia sudah bersama denganmu nanti Gab."
Gabe dan Aliee sama-sama menatap sang ayah dari Aliee bersamaan dan Aliee terlihat sedih dan Gabe dapat melihatnya dengan jelas saat ini. Tidak ada sosok Aliee yang dirinya lihat angkuh dan percaya diri, yang di lihat saat ini adalah Aliee yang rapuh.
"Aku tidak akan membawanya jauh-jauh karena kebahagiaan dirinyalah yang paling utama" Gabe mengucapkan kata-kata tersebut dengan tulus sambil menatap Aliee dengan penuh keyakinan.
"Apaan sih bapa, anaknya kan masih belum di ambil dan lagian kalau di ambil kalau kangen masakan kakak kan kita bisa ke sana dan minta masakin sama si kakak dan si abang juga ga masalahkan."
"Tidak sama sekali ni, dan aku akan membeli rumah di daerah sini agar kalian tidak terlalu jauh kalau mau mapir ke rumah."
"Kalian omongin apa coba ini, lebih baik makan sekarang karena aku sudah membagi porsi buat kalian bertiga."
Aliee mengalihkan pembicaraan mereka dari pembahasan mengenai pernikahan dan kali ini mereka bertiga memilih untuk diam.
Gabe melihat keluarga dari Aliee makan menggunakan tangan dan dirinya sebenarnya tidak pernah makan dengan tangan, namun hanya di rumah ini dirinya melakukan hal yang tidak pernah di lakukan. Gabe yang awalnya ragu dengan makanan yang di buat oleh Aliee dan dia mau ga mau memakannya dan dia sejenak dengan makanan yang dirinya rasakan.
"Bagaimana, enak bukan."
"Ya aku menyukainya."
Mereka bertiga tersenyum dengan senang kalau tamu mereka menyukai makanan yang di buat dan tidak membuat tamu mereka kecewa. Aliee menatap Gabe yang menambah porsi makanannya hingga 3 piring dan dirinya mengaku kalah karena rasa kenyangnya.
"Kamu kayak ga pernah makan aja bang sampai nambah sebanyak ini" kekeh Ani dengan melihat sikap dari Gabe.
"Iya aku seperti tidak pernah merasakan masakan rumah dan baru kali ini aku merasakannya, biasanya aku hanya makan sendiri dan bersama client."
Delon tau rasanya tidak makan dengan keluarga mereka dan hal itu sangat tidak enak dan menyedihkan.
"Kalau kau menikah nanti jangan lupa masak makanan untuk suamimu nanti" Delon menatap Aliee dengan tegas.
"Iya pa, lebih baik kalian makan yang ada nanti malah tersedak kalau makan sambil ngobrol."
Aliee sedikit jengah dengan sikap ayahnya yang selalu membela Gabe dan dirinya heran apa yang di ungkapkan Gabe hingga ayahnya begitu menganak emaskan dirinya. Namun yang patut dia sukuri adalah ayahnya cocok dengan Gabe yang notabennya calon suami sementaranya itu.
Next Episode.
Noted:
__ADS_1
* Bude adalah sebutan orang lebih tua untuk orang jawa.
** Ndo adalah panggilan anak perempuan untuk orang jawa.