
Sesampainya di rumah, Haru dan adiknya membuat makan malam bersama untuk pertama kalinya. Tentunya karena Izanami belum memiliki banyak pengalaman, ia diajarkan oleh kakaknya untuk membuat beberapa bahan masakan yang tergolong cukup mudah untuk dibuat
Izanami mulai memakai celemek dan memotong beberapa kentang yang ada di depannya. Tentunya untuk makan malam hari ini, mereka berdua akan membuat kari ayam. Mereka berdua membagi pekerjaannya, jadi mereka berdua dapat menyiapkan makanannya lebih cepat
Walaupun beberapa potongan Izanami tidak terlalu rapi, Haru memaklumi hal itu karena tentunya Izanami belum berpengalaman dalam membuat masakan
Mereka berdua terlihat menikmati kebersamaan mereka. Canda dan tawa yang ada di antara mereka membuat suasana di rumahnya sedikit hidup, walaupun tanpa kehadiran kedua orangtuanya
Untungnya makanan dapat disiapkan dan dihidangkan tanpa kendala yang berarti. Soal rasanya, semuanya terasa enak. Mulai dari kuah, sampai dagingnya. Tapi ketika Izanami memakan sayuran yang ia buat, sayurnya masih terasa belum matang sepenuhnya dan rasanya masih terasa hambar di mulutnya. Bahkan Izanami sendiri pun merasa tidak ingin memakan sayur buatannya saking tidak enaknya
Merasa malu dengan buatannya yang benar-benar tidak enak dibandingkan dengan buatan kakaknya, ia merasa sayurnya hanya membuat kari nya menjadi tidak enak. Tapi melihat Haru, ia terlihat dengan lahap memakan semua makanan yang ada di piringnya termasuk sayuran yang ia buat
Haru bahkan menambah satu porsi lagi karena kejadian hari ini membuatnya benar-benar merasa lapar. Karena ia terlarut dalam pikirannya, Haru yang melihat itu lalu bertanya kepada Izanami. "Ada apa Izanami? Apa kau memikirkan sesuatu?"
"Ah! Ti-tidak apa-apa. Tapi sepertinya kau terlihat cukup lahap yaa. Apa memang makanannya seenak itu?"
"Aku tidak tahu kalau ini benar-benar enak atau tidak, soalnya selera orang berbeda-beda kan? Tapi kalau menurutku ini enak seperti biasanya kok. Memangnya kenapa?"
"Tidak, uhhh... Apa kau tidak merasa asing dengan sayurannya?"
"Sayurannya? Kenapa? Rasanya masih terasa sayuran kok"
"Bu-bukan itu. Padahal sayuran yang ku buat itu benar-benar belum matang sepenuhnya. Tapi kenapa kau masih memakannya begitu lahap?"
"Ah, soal sayur ini yaa. Kau tahu? Saat aku pertama kali memasak seperti mu, masakan ku jauh lebih buruk dari ini, bahkan makanannya sudah tidak berbentuk makanan lagi. Melihatnya saja mungkin akan membuat nafsu makan mu jadi hilang. Kalau dibandingkan denganmu, ini sudah jauh lebih enak dari buatan ku. Mungkin suatu saat nanti kau lebih pandai membuat masakan yang jauh lebih enak dari buatan ku"
Haru kemudian melanjutkan. "Yang ingin kukatakan adalah jangan lihat hasilnya, tapi lihatlah prosesnya. Menurutku kau benar-benar berbakat dalam memasak. Yang kau perlukan adalah hanyalah pengalaman! Aku yakin suatu saat kau pasti bisa membuat masakan yang hebat nantinya!"
Izanami tercengang mendengar apa yang barusan dilakukan kakaknya itu. Kata-kata yang bahkan ia belum pernah dengar dari ibunya. Awalnya Izanami merasa Haru akan kecewa dengan buatannya seperti respon ibunya. Tapi ternyata apa yang didengarnya benar-benar berbeda dari dugaannya. Karena hal itu, Izanami semakin bersemangat dalam belajar memasak nantinya
__ADS_1
Izanami lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju dimana Haru duduk. "Eh, ada apa Izanami?" Kata Haru
Tanpa mengatakan sepatah katapun, ia langsung memeluk kakaknya itu dengan erat. Ia duduk di pangkuan kakaknya dan membuat Haru semakin kewalahan dengan makanannya. "Hei, apa-apaan ini!? Setidaknya biarkan aku makan dulu baru kau melakukan hal seperti ini"
"Ma-makasih. Aku benar-benar menyukaimu onii -chan!" Kata Izanami sambil memeluk dadanya Haru dengan erat dan menyandarkan kepalanya di sana. Haru tidak bisa apa-apa selain membiarkan adiknya merasa bahagia di pangkuannya. Menurutnya kebahagiaan yang dirasakan adiknya itu adalah salah satu kebahagiaannya juga
Setelah makan, adiknya mengajak Haru untuk menuju ke kamarnya. Seperti yang diinginkan Haru, ia ingin meminta penjelasan mengenai apa yang sebenarnya Izanami inginkan darinya agar ia juga bisa membantu masalahnya
"Jadi apa yang yang membuat mu ingin berpacaran denganku? Tidak mungkin dengan pedenya kau menyatakan perasaan mu padaku di hadapan orang banyak" Tanya Haru yang duduk di lantai kamarnya Izanami
"Sebenarnya ceritanya agak panjang, tapi aku akan berusaha merangkumnya. Kau masih ingat saat aku memperkenalkan teman-teman ku kalau kau adalah kakakku bukan? Itu loh, saat di ruangan olahraga. Semenjak saat itu banyak teman-teman ku yang semakin penasaran"
"Ah, waktu itu. Iya, aku masih mengingatnya. Terus?"
"Sebenarnya jauh sebelum itu, lebih tepatnya saat aku mulai masuk di klub olahraga. Aku semakin diperhatikan dan dibicarakan oleh siswa lain"
"Untungnya teman-teman klub banyak yang melindungi ku. Misalnya, ketua klub ku. Walaupun orangnya tegas, tapi dia benar-benar mengusir para laki-laki jika ada yang mendekati anggotanya"
"Tapi walaupun begitu. Semenjak saat itu, aku menemukan banyak surat cinta di lokerku. Tentunya aku tidak memperdulikannya, tapi semakin lama aku semakin terganggu oleh hal itu. Tidak jarang aku merasa ada yang mengikuti ku dari belakang saat jam istirahat
"Apa kau sudah menanyakan hal ini kepada para guru? Wali kelas mu misalnya?"
"Aku tidak berani mengatakannya, karena aku tidak tahu siapa yang mengikuti ku. Jadi aku memutuskan untuk mengatakan hal ini kepada ketua klub ku. Dia bilang, ia akan membantuku untuk mencari siapa pelakunya. Tapi hal itu tidak membuat ku tenang sama sekali"
Izanami melanjutkan. "Kemudian aku memutuskan untuk membicarakan hal ini kepada teman dekatku. Yang kebetulan juga berada di klub yang sama. Karena tidak ada pilihan lain, ia menyarankan ku untuk kita berpacaran. Awalnya aku merasa aneh ketika mendengarnya, tapi menurutnya itu adalah jalan satu-satunya jika aku memang ingin mengambil jalan yang aman. Menurutnya, orang itu akan berhenti mengikuti ku jika ia tahu kalau aku sudah berpacaran dengan orang lain"
"Ah, jangan bilang karena itu kau langsung datang ke kelasku?"
"Y-ya. Begitulah, ta-tapi aku tidak memaksa mu untuk mengikuti apa yang ku inginkan. Aku hanya ingin meminta mu untuk terus bersamaku saat jam istirahat"
__ADS_1
"Sepertinya menjadi orang yang terkenal tidak selamanya baik yaa. Hmm, jadi yang kau maksudkan adalah kau menginginkan ku menjadi bodyguard kan? Baiklah, kau bisa datang ke kelasku kalau kau senggang"
"Eh, tapi itu hanya membuat teman-teman mu menjadi heboh akan kehadiran ku"
"Ah, aku lupa kalau kau benar-benar populer di kalangan ku. Kalau begitu, mungkin di perpustakaan sekolah. Atau mungkin kau mempunyai tempat yang lebih bagus?"
"Aku ingin keluar ruangan jika jam istirahat untuk mencari udara segar. Jadi pilihan untuk perpustakaan mungkin kurang cocok. Mungkin tidak ada pilihan lain selain di taman di belakang sekolah itu"
"Disitu? Apa tidak apa-apa? Mungkin kita bisa menemukan tempat yang lebih bagus"
"Mungkin ada, tapi pasti kita berdua akan menjadi pusat perhatian nantinya"
"Ahh... Kau benar. Kalau begitu, aku akan pikirkan nantinya. Baiklah karena sudah jam segini, aku kembali ke kamar ku yaa. Masih ada tugas yang ingin ku kerjakan," kata Haru sambil berdiri dan keluar dari kamar adiknya
Setengah jam semenjak Haru mengerjakan tugasnya, Izanami masuk ke kamarnya
"Izanami? Apa perlu apa datang ke sini"
"Anuu... Apa aku bisa tidur bersama mu malam ini?" Jawab Izanami sambil tersipu malu
"Eh!? Yaa, aku sendiri tidak mempermasalahkan nya. Tapi, berbeda dengan kamar mu yang ber-AC. Kamarku ini hanya ada kipas gantung, yang tentunya mungkin sedikit tidak nyaman jika kau tidur disini"
"Itu tidak masalah. Kalau begitu, aku membawa bantal ku yaa"
"Uhh... Baiklah, kalau begitu aku melanjutkan beberapa tugasku dulu. Silahkan saja kalau kau mau tidur duluan"
...
...
__ADS_1