
Beberapa hari telah lewat, Mayumi mau tidak mau harus izin masuk ke sekolahnya karena kakinya yang belum juga sembuh. Tapi saat jam istirahat telah masuk, Akihiro bertanya kepada Haru mengenai kondisi Mayumi sebelum ia keluar kelas
"Uhh, aku juga tidak tahu. Aku belum menjenguknya akhir-akhir ini. Tapi harusnya ia semakin membaik sekarang"
"Aku juga berharap seperti itu"
"Hee... Tumben kau perhatian dengan Mayumi. Apa jangan-jangan ada sesuatu di antara kalian?"
"Haha, tidak ada kok!"
"Kalau begitu bagaimana kalau kita menjenguknya nanti saat jam pulang?"
"Kita? Hanya kita berdua?"
"Tidak, kau bisa mengajak Rin juga. Atau seluruh kelas mungkin lebih bagus sih"
"Itu ide yang bagus, aku bisa mengajak pacar ku juga untuk ikut bersama kita. Tapi aku tidak bisa menjamin kalau kita dapat mengajak semua teman kelas kita. Kau tahu kan karena hal ini terlalu mendadak bagi mereka"
"Yah, tidak masalah. Kita bisa mengajak mereka untuk menjenguknya besok saja"
"Jadi denganmu, kita hanya datang kesana 4 orang kan?"
"Tidak, mungkin 5 orang. Aku ingin mengajak satu gadis lagi"
"Hee... Apa jangan-jangan itu pacar baru mu?"
"Heh! Sembarangan. Gadis yang aku maksud itu adalah gadis si penjaga perpustakaan"
"Tunggu dulu, memangnya dia dekat dengan Mayumi?"
"Aku tidak tahu juga, tapi yang pastinya dia akan ikut kalau aku yang mengajaknya"
"Ah, baiklah. Aku serahkan gadis itu padamu. Kalau begitu aku duluan yaa. Aku tidak merasa enak jika pacarku menunggu ku terlalu lama," kata Akihiro sebelum meninggalkan Haru
Seperti biasa, Haru menuju ke perpustakaan untuk membawakan Izanami kotak bekalnya untuk dimakan bersama. Di sana sudah ada Izanami yang mengerjakan beberapa tugasnya. Melihat Haru yang datang, Izanami langsung menyapanya dengan senyuman hangatnya
"Hei Haru, bagaimana kabar mu hari ini?"
"Haha, baik-baik saja seperti biasa. Terimakasih telah bertanya," jawab Haru dengan membalas senyumannya itu dengan nada candanya. Padahal sebenarnya mental Haru benar-benar tidak baik-baik saja untuk hari ini
Ia benar-benar hampir mencapai batasnya. Dan ketika melihat senyuman polosnya Izanami, ia tahu kalau untuk saat ini ia tidak boleh berpikiran seperti itu
"Jadi, apa yang sebenarnya kau kerjakan?"
"Ini? Ini bukan apa-apa kok. Aku hanya latihan soal yang baru saja diajarkan tadi"
(Anak ini memang benar-benar rajin. Aku tidak tahu kenapa gadis ini memilih tempat ini daripada bergaul dengan teman-temannya. Tapi bertanya kepadanya hanya membuatnya tersinggung)
"Baguslah, kalau begitu kenapa kau tidak istirahat dan makan dulu sebelum melanjutkan kembali? Mungkin itu akan sedikit mengembalikan semangat mu," jawab Haru
__ADS_1
"Haha, kalau buatan mu. Bukan sedikit lagi, tapi banyak!"
Mereka berdua memakan bekal buatan Haru dengan lahap. Selesai dengan urusan makanannya, Haru bertanya kepada Misaki. "Oh iya. Apa kau sibuk saat pulang sekolah nanti?"
"Pulang sekolah? Mungkin tidak, memangnya ada apa?"
"Kau tahu gadis yang datang bersamaku saat itu? Dia sedang sakit hari ini. Yah, walaupun sudah beberapa hari sih sebenarnya"
"Oh, gadis itu? Namanya Mayumi kan? Apa sakitnya keras?"
"Untungnya saja tidak, kakinya hanya terkilir beberapa hari yang lalu. Jadi dia mungkin sedikit kesulitan saat berjalan. Jadi beberapa teman kami ingin menjenguknya nanti saat pulang jam sekolah. Apa kau mau ikut juga?"
"Tentu saja aku ikut! Aku cukup akrab dengannya waktu itu, walaupun kami hanya baru pertama kali bertemu. Jadi kita bertemu dimana nanti?"
"Baguslah, jawaban itu yang ingin kudengar. Kalau begitu, aku akan menelpon mu jika kami ingin berangkat"
"Baiklah! Aku tunggu yaa, hehe"
Setelah itu, Misaki kembali membuka bukunya dan kembali melihat-lihat halaman yang berisikan soal-soal yang disediakan. Karena tidak ingin mengganggunya, ia bermain game di smartphone nya untuk beberapa ronde. Belum sesaat, adiknya yaitu Izanami mengirimnya sebuah pesan untuk segera menemuinya di belakang sekolah
Tidak tahu apa yang diinginkan oleh adiknya, ia hanya mengikuti adiknya itu. Sebelum itu dia minta izin dulu kepada Misaki karena ada urusan, lalu segera menuju ke belakang sekolah
Sesampainya disana, seperti yang dikatakan adiknya. Ia disana menunggu di bangku halaman belakang sekolah. Melihat Haru, ia sedikit cemberut karena kedatangan Haru yang sedikit terlambat
"Kau lama!"
"Yahh. Lupakan saja. Ngomong-ngomong, aku nanti akan terlambat pulang. Kau tahu kan, aku ada latihan sekitar satu jam setelah pulang"
"Ah, baiklah. Kebetulan aku juga terlambat pulang karena ingin menjenguk temanku setelah pulang"
"Oh, benarkah? Sayang sekali kalau begitu. Aku kira kau akan menonton ku"
"Sebenarnya aku ingin, tapi aku khawatir kalau orang akan tahu kalau kita ternyata saudara. Kau tidak mau itu terjadi bukan?"
"Hmmpph, kalau aku mau pun kau pasti akan membuat masalah lagi"
"Yah, aku tidak mengatakan itu loh. Oh kalau begitu, bagaimana kalau kita pulang bersama-sama nanti? Kau juga terlambat pulang bukan?"
"Eh? Y-ya, ji-jika kau memaksa sih mungkin tidak apa-apa"
"Baguslah! Semangat lah dengan latihan mu. Aku akan kabari jika aku sudah tiba di sini"
"Hmpph, tanpa kau bilang pun aku juga bakal semangat tahu!" Kata adiknya lalu pergi meninggalkan Haru sendirian disana
(Tunggu, hanya itu? Kenapa dia tidak sekalian mengatakan saja lewat pesan?)
Tidak ingin membuat Misaki menunggunya terlalu lama, ia kembali ke perpustakaan. Disana tentunya masih melihat Misaki dengan tugasnya. Melihat Haru datang dan duduk di depannya, Misaki kemudian bertanya. "Kau darimana?"
"Dari halaman belakang sekolah kok," jawab Haru, sambil membereskan kotak bekalnya. Tidak sengaja, sendok makanannya jatuh di bawah meja. Melihat sepatu Misaki, ia menyadari satu hal yang membuatnya terkejut
__ADS_1
Haru mengatakan kepada Misaki dengan nada yang serius. "Mengenai tadi, aku harap kau tidak memberitahukan siapa-siapa"
Misaki terkejut dengan nada bicaranya Haru. "Eh, apa yang kau katakan?" Tanya kembali Misaki
"Kau tadi mengikuti ku kan saat menuju ke halaman sekolah?"
"Tunggu? Apa!? Kenapa kau?"
"Mudah saja, itu bisa dilihat dari jumlah soal yang kau kerjakan. Untuk orang seperti mu, harusnya kau bisa mengerjakan 2-3 soal matematika. Tapi yang ku lihat, kau bahkan belum menjawab 1 soal pun"
"Y-ya. Aku sudah berusaha untuk mengerjakannya, tapi soal ini benar-benar sulit loh. Kau tahu kan bagaimana panjangnya prosesnya untuk menemukan jawabannya"
"Sulit kah? Tapi aku lihat hanya sedikit coret-coretan yang ada di kertas yang ada di samping mu. Jika soal itu benar-benar sulit, harusnya coret-coretan mu hampir penuh. Artinya, kau keluar dari tempat ini dan pergi ke suatu tempat"
"Ok, baiklah. Kau benar, aku meninggalkan tempat ini. Tapi aku hanya keluar karena aku pergi ke toilet sebentar. Dan aku kembali ke tempat ini"
"Tidak, kau salah. Kau memang mengikuti ku saat itu. Buktinya, lengan baju mu masih kering. Tidak mungkin kau ke toilet tanpa menyentuh air sama sekali. Selain itu, kalau kau memang ingin buktinya. Semuanya ada di bawah sepatu mu"
"Tunggu... Jangan bilang!?"
Misaki kemudian mengangkat kakinya sedikit dan mengintipnya. Dan apa yang ada di bawah sepatunya adalah pasir-pasir kering yang masih menempel di sepatunya
"Apa kau sudah lihat? Tidak mungkin telapak sepatumu itu ada pasir jika kau hanya menuju ke toilet. Pasir itu hanya bisa kau dapat jika kau berjalan di luar gedung. Apalagi di belakang sekolah yang memang dipenuhi oleh pasir," respon Haru yang masih dengan tatapan seriusnya
"Tidak! Aku tidak tahu apa-apa tentang adikmu! Aku serius!"
"Bagaimana kau bisa tahu kalau gadis yang kutemui adalah adikku? Dari awal aku tidak pernah menyinggung kalau gadis itu adalah adikku"
Misaki semakin tersudutkan karena ia tidak sengaja mengatakan apa yang sebenarnya tidak boleh dikatakan. Merasa tidak boleh menghindarinya lagi, Misaki akhirnya mengakui perbuatannya
"A-aku mohon maaf. Aku hanya penasaran dengan orang yang kau temui"
"Biar kutebak. Kau pasti mengira kalau orang yang kutemui ini adalah orang yang sama dari SMP ku dulu"
(Dia mengetahui sejauh itu!? Bagaimana bisa?) Pikir Misaki
"Tunggu! Kau juga tahu apa yang kupikirkan? Bagaimana mungkin!?"
"Hei, tenanglah. Sebenarnya semuanya berawal dari kau yang melihat catatan rahasia ku. Catatan itu berisi tentang bagaimana berkomunikasi dengan orang lain kan. Aku tahu kau yang melihatnya karena sebelum aku meninggalkan buku catatan ku, halamannya menjadi berbeda ketika aku kembali melihatnya. Itu artinya ada seseorang yang memegang buku ku. Dan saat itu di ruangan ini tidak ada orang lain selain dirimu"
Haru melanjutkan. "Karena Mayumi pernah mengatakan semuanya mengenai masa lalu ku. Itu berarti ada seseorang yang memberitahunya. Dan satu-satunya orang yang kupikirkan sekarang adalah kau Misaki"
Misaki hanya terdiam mendengar apa yang barusan dikatakan Haru padanya. Ia tidak tahu kalau rahasianya terbongkar secepat itu. Dia tidak tahu ia harus mengatakan apa sekarang
"Dengar, aku bukannya membenci mu. Tapi kumohon, jangan sebarkan kalau aku mempunyai seorang adik perempuan di sekolah ini. Aku hanya tidak ingin membuatnya kecewa"
...
...
__ADS_1