Masa Kini Atau Masa Depan

Masa Kini Atau Masa Depan
Gadis perpustakaan


__ADS_3

Masih di tempat yang sama, Mayumi bertanya sekali lagi kepada Haru. "Jadi, apa yang harus kulakukan sebagai sahabatmu?"


"Menurutku, lakukan seperti biasa. Maksudku, apa yang sering kau lakukan bersama Rin itu juga bisa kau lakukan padaku"


"Tunggu dulu, mungkin saja bersahabat dengan laki-laki itu berbeda ketika bersama dengan perempuan. Misalnya, aku sering berpegangan tangan dengan Rin ketika kami berdua jalan bersama. Tidak mungkin kan aku lakukan hal yang sama kepadamu"


"Oh, maksudmu hal semacam itu? Kau kan bukan anak-anak lagi, seharusnya kau sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kalau begitu, aku bertanya padamu. Mengapa kau ingin bersahabat denganku?"


"Bukannya kau tadi bilang kalau kau sudah menganggap ku sebagai sahabatmu?", jawab Mayumi


"Kau benar, tapi seandainya aku tidak memberitahu mu soal itu. Mengapa kau ingin bersahabat denganku? Kau bisa saja bersahabat yang mungkin lebih pandai, dewasa, atau lebih populer daripada aku"


"Jawabannya sederhana, aku bersahabat dengan orang lain bukan karena itu. Aku bersahabat dengan orang yang benar-benar ingin bersahabat denganku, bukan yang ingin bersahabat denganku karena hanya ingin menjalin hubungan lebih dari sahabat"


"Baiklah, baiklah. Aku paham itu, kemudian bagaimana dengan kita berdua? Apa kau ingin memberitahukan kepada orang lain kalau kita berdua bersahabat? Atau bagaimana?", Jawab kembali Haru


"Tentu saja tidak, hubungan antar sahabat itu bukan mengakui, tapi diakui. Jadi bagusnya, kita jalani seperti biasa"


"Tapi bagaimana dengan mu? Orang lain bisa saja akan beranggapan aneh-aneh jika melihat kita berdua ternyata memiliki hubungan dekat"


"Soal itu aku juga sedikit bingung bagaimana mengatasinya. Tapi untuk sekarang, baiknya kita jalanin seperti biasa. Jangan terlalu dekat tapi tidak juga jauh"


"Baiklah, baiklah"


Akhirnya setelah pembicaraan yang cukup panjang. Mereka berdua menuju ke kelas. Seperti yang dikatakan Mayumi sebelumnya, ia tidak ingin orang lain curiga. Maka, Mayumi berjalan terlebih dahulu, menunggu beberapa menit, dan Haru menyusulnya agar mereka berdua tidak terlihat bersama


(Huff, aku baru tahu kalau bersahabat dengan gadis itu ternyata begitu sulit), pikir Haru


Haru kemudian menyusul masuk ke dalam kelas. Disana, sudah ada beberapa gadis yang mengerumuni Mayumi di mejanya. Ketika Haru masuk, seisi kelas melihat Haru dengan tatapan bingung. Meninggalkan rasa penasaran yang ada di pikiran Haru


Walaupun begitu, Haru berusaha untuk tidak terlalu memperdulikannya. Ia hanya berjalan menuju bangkunya, walaupun teman-temannya itu masih melihatnya. Ketika Haru melihat seisi kelas, teman-temannya itu langsung mengalihkan pandangannya dan pura-pura sibuk dengan urusannya masing-masing


Akihiro, salah satu teman dekatnya kemudian berbalik ke arahnya dan bertanya dengan berbisik. "Hei, apa yang Mayumi lakukan padamu disana?"


Tidak mau membuat Mayumi kecewa, dia terpaksa berbohong kepada Akihiro


"Yah, kau tahu kan bagaimana sifatnya Mayumi. Dia memarahiku dengan mengatakan kalau aku tidak boleh mengulanginya lagi", jawab Haru


"Aww, aku sudah membayangkan bagaimana ekspresinya itu. Kau masih beruntung kalau dia hanya sekedar memarahimu. Kau belum melihat bagaimana tendangannya jika dia benar-benar marah. Jadi apa kau tidak boleh dekat-dekat dengannya lagi?"


"Bukannya tidak boleh sih. Soalnya dia bilang tidak masalah untuk berbicara dengannya, asalkan tidak terlalu berlebihan"


"Fiuhh... Untungnya. Berarti kau masih punya kesempatan untuk dekat dengannya kan? Baiklah, aku akan membantumu sebisaku"


"Hei hei! Aku sudah cukup kapok kena marah oleh Mayumi"


"Oleh karena itu, aku akan membuat mu dekat dengan cara lebih halus lagi"

__ADS_1


"Huff... Baiklah baiklah. Tapi ini untuk terakhir kalinya yaa. Kalau gagal, aku tidak akan lagi mengikuti caramu itu"


"Tenanglah, kali ini aku tidak akan mengecewakan mu!"


Hanya baru beberapa menit mereka berdua berbicara. Jam pelajaran telah masuk, dan guru sudah memasuki kelasnya. Selama pelajaran, Haru masih memikirkan tentang ceritanya. Setelah menonton seri anime semalam, ia menemukan beberapa ide untuk membuat ceritanya itu. Untuk itu, hari ini ia mencoba untuk menulis prolog. Setidaknya untuk memberitahukan orang lain bagaimana awal dari sebuah ceritanya


Jam istirahat telah masuk, dan saatnya bagi Haru untuk menuju ke perpustakaan sekali lagi untuk memulai menulis ceritanya di atas kertas. Setidaknya bisa memberikan sedikit gambaran mengenai ceritanya


Seperti kemarin, perpustakaan di sekolah itu masih kosong. Tidak ada siapa-siapa kecuali gadis si penjaga perpustakaan tersebut yang duduk sambil membaca sebuah buku kecil di tangannya


Entah kenapa, gadis itu selalu memakai sweater krem di badannya. Terlebih lagi wajahnya terlihat begitu lemas di balik kacamata bulatnya. Selain itu, sepertinya dia kurang tidur semalam. Itu bisa dilihat dari kantung matanya yang sedikit terlihat. Hal itu membuatnya sedikit penasaran dengan kondisinya, tapi ia lebih memilih untuk tetap diam


Melihat perpustakaan itu selalu sepi pengunjung, Haru kemudian bertanya kepada gadis itu. "Hei, uh... Apakah memang tempat ini selalu seperti ini?"


Gadis itu menjawab, "ya begitulah. Tempat ini memang selalu seperti ini kecuali dua minggu sebelum ujian"


"Jadi hanya kau yang selalu menjaga tempat ini?"


"Yaa, begitulah"


"Hei, kalau begitu apa aku bisa memakan bekalku disini?"


"Kau membawa bekal ya? Uh..."


"Eh, tidak boleh yaa?"


"Ibuku? Bukan bukan, bekal ini kubuat sendiri"


Di tengah-tengah mereka berdua berbincang. Perut gadis itu tiba-tiba bunyi dengan cukup keras yang membuat Haru juga mendengarnya. Seketika wajah gadis itu tiba-tiba memerah sambil menutup wajahnya dengan buku kecilnya


Berbeda dengan Haru, ia justru tertawa kecil mendengar hal itu dan seketika menyadari maksud gadis tersebut


"Jangan menertawakan ku!", Kata gadis itu


"Haha! Kenapa kau begitu pemalu sih? Kau bisa mengatakannya sedari awal. Kalau begitu ayolah. Makanan ini kita akan bagi dua"


Gadis itu tidak memiliki pilihan lain selain mengikutinya, karena disisi lain gadis itu benar-benar merasa lapar. Walaupun masih merasa malu, ia mengikuti Haru yang sudah duduk di meja terdekat


"Memang makanan ini buatan ku, tapi jangan terlalu berharap ya soal rasanya. Lagian isinya juga hanya mi goreng dan nasi putih, hehe"


"Ti-tidak masalah kok. Seharusnya aku yang berterimakasih kepadamu karena memberikan sedikit makananmu padaku"


Membuka bekalnya, baunya langsung tercium oleh gadis itu. Seketika membuatnya semakin merasa lapar. Tapi gadis itu menyadari kalau Haru hanya memiliki satu sendok dan tidak ada piring di sekitarnya untuk membagi makanannya


"Kalau begitu, makanlah", kata Haru sambil memberikan sendoknya


"Eh, bagaimana denganmu?

__ADS_1


"Kau tidak memiliki piring ataupun sendok kan? Jadi kukira baiknya kita gantian saja. Karena kau sudah sangat lapar, kau makanlah dulu. Aku mau mencari-cari buku dulu di sekitar sini"


"Te-terima kasih! Kalau begitu, selamat makan!", Kata gadis itu sambil menyantapnya dengan lahap


(Dia bilang kalau makanannya biasa-biasa saja, isinya memang hanya mi instan dan nasi. Tapi rasanya sangat berbeda dari yang pernah ku makan sebelumnya. Tekstur mi nya lebih terasa dan bumbunya begitu menyatu dengan mi nya. Aku yakin kalau orang ini benar-benar tahu cara memasak!)


Disisi lain, Haru mencari buku yang akan menjadi referensinya untuk menulis. Tak lama kemudian, ia berhasil menemukan buku yang ia baca kemarin. Lalu ia kembali ke meja dimana gadis itu makan


Sambil makan, gadis itu bertanya kepada Haru, "mengapa kau mengambil buku itu? Apa kau gemar membaca novel?"


"Ah, tidak juga. Aku hanya menjadikan buku ini sebagai referensi ceritaku"


"Jadi kau menjadi seorang penulis yaa? Wah, hebat!"


"Haha, tapi aku tidak berpengalaman soal ini. Apalagi ini adalah pertama kali ku untuk menulis cerita"


"Tidak masalah, lanjutkan saja. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, kan?"


Haru kemudian mulai menulis ceritanya, tapi sayangnya hal itu tidak berjalan begitu lancar. Banyak hal yang mengganggunya, mulai dari penamaan karakter, nama desa, kerajaan, sihir, dan masih banyak lagi. Tentunya Haru belum menyiapkan sebanyak itu


Ia hanya menulis sampai tiga baris dan merasa ia tidak sanggup untuk melanjutkannya. Karena merasa sudah lama, Haru kemudian menyantap bekalnya itu


"Ehh!"


"Heee!!"


Keduanya begitu terkejut, ketika menyadari kalau makanan yang disisakan oleh gadis itu sangat sedikit, bahkan tidak cukup setengah. Gadis itu hanya menyisakan seperempat dari semua makanannya


Gadis itu kemudian berdiri lalu menundukkan kepalanya beberapa kali sebagai bentuk permintaan maafnya dengan perasaan malu


"Maaf... Maaf... Aku tidak menyadari kalau aku makan terlalu banyak!"


"Ah, y-ya. Tidak usah begitu, wajar kalau kau makan terlalu banyak. Kau mungkin sangat lapar"


"Ta-tapi. Aku masih merasa tidak enak"


"Haha, santai saja. Kalau begitu, aku habiskan sisanya"


"Tungg—"


(Dia memakai sendok itu! Bu-bukannya itu dinamakan ciuman tidak langsung!? Kenapa dia terlihat begitu santai!?) pikir gadis itu dengan wajahnya yang mulai memerah


Gadis itu kembali duduk di hadapan Haru yang makan dengan tenang dengan wajah yang memerah. Menyembunyikan wajahnya yang dengan menidurkan wajahnya di atas meja


"Eh? Ada apa?", Tanya Haru


"Y-ya, ti-tidak apa-apa! Silahkan lanjutkan, aku ambil minumanku dulu di meja", jawab gadis itu sambil merasa tersipu malu. Ia tidak ingin Haru melihat wajahnya yang memerah lebih lama lagi

__ADS_1


__ADS_2