
Bus akhirnya sampai di tujuan, dan Haru ketika bangun ia menyadari kalau mereka telah sampai. Di sampingnya, Mayumi juga sudah siap turun
Seperti yang dikatakan Haru sebelumnya, ia ingin menggendongnya hingga sampai ke rumahnya karena kakinya terkilir. Sebelum menggendongnya, Mayumi bertanya kepada Haru, "apa kau yakin?"
"Tentu saja. Aku adalah orang yang tegas dalam mengambil keputusan. Ayo naik di belakang punggung ku, jika kau masih bersikeras untuk berjalan, itu akan membuat kaki mu semakin parah nantinya"
"Ba-baiklah, tapi jangankan salahkan aku kalau aku terlalu berat"
"Tidak usah dipikirkan"
Sesuai permintaan Haru, ia kemudian naik di belakang punggungnya, dan Haru seketika berdiri ketika Mayumi sudah berada di posisi yang nyaman. Di tengah jalan, mereka berdua berbincang-bincang agar suasananya tidak canggung
"Sudah kukatakan kan, kalau aku ini berat"
"Haa, apa yang kau katakan? Buktinya aku masih bisa menggendong mu kan?"
"Tapi kau terlihat sedikit kewalahan"
"Haha, ini tidak ada apa-apanya"
Mayumi hanya tersenyum mendengar apa yang barusan Haru katakan. Entah itu Haru berbohong atau tidak, tapi itu bukanlah masalah bagi Mayumi. Ia hanya senang karena ia mau membantunya sejauh ini
Mayumi menyandarkan tubuhnya di belakang punggungnya Haru, memegang erat tubuh Haru, dan menutup matanya. Baginya ini merupakan momen langka yang baru dirasakan oleh Mayumi. Ia merasa kalau ia ingin terus seperti ini
Haru kemudian kembali bertanya kepada Mayumi. "Hei Mayumi, apa kau tertidur?"
"Mmmm?"
"Ah, tidak. Lupakan saja"
"Apa? Aku tidak tertidur tahu!"
"Baiklah baiklah. Ini soal Akihiro"
"Oh, anak itu? Memangnya kenapa?"
"Apa kau memang sering memarahinya?"
"Kenapa kau bilang seperti itu? Apa orang itu yang mengatakan padamu?"
"Yah, saat jam istirahat tadi. Aku tidak tahu bagaimana kau berbicara dengan Akihiro. Tapi melihat Akihiro yang mengeluh seperti itu, sebaiknya kau mengerti perasaannya"
Seketika Mayumi terdiam sejenak
"Hmm... Mengerti perasaannya kah"
"Eh? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah ya?"
"Tidak, kau tidak salah. Kau tahu, kami berdua itu sebenarnya berteman sejak kecil. Bisa dibilang kami berdua itu sudah saling mengenal satu sama lain"
"Eh? Yang benar?"
"Ya, bahkan sampai tahun lalu, aku dan Akihiro sangat dekat. Yaa, kau tahu? Seperti yang dilakukan orang-orang pada umumnya. Berangkat sekolah dan pulang bersama-sama, kadang kami mengobrol satu sama lain saat jam istirahat"
__ADS_1
"Jadi kau tidak segalak sekarang?"
Mayumi memasang wajah kesalnya. "Hei, apa maksudmu itu!"
"Haha, aku hanya bercanda!"
Mayumi kembali tersenyum lalu menjawab. "Yaa begitulah. Bisa dikatakan aku tidak se agresif sekarang"
"Jadi apa yang membuat mu seperti itu?"
"Kau pernah mendengar dari Akihiro kan kalau tahun lalu aku menolak banyak perasaan laki-laki lain"
"Yah, begitulah"
"Sejujurnya itu itu semua kulakukan untuk Akihiro"
"Tunggu... Apa?", Respon Haru dengan terkejut
"Ya, sebenarnya dulu aku menyukai Akihiro. Sampai-sampai aku harus menolak laki-laki lain yang menyatakan perasaannya padaku"
Sambil Haru menggendongnya, Mayumi melanjutkannya perkataannya. "Tapi karena aku yang telat mengatakan perasaan ku padanya, akhirnya dia jadian dengan orang lain. Kau tahu kan bagaimana rasa sakit yang kurasakan saat itu"
"Yah, aku tahu betul. Rasa sakit yang paling aku hindari dari semua rasa sakit yang ada"
Mayumi sadar dengan perasaan Haru, karena tentunya ia sudah mendengar mengenai masa lalunya. Perasaan yang setidaknya mereka berdua telah rasakan
"Tapi walaupun begitu, kalau aku jadi kau, aku mungkin tidak akan melakukan hal seperti ini," kata Haru
"Eh? Kenapa kau mengatakan hal itu?"
Mayumi terdiam sejenak dan mengatakan, "kenapa aku harus mengambil jalan itu?"
"Yah, ibuku pernah mengatakan kalau membenci seseorang itu ada batasnya. Karena kita tidak tahu kalau orang itu akan menjadi teman kita suatu saat nanti"
"Jadi kau tidak membenci siapa-siapa sampai sekarang?"
"Aku tidak bilang kalau aku tidak membenci seseorang. Aku pernah membenci seseorang, tapi tidak terlalu berlebihan"
Haru kemudian melanjutkan. "Yang sebenarnya ingin kukatakan adalah, mungkin baiknya kau memperbaiki hubungan mu dengan Akihiro, walaupun dia sudah melakukan hal yang yang menyakitkan padamu"
"Ya-yaa. Aku akan lakukan yang terbaik"
"Haha, jangan lemas begitu. Yaa aku terima kasih karena kau sudah mau curhat padaku"
"Yaa, jujur saja. Aku berani curhat padamu karena aku sudah tahu mengenai masa lalumu"
"Ah, soal aku yang diselingkuhi yaa. Yaa bisa dibilang itu salah satu pengalaman yang buruk"
"Tunggu, kau tidak marah?"
"Kenapa aku harus marah?"
"Yaa karena aku tau masa lalu mu tanpa bertanya padamu terlebih dahulu"
__ADS_1
"Tidak usah dianggap serius. Aku selalu menganggapnya sebagai pelajaran. Kau tahu, agar aku bisa lebih berhati-hati lagi dalam memilih pasangan"
"Memangnya gadis seperti apa idaman mu?"
"Gadis idaman ku? Aku tidak memiliki gadis idaman. Ada yang menyukai ku saja sudah lebih dari cukup"
Mendengar itu, Mayumi mengingat kembali lagi saat mereka berdua di perpustakaan...
"Aku menyukai Haru? Kenapa kau berani mengatakan itu?" Tanya Mayumi
"Tentu saja karena sudah terpampang jelas di wajah mu"
Misaki melanjutkan. "Tenanglah, aku tidak menyebarkan hal ini kepada orang lain. Apalagi kepada orangnya. Tapi ketahuilah, kalau kau memang menyukai Haru, ia masih berusaha untuk mengubah kepribadiannya"
"Apa maksudmu?" Tanya kembali Mayumi
Misaki mengambil smartphone nya, dan melihatkan salah satu fotonya. "Lihatlah," kata Misaki
"Apa ini?"
"Ini adalah salah satu catatan di bukunya. Kau lihat? Di catatannya berisikan tips bagaimana cara agar terlihat tidak kaku di hadapan orang lain. Bahkan dia menulis kata-kata untuk merespon orang lain"
"Kau benar," kata Mayumi
"Dia mungkin sering membantuku, tapi aku merasa bersalah karena tidak dapat membantu masalahnya. Aku hanya bisa berharap padamu untuk membuatnya mencapai apa yang dia inginkan"
(Mungkin seperti yang dikatakan Haru padaku sebelumnya. Ia berusaha memaafkan gadis yang menyelingkuhi nya, dengan cara berusaha dari nol untuk berbicara dengan gadis lain. Haru benar-benar memiliki mental yang kuat)
Tak terasa mereka sampai di rumahnya Mayumi. Haru hanya bisa terdiam melihat rumah sahabatnya itu yang begitu megah. Membuat dirinya merasa tidak enak jika ia terus berlama-lama disana
Untungnya ketika ibunya membukakan pintunya, ia dengan senang hati membiarkan mereka berdua masuk sebelum menanyakan apa yang sebenarnya terjadi
Haru membawanya ke ruang utama, dan menurunkan Mayumi di atas kursi sofa. Mengetahui kaki anaknya sedang terkilir, ia membawa kotak pertolongan pertama. Merasa tidak enak, Haru menawarkan dirinya untuk membantunya
Haru kemudian memasangkan perban elastis di sekitaran kakinya. Ibunya Mayumi begitu terkejut kalau cara pemasangan perban Haru begitu rapi. Ia terlihat seperti sudah biasa melakukannya
"Aku mohon maaf. Karena aku yang membuat kakinya Mayumi menjadi seperti ini"
"Haha, tidak usah sopan begitu. Lagian, Mayumi sudah terbiasa dengan luka ringan seperti itu. Oh iya, ngomong-ngomong apa kamu orang yang bernama Haru?"
"Eh, iya? Memangnya kenapa?"
"Ahh... Mayumi sering membicarakan mu saat makan malam. Aku menjadi sedikit penasaran tentangmu"
Apa yang dikatakan ibunya Mayumi membuat Mayumi sendiri menjadi kembali memerah. "I-ibu! Apa yang kau katakan sih!"
Haru dengan tenang mengatakan. "Haha, aku mungkin akan melakukan hal yang sama jika aku mendapatkan sahabat yang baru juga"
Tidak dapat menahan rasa malunya lagi. Mayumi beralasan untuk menuju ke kamar mandi. "Kalau begitu, biar ibu yang antar. Haru, silahkan duduk sebentar disini, kau pasti sangat kelelahan menggendong Mayumi pulang"
Tidak ingin mengecewakan ibunya Mayumi, terpaksa Haru harus tinggal sedikit lebih lama disana
...
__ADS_1
...