
"Beberapa orang menikmati hidup tanpa tau tujuan yang sebenarnya. Lalu sisanya sibuk mencari apa tujuan hidupnya tanpa sempat menikmati hidup itu sendiri"
...
...
Di pagi hari, di awal musim semi, seorang anak muda bangun dari mimpi buruknya. Ia kemudian memegang salah satu matanya dengan tangan kanannya
"Huh, sepertinya aku menangis saat bermimpi"
Ia kemudian melirik ke seluruh ruangan di kamarnya. Di kamarnya berisikan kardus yang tersusun rapi di tepi ruangan. Tak terkecuali kardus yang ada di sebelah kanannya, lebih tepatnya berada di depan lemari pakaiannya yang baru ia lihat
Ia kemudian bangun dan berjalan menuju ke arah kardus itu, mengangkatnya dan melihat tulisan yang ada di kardus tersebut yang bertuliskan namanya
"Nakagawa Haru!? Tunggu dulu, kalau kardus ini berada di sini berarti isinya adalah baju-baju ku kan? Harusnya aku membereskan nya! Atau jangan-jangan ayah yang melakukannya yaa?"
Ia berjalan menuju ke kamar ayahnya itu, dan mendapati ayahnya sedang membereskan sisa barangnya
"Hei ayah, apakah kau yang membereskan semua pakaianku?" Tanya Haru
Ayahnya berbalik ke arahnya dan ia menjawabnya dengan penuh semangat, "hehe, begitulah. Aku awalnya ingin membangunkan mu, tapi yang kulihat kau tertidur dengan pulas, jadi aku merasa tidak enak untuk membangunkan mu"
Haru kemudian meresponnya dengan mengatakan, "ayah ini seperti orang lain saja. Apakah memang mobilnya yang membawa barang kita akan datang lebih cepat seperti yang ayah katakan kemarin?"
__ADS_1
"Yah begitulah, jadi mau tidak mau kita harus membereskan semua barang-barang ini". Jawab ayahnya
"Kalau begitu, apa ada yang bisa kubantu? Sepertinya masih ada beberapa barang yang belum kau selesaikan"
"Ah, aku hargai bantuan mu itu tapi tenang saja, ini tidak begitu sulit kok. Lagian mobilnya akan tiba di sini sekitar jam sepuluh pagi, jadi kita tidak terlalu terburu-buru. Semuanya sudah ku bereskan semalam"
Haru kemudian melihat jam pintarnya yang ada di pergelangan sebelah kirinya. Di jamnya terlihat menunjukkan pukul delapan lewat enam belas menit. Jadi seperti yang dikatakan ayahnya, mereka tidak harus terlalu terburu-buru
Haru sekali lagi menawarkan dirinya, "kalau begitu aku akan ke supermarket untuk membeli bahan-bahan untuk kita pakai sarapan"
"Ah ide yang bagus! Kebetulan sekali, perutku sudah mulai merasa kelaparan juga. Kalau begitu mohon kerjasamanya yaa!" jawab ayahnya dengan penuh semangat
Haru kemudian meninggalkan ayahnya yang sedang membersihkan sisa barangnya tersebut. Menyegarkan wajahnya, lalu ia menuju ke supermarket seperti yang ia katakan sambil olahraga pagi dengan berjalan kaki
Di dalam perjalannya, ia kemudian memikirkan tentang dirinya yang semalam sulit untuk tertidur jika besoknya adalah hari-hari penting seperti sekarang ini. Karena sulitnya tidurnya itu, ia menjadi terlalu banyak mengkhawatirkan masa depannya. Terlebih jika Haru adalah anak pertama dan ia adalah satu-satunya harapan bagi ayahnya
Tentunya ia tidak ingin mengecewakan ayahnya itu, tapi disisi lain, sampai sekarang ia belum menemukan bakatnya yang menurutnya bisa dipakai untuk masa depannya. Kekhawatiran ini bukan pertama kalinya bagi Haru. Sudah berbulan-bulan ia selalu dihantui oleh kekhawatirannya ini. Tentu saja, ia sudah melakukan apapun yang ia bisa, diantaranya adalah menggambar, edit video, programmer, ataupun kontent kreator. Dan semuanya hanya menjadi sia-sia
Haru terkadang merasa iri dengan beberapa teman sosmed nya yang memiliki bakatnya masing-masing. Ketika melihat itu, Haru selalu mengucapkan kepada dirinya sendiri, "apakah aku bisa menjadi mereka?", "Apakah aku kurang beruntung ya?, Atau "apakah memiliki bakat seperti itu?" Dan tentu masih banyak lagi yang membuat semangat Haru menjadi turun
Selama ini, hanya ayahnya lah yang membiayai Haru sampai sekarang. Haru yang sekarang bukanlah anak kecil lagi, dan menurutnya ia bisa saja bekerja untuk meringankan biaya yang dikeluarkan oleh ayahnya. Hal ini sudah ia bicarakan kepada ayahnya, sayangnya ayahnya menolak permintaannya tersebut
Menurut ayahnya, untuk masalah uang adalah masalahnya. Sedangkan tugas Haru untuk belajar sebaik mungkin agar mendapatkan pekerjaan yang mungkin lebih baik dari ayahnya. Tentunya Haru tidak menentang responnya ayahnya itu, walaupun ia merasa kecewa dengan jawabannya. Tapi sebagai anaknya, ia menerimanya dengan lapang dada
__ADS_1
Mengingat semua itu, Haru tidak sadar jika ia sudah tiba di supermarket. Untuk sarapan kali ini, yang Haru pikirkan hanyalah omerice. Makanan yang tidak terlalu ribet, tapi setidaknya dapat mengenyangkan dalam waktu yang cukup lama. Apalagi mereka berdua akan melakukan perjalanan yang memakan cukup waktu
Sesudah berbelanja bahan-bahan yang ia perlukan, ia kembali ke rumahnya. Berbeda dengan sebelumnya, ia tidak terlalu banyak berpikir terlebih dahulu. Ia lebih memilih untuk fokus ke langkah kakinya sambil melakukan lari-lari kecil hingga ke rumahnya
Setelah semuanya sudah siap, Haru memanggil ayahnya yang tentunya masih sibuk dengan mengemas barang-barangnya itu. Keluar dari kamarnya dengan debu yang hampir di seluruh telapak tangannya, ia hanya keluar dari kamarnya dengan penuh percaya diri sambil mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum menyantap sarapannya bersama anaknya
"Mmm, sepertinya makanan kali ini tampak lebih lezat dari biasanya", kata ayahnya sambil duduk di hadapan anaknya
"Bukannya sama saja seperti biasanya? Mungkin karena hari ini adalah hari terakhir kita makan di rumah kecil ini, jadi makanan kali ini terlihat seperti berbeda", jawab Haru
"Haha, kau benar nak! Sudah bertahun-tahun kita berdua tinggal di tempat yang sederhana ini. Akhirnya kita juga bisa pindah", kata ayah Haru sambil melihat sekeliling ruangannya
Haru kemudian melanjutkan lagi perbincangannya sambil mereka berdua memakan omurice yang ada di atas meja kecilnya itu. "Apa jangan-jangan karena kita akan pindah ke rumah yang sedikit lebih besar, membuatmu bersemangat hari ini ayah?" Tanya Haru
"Tentu saja bukan? Bukan cuman itu, kau tahu juga kan kalau baru-baru ini aku sudah menikah dengan perempuan lain setelah hampir lima tahun lamanya aku sendiri. Bagaimana ayah tidak senang, kalau akhirnya keluarga kita bisa kembali lengkap"
Haru kemudian mengingat kembali pernikahan ayahnya dengan ibu barunya itu yang berlangsung beberapa hari yang lalu. Acaranya berlangsung dengan baik dan tentunya cukup meriah juga, walaupun Haru belum melihat wajah ibu barunya itu karena Haru tidak terlalu suka berdiri di antara keramaian, ia lebih memilih berada di barisan belakang dan karena itu ia tidak sempat melihat kedua orangtuanya yang berdiri di depan orang banyak
Beberapa jam kemudian mobil pengangkut barang akhirnya datang, mereka berdua juga sudah siap. Dan seperti yang dikatakan Haru kepada ayahnya semalam, Haru memilih untuk naik kereta ke kota tujuannya karena mobil pengangkut barang hanya menyediakan dua kursi saja
Haru membantu untuk mengangkat barang-barang yang ada di rumahnya. Dan ketika semuanya sudah siap, ayahnya dengan mobil pengangkut barang berangkat duluan. Sementara Haru memastikan bahwa tidak ada lagi barang yang tertinggal
Sebelum berangkat, Haru kemudian memberikan penghormatan terakhir kepada rumah kecil itu yang telah menemaninya hampir lima tahun dengan membungkukkan kepalanya tepat di depan pintu rumahnya sambil mengucapkan terimakasih. Walaupun Haru merasa itu akan terlihat konyol jika orang lain melihatnya seperti itu, tapi baginya rumah ini adalah salah satu rumah yang tidak akan Haru lupakan
__ADS_1
Menuju ke kota baru, tentunya akan banyak pengalaman yang Haru akan dapatkan. Baik suka dan duka atau susah maupun senang. Haru semakin bersemangat dengan kisah baru yang akan menantinya