
Di dalam kereta yang akan membawanya ke kota tujuannya selama empat jam kedepan. Haru duduk dan kembali mengingat tentang kejadian mengenai mimpinya tersebut
Di dalam mimpinya, ia yang berada di masa depan merasa menangis dan mengungkapkan penyesalannya karena tidak memiliki skill apa-apa yang digunakan untuk memasuki dunia kerja. Mimpi yang menurutnya sangat nyata itu membuatnya kembali khawatir kepada dirinya sendiri
(Apakah hal itu adalah diriku yang berada di masa depan untuk mulai produktif mulai dari sekarang?) Pikir Haru
"Ah, mana mungkin. Jika diriku yang berada di masa depan berusaha untuk berkomunikasi denganku, aku yang di masa depan akan melakukan hal yang jauh lebih efektif daripada harus muncul di dalam mimpi ku sendiri"
"Walaupun begitu, aku akan selalu mengingat mimpi itu. Mungkin itu adalah rasa cemasku karena merasa khawatir akhir-akhir ini"
Karena masih kurang tidur, Haru pada akhirnya tertidur di atas kereta sambil berusaha melupakannya kekhawatirannya tersebut
Pada akhirnya setelah perjalanan yang jauh itu, Haru tiba di kota tujuannya. Kota yang menurutnya lebih ramai dari tempat ia tinggal sebelumnya. Orang-orang disini memiliki jam kerja yang sibuk, hal itu bisa dilihat dengan orang-orang yang lalu lalang di penyebrangan jalan ketika lampu merah menyala
Tentunya di kota baru itu, Haru harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Tapi untuk sekarang Haru memilih untuk jalan-jalan sebentar sebelum menuju rumahnya. Pilihan pertamanya adalah mall yang ada di pusat kota, walaupun hal itu ia harus naik bus sekitar sepuluh menit dari stasiun kereta
Di depan mall, jam sudah menunjukkan pukul dua lewat empat puluh dua menit. Haru masuk dan sekali lagi Haru merasa takjub dengan besarnya mall yang ia masuki. Karena tentunya di kota Haru tinggal, ia belum pernah memasuki tempat seperti ini
Di sana, ia singgah sebentar untuk memesan makanan cepat saji untuk mengisi perut kosongnya itu. Sembari menunggu pesannya, Haru menelpon ayahnya dan mengabarkan kalau dia ingin jalan-jalan sebentar sebelum ke rumah barunya
Tentunya ayahnya memperbolehkan hal tersebut, dan Haru juga sudah tahu akan hal itu. Jadi setidaknya ia tidak terlalu merasa khawatir. Selesai dengan makannya, Haru kembali berjalan-jalan di tempat yang sama, dan menyadari bahwa mall tersebut lebih besar dari yang terlihat di luar
Naik ke lantai dua, Haru menemukan game center. Yang bersikan mesin arcade yang dimainkan memakai koin khusus. Karena Haru suka bermain game, jadi ia memilih untuk sedikit menghabiskan uangnya disana
Ketika sedang bermain game, Haru melihat sekelilingnya yang bermain bersama teman-temannya, keluarga, atau bahkan pasangannya. Mungkin di tempat itu, hanya Haru yang bermain tanpa ditemani oleh siapapun
Bahkan saat Haru makan di tempat restoran cepat saji, hanya Haru juga seorang yang makan sendiri di meja yang dapat muat untuk empat orang. Tentunya hal itu membuat Haru sedikit kasihan kepada dirinya sendiri, merasa kesepian walaupun sekarang ia berada di tempat keramaian
(huff... Sepertinya aku harus keluar dari tempat ini daripada aku harus terus-terusan seperti ini)
__ADS_1
Puas mengunjungi mall di pusat kota, jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Hari mulai semakin gelap. Tapi sebelum memutuskan untuk pulang, Haru singgah ke sekolah yang akan ia datangi besok dengan melihat map yang ada di jam pintarnya. Haru melihat sekolahnya yang cukup megah untuk seukuran sekolah SMA, dan Haru merasa beruntung bisa bersekolah di sana. Sayangnya ia tidak bisa masuk lebih dalam karena gerbang sekolah terkunci dengan gembok. Jadi mau tidak mau, ia hanya bisa melihatnya dari sana
Sesampainya di rumah barunya, ia begitu terkejut melihat rumahnya yang ternyata memiliki dua tingkat, dan jauh lebih modern daripada rumah sebelumnya
"Ya ampun, apa benar ini rumah ku?", Kata Haru yang masih tercengang melihat rumahnya. Haru melihat lokasi yang dikirimkan oleh ayahnya itu. Dan benar saja, Haru sudah berada di titik yang ditunjukkan di peta
"Aku tidak percaya kalau ayah dapat membeli rumah semegah ini"
Masuk ke dalam. Haru menemukan ayahnya yang menaruh beberapa barang di ruang utama. Walaupun masih ada beberapa kardus yang tersisa
"Ah, Haru! Akhirnya kau datang juga", kata ayahnya
"Ah.. eh.. maaf ayah, sepertinya aku terlalu lama jalan-jalannya"
"Tidak, tidak. Santai saja nak, aku tahu kalau kau ingin berjalan-jalan karena kau pasti belum melihat kota sebesar kota ini. Oh iya, kamarmu ada di lantai atas. Aku sudah menaruh karpet untuk sementara kau gunakan untuk malam ini, kenapa tidak sekalian kau lihat-lihat nak?"
Di kamarnya, Haru kembali tercengang melihat suasana kamarnya sangat berbeda dari sebelumnya. Di samping tempat tidurnya ada jendela geser yang cukup besar, dan lemarinya sudah ada di kamarnya
Turun dari sana, Haru kemudian bertanya kepada ayahnya. "Ayah, apa kau yang mengangkat lemari bajuku?". Ayahnya hanya menjawab dengan santai, "yah, yah. Tapi jangan terlalu dipikirkan, soalnya orang tadi juga membantuku untuk mengangkat barang-barang yang berat ini, jadi tenang saja"
"Ah, ehh... Baiklah kalau begitu, aku mau menyiapkan baju sekolah yang akan ku pakai besok"
"Jangan terlalu terburu-buru dulu, bagaimana kalau kau membuat makan malam. Soalnya ibu baru kamu akan datang malam ini"
"Yang benar? Aku baru tahu kalau dia akan datang secepat itu. Tapi tunggu dulu, bagaimana dengan bahan-bahannya? Aku bahkan belum membeli satupun bahan masakan hari ini"
"Tenang saja, aku sudah menyiapkan beberapa. Karena kau menyukai kari, aku membelikan mu bahan-bahan itu. Semuanya sudah ada di dapur"
"Baguslah, jadi kali ini aku membuat tiga piring kan?"
__ADS_1
"Tiga? Bagaimana dengan anaknya?"
"Tunggu, dia juga sudah mempunyai anak?"
"Tentu saja, apa kau pikir ayahmu menikahi perempuan yang masih perawan gitu?"
"Ah bukan, maksudku... Ah, lupakan ayah"
(Pantas saja, di lantai atas ada dua kamar. Setidaknya rasa penasaran ku terjawab sudah)
Haru kemudian menuju ke dapur dengan perasaan belum percaya dengan apa yang dikatakan ayahnya. Hal itu membuatnya sedikit ragu, apakah dia bisa akur dengan saudaranya seperti dulu. Tapi untuk saat ini, Haru ingin fokus untuk memasak. Setidaknya untuk tidak mengecewakan ibu barunya itu
Makanan hampir selesai, tapi suara bel pintu sudah terdengar. Tentunya hal itu membuatnya ingin terburu-buru, tapi disisi lain Haru tidak ingin membuat salah langkah yang hanya membuat makanan ini menjadi tidak enak
"Ah sayang, akhirnya kau datang juga. Ayo masuk sini, Haru sedang mempersiapkan makanannya. Kalian pasti sedang lapar karena perjalanan jauh"
(Ah, sial. Kenapa sih tubuhku tiba-tiba gugup seperti ini! Padahal sebelumnya aku tidak pernah seperti ini dengan orang asing). Haru kemudian dengan cepat memindahkan semua piring ke meja makan
Sementara itu, ibu barunya itu menggantung jaketnya di kursi di ruang utama untuk sementara. Karena seperti yang di katakan ayahnya, mereka berdua memang sudah mulai lapar
Saat Haru dan ibu barunya itu bertemu, ayahnya memperkenalkan mereka berdua. Sayang, ini dia anakku. Namanya Nakagawa Haru. Haru ini dia ibu barumu dan di sampingnya, seperti yang ku katakan sebelumnya, dia adalah anaknya yang sekaligus merupakan adikmu
"Ha... Halo tant- eh, maksudku ibu", jawab Haru yang kali ini benar-benar gugup. Haru kemudian semakin gugup ketika ibu barunya itu tertawa melihat responnya Haru
"Haha, barusan kau memanggilku tante yaa? Jangan malu begitu, lagian kita baru pertama kalinya bertemu kan? Oh, iya sekalian aku perkenalkan juga anakku. Namanya adalah Izanami. Yah, Nakagawa Izanami
Haru berusaha berkenalan dengannya dengan mengatakan, "salam berkenalan denganmu Izanami". Tapi sayangnya dengan wajah datarnya itu, ka hanya menjawabnya dengan, "ya"
(Aww... Dengan responnya itu, aku menjadi semakin ragu dengan hubungan kami nantinya)
__ADS_1