
"uhh... Sudah jam berapa ini?", Kata Haru sambil melihat jam pintarnya. Untungnya di hari pertama itu, dia masih bisa bangun tepat waktu, walaupun matanya masih ingin beristirahat
Baru keluar dari pintu kamarnya, ia mendengar seseorang keluar dari rumahnya diiringi dengan suara yang terdengar seperti Izanami, adiknya. Untuk memastikan, Haru turun ke bawah dan bertanya kepada ayahnya
"Ayah, apakah yang barusan pergi itu adalah Izanami?"
"Iya, dia barusan pergi tadi. Bagaimana denganmu? Apa kau tidak terlambat?"
"Harusnya waktunya masih ada satu jam sebelum bel masuk berbunyi. Aku tidak tahu kenapa Izanami berangkat secepat itu"
"Yahh... Mungkin saja dia tidak hanya ingin terlambat bukan? Kau juga sebaiknya tidak terlambat di hari pertama mu sekolah"
"Iya, iyaa", jawab Haru sambil menuju ke kamar mandi
Haru membutuhkan sekitar 40 menit untuk bersiap-siap. Sisanya ia menyiapkan bekalnya seperti biasa. Tapi Haru sedikit terkejut ketika ibunya sudah menyiapkan bekalnya, di atas meja makan terlihat ada dua kotak makanan. Haru kemudian bertanya kepada ibunya yang sibuk di dapur
"Ibu, kenapa disini ada dua kotak makanan?"
"Ah... Itu untukmu dan adikmu nak. Awalnya aku ingin memberinya kepada Izanami. Tapi karena begitu terburu-buru, ia mungkin melupakan bekalnya", kata ibunya
(Hmm... Aneh, bagaimana mungkin Izanami melupakan bekalnya yang jelas-jelas bisa dilihat begini. Atau mungkin dia memang tidak niat untuk mengambil bekalnya?)
"Bagaimana kalau kau memberinya nanti saat disekolah? Mungkin dia akan sedikit senang", lanjut ibunya
"Baiklah, akan kuberikan nanti"
(Ughh... Senang kah? Kalau diingat lagi, dia sudah mengingatkan ku untuk tidak mendekatinya selain di rumah. Walaupun hanya sekedar memberinya kotak makanan ini, aku kira dia tidak akan senang kalau dia melihatku) pikir Haru
Haru lalu menemui ayahnya di kamar, lalu mencoba bertanya kepadanya
"Ayah, apa kau punya kontak milik Izanami di handphone mu?"
"Tentu saja, tunggu yaa", sambil mencari kontak milik Izanami. Tak lama kemudian, "nah ini dia", kata ayahnya. Ayahnya kemudian kembali bertanya mengenai alasan Haru meminta kontak milik Izanami. Tentunya Haru menjelaskan keadaannya
"Oh, baiklah. Tapi ingat, jangan menghubunginya saat pelajaran berlangsung. Aku tidak mau apa-apa jika kau tertangkap basah bermain hp saat jam pelajaran", kata ayahnya yang berusaha menasihati anak kandungnya
"Iya, iyaa. Kalau begitu, aku berangkat yaa. Ayah juga jangan lupa untuk kerja"
__ADS_1
"Haha, tenang saja. Ayah tidak akan mengecewakan mu!"
Melihat kedekatan suami dan anaknya, ibunya Haru sedikit cemburu sekaligus lega ketika mengetahui kalau mereka berdua sangat dekat. Tapi perasaannya itu dirahasiakan dan tentunya ia tidak ingin merusak suasa hati suaminya itu
Sesampainya di gerbang sekolah, ia begitu banyak melihat orang-orang dengan seragam yang sama. Seragam dengan memakai jas hitam dengan baju putih di dalamnya, serta celana hitam bagi laki-laki dan motif kotak-kotak di bagian rok dengan campuran antara warna hitam dan putih untuk perempuan
Haru melewati beberapa ruangan kelas sambil melihat papan tanda yang dipasang di atas pintu masuk setiap kelas. Dan untungnya tidak sulit bagi Haru menemukan kelas di sekolahnya yang tergolong cukup luas
Untungnya kelas belum dimulai, tapi di sana sudah ada beberapa siswa yang berkumpul dengan masing-masing temannya. Ketika Haru masuk ke dalam kelas, semuanya langsung melihat ke arah mereka, dan saling membisikkan satu sama lain seolah-olah membicarakan Haru secara diam-diam
Tanpa memikirkannya terlalu berlebihan, Haru hanya mengambil tempat duduk yang masih kosong. Haru mengambil kursi kedua dari belakang dan barisan kedua dari samping. Sambil menunggu, ia membaringkan kepalanya di atas tas yang sudah ia taruh di atas meja untuk istirahat sebelum bel berbunyi
Sambil beristirahat sejenak, Haru mendengar beberapa percakapan teman sekelasnya. Intinya adalah mereka senang karena mereka bertemu di kelas yang sama tahun ini. Tak lama kemudian, datang seorang laki-laki yang menghampirinya
"Hei, baru saja hari pertama dan kau langsung lemas begini?"
Dengan senyuman paksaan yang ia Haru coba perlihatkan, Haru kemudian meresponnya, "eh... Ah, begitulah. Tapi tenang saja, aku tidak akan sampai tertidur kok"
Laki-laki itu kemudian duduk di meja tepat yang ada di depannya, menaruh tasnya, dan kembali mengarahkan pandangannya ke Haru untuk memperkenalkan dirinya. "Ngomong-ngomong, kau siswa baru itu kan? Perkenalkan namaku Akihiro. Dan sama seperti mu, aku juga murid pindahan tepat 6 bulan yang lalu. Jadi aku harap kau bisa betah disini
"Uhh... Panggil saja Haru", katanya sambil menjabat tangannya
"Ada kok! Walaupun tidak terlalu banyak sih, kebanyakan berada di kelas A"
"Hmmm... Tapi kenapa kau tidak menyapa teman-teman mu itu? Yaah, mungkin hanya sekedar lepas rindu"
"Jangan terlalu lebay begitu, hanya berbeda kelas bukan berarti kita tidak akan bertemu lagi bukan? Selain itu, aku cukup senang karena tahun ini aku sekelas dengan pacarku"
"Huh, pacarmu yaa"
"Lihat yang disana? Rambut pendek dengan warna kuning emas? Yah, itu dia. Namanya adalah Sayuri. Tahun lalu kami berbeda kelas, makanya tahun ini aku sangat senang karena bisa sekelas dengannya"
"Memangnya sudah berapa lama kalian berpacaran?", Tanya kembali Haru
"Sudah hampir 4 bulan"
"Lama juga yaa"
__ADS_1
"Tunggu, lama? Menurutku itu masih berumur sebiji jagung dan kau menyebutnya sudah lama? Apa kau tidak pernah lebih lama dari itu Haru?"
"Jangankan 4 bulan, pacaran saja aku belum pernah"
Mendengar itu, Akihiro kemudian terkejut mendengar jawaban tersebut dan berusaha untuk tidak mempercayainya
"Bro, apa kau serius!? Maksudku, tersisa setahun lagi sebelum kita lulus, dan kau masih belum merasakan pacaran? Setidaknya kau harus merasakan berpacaran sekali sebelum lulus"
"Yah percaya atau tidak, aku tidak tahu kenapa aku belum memikirkan sejauh itu"
Akihiro menjadi semangat dan mulai mengajarkan mengenai masalah percintaan. "Okay, okay. Kalau kau memang belum pernah merasakan yang namanya berpacaran, mungkin karena kau tidak diajarkan oleh teman-teman mu sebelumnya"
"Apa! Memangnya hal itu perlu di ajarkan juga!?"
"Tentu saja bukan!? Kali ini serahkan saja padaku! Kalau begitu pertama-tama aku ingin menanyakan sesuatu untukmu. Jika seandainya kau bebas untuk memilih untuk mengencani wanita yang ada di kelas ini, tentunya selain pacarku. Kau memilih siapa?"
"Uhh... Itu pertanyaan paling konyol yang kudengar", jawab Haru dengan tersenyum kecil
"Ayolah, maksudku aku bersungguh-sungguh akan berusaha membantumu jika aku tahu kau suka tipe cewek seperti apa"
"Ughhhh... Baiklah baiklah apapun itu. Mari kita lihat", Haru melihat perempuan yang ada di kelasnya itu
"Baiklah, bagaimana kalau yang itu"
Haru menunjuk perempuan dengan rambut hitam dengan model ponytail. Yang duduk beberapa bangku di sampingnya. Akihiro yang mengetahui itu cukup terkesan dengan pilihan Haru
"Wow, aku tidak tahu kalau kau menyukai tipe seperti itu"
"Apa maksudmu?", Tanya Haru kembali
"Yang kau pilih itu adalah Mayumi, bisa dibilang dia itu sangat jarang terlihat dekat dengan laki-laki lain. Walaupun harus ku akui kalau memang dia merupakan salah satu cewek yang cukup manis diantara yang lain"
"Kalau kau saja sampai bilang begitu, kenapa dia jarang terlihat dekat dengan laki-laki lain?"
"Yah pertanyaan yang bagus. Bukannya dia tidak pernah berbicara dengan laki-laki, tapi kata-katanya itu kadang membuat orang berpikir berapa kali untuk menyatakan perasaannya kepadanya. Jujur saja, tahun lalu dia cukup populer di kalangan laki-laki. Tapi, karena sikapnya yang tomboi ditambah dengan ia pandai membela dirinya, orang-orang berpikir dua kali untuk dekat dengannya", jelas Akihiro
Haru kemudian bercanda kepada Akihiro dengan mengatakan, "huh sudah kukatakan kan, aku ini memang sangat payah dalam mencari pasangan. Mendengarnya saja, aku sudah berniat untuk berhenti mengejarnya"
__ADS_1
"Hei, kau bahkan belum melangkah dan kau sudah mau menyerah? Ayolah, kenapa kau tidak mencobanya dulu! Tenang saja, aku akan mengajarkan semua yang kutahu tentang menguasai hati wanita! Haha"
(Huff... Kalau begitu, kenapa tidak kau saja yang merayunya! Ini terdengar seperti aku yang menjadi tumbal proyeknya)