
Tak lama kemudian, Haru akhirnya selesai mengerjakan beberapa tugasnya. Walaupun Haru sendiri tidak yakin dengan jawabannya, tapi menyelesaikannya saja itu sudah lebih dari cukup
Waktu menunjukkan jam 11 malam. Untungnya besok adalah hari libur, jadi Haru memilih untuk begadang sambil membaca novel 'ReWorld' yang ada di websitenya. Sambil membaca beberapa chapter, adiknya Izanami yang sudah berbaring di kasurnya kemudian bertanya padanya
"Kau suka baca novel juga yaa?"
"Ini? Tidak, aku hanya tertarik dengan ceritanya. Itu saja"
"Berarti kau mempunyai imajinasi yang luas. Bayangkan saja, tanpa ada ilustrasi satupun kau masih bisa menikmati ceritanya. Kalau aku, mungkin sudah ngantuk duluan," kata Izanami yang berdiri dari tidurnya
"Yaa, sebenarnya aku juga begitu. Yaah, kalau kau tertarik mungkin lain lagi ceritanya"
"Oh, begitu ya"
"Ngomong-ngomong, kau benar-benar tidur disini? Aku kira awalnya kau hanya bercanda saja," tanya kembali Haru pada adiknya
"Be-begitulah. Memangnya aku mengganggu jam tidur mu yaa?"
"Yaa, tidak juga sih. Tapi bagaimana kalau orang tua kita melihat kita tidur di kamar yang sama seperti sekarang? Kau tahu kan kalau dia akan kembali besok?"
"Makanya sekali-kali aku ingin tidur disini, mumpung orang tua kita belum datang"
"Uhh... Baiklah kalau kau yang bilang," kata Haru sambil berbaring di atas kasurnya
Haru kemudian bertanya kembali pada adiknya dengan nada candanya. "Apa kau bisa tidur di tempat ini? Kamar ini benar-benar panas bukan? Hehe"
"Tidak apa-apa. Memang tidak sedingin kamar ku, tapi aku hanya butuh sedikit penyesuaian dengan kamar mu. Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak memasang AC seperti di kamar ku? Bukannya ibu sudah menanyakannya padamu soal ini?"
"Ibu memang sudah mengatakan hal ini sebelumnya, tapi entah kenapa aku kurang cocok jika memasang AC di kamar ini. Mungkin aku sudah terbiasa menggunakan kipas gantung seperti ini"
"Terbiasa? Jadi kau selalu seperti ini sebelumnya?"
"Yah, bahkan mungkin sudah lama aku tidur di atas kasur empuk seperti ini. Sebelumnya, aku hanya tidur di karpet atau futon milik ayahku"
Izanami hanya tercengang mendengar fakta bahwa Haru dulu adalah orang yang sederhana. Ia menyadari kenapa ia terlihat sangat sederhana baik di rumah atau di sekolahnya. Izanami yakin kalau masa lalu kakaknya jauh lebih sulit daripada dirinya
__ADS_1
"Kau benar-benar hebat yaa oniichan," kata Izanami yang memuji kakaknya
"Hebat? Hebat kenapa?"
"Kalau aku jadi kau, mungkin aku sudah mengeluh pada ayah. Kau tahu? Hubunganku dengan ibu itu tidak sedekat kau dengan ayah. Kami jarang berbicara satu sama lain. Kami hanya berbicara jika kami ada keperluan, selebihnya itu mungkin tidak berbicara lagi"
"Kenapa bisa? Apa kau membuat sesuatu yang salah?"
"Tidak. Kami berdua tidak memiliki masalah apapun. Aku rasa, kami berdua jarang berbicara itu karena ibuku terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga ia melupakan anaknya. Makanya, saat ibuku mengatakan kalau aku akan bertemu dengan saudara baru, aku senangnya bukan main. Sampai-sampai aku menghitung kapan ibu akan menikah"
"Tapi kalau kau senang seperti apa yang kau katakan barusan. Kenapa saat kita bertemu untuk pertama kalinya, kau tidak terlihat senang sama sekali?"
"Awalnya aku kira saudara yang dimaksud ibuku adalah perempuan. Dan setelah melihatmu yang ternyata adalah laki-laki. Aku merasa perasaanku dibohongi oleh ibuku sendiri. Tapi aku tidak menyalahkannya, karena itu salah ku juga karena aku tidak menanyakannya lebih dahulu"
"Bagaimanapun, ibu tetaplah menjadi ibu. Walaupun di depan mu ia seperti tidak peduli denganmu. Tapi kenyataannya ia banyak tahu tentang mu kalau aku bertanya padanya"
"Kau benar. Tapi kau tahu apa yang lebih yang lebih membuatku bahagia dari keluarga baru kita?"
"Apa itu?"
"Bisa berpacaran denganmu. Hehe"
"Aku tidak berpikir kalau kau orang yang mesum. Soalnya kalau memang seperti apa yang kau katakan barusan, harusnya kau sudah membuka bajumu karena itu sudah kebiasaan mu bukan? Tapi kau menghargai ku dengan tidak membuka bajumu"
"Ah, kau sadar juga ya? Tapi aku kira awalnya kau berpacaran denganku karena saran dari teman mu"
"So-soal itu..." Izanami terdiam sejenak
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku tidak menganggapnya sebagai masalah juga kok. Kalau begitu, ayo tidur. Aku tidak ingin melihatmu tidur larut malam seperti ku. Karena itu adalah salah satu kebiasaan buruk ku"
Izanami kemudian bertanya kembali pada kakaknya. "Kalau begitu, apa kau juga menyukaiku?"
"Ah, soal itu tidak usah kau tanyakan lagi. Siapa juga laki-laki yang ingin menolak gadis imut sepertimu. Tapi walaupun begitu, aku sarankan lebih baik kau berpacaran dengan lelaki lain selain diriku ini. Maksudku, pasti ada laki-laki yang membuatmu tertarik di kelas mu bukan? Menurutku itu jauh lebih baik daripada aku"
"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Walaupun aku memang cukup populer, tapi aku benar-benar tidak menyukai siapa-siapa kok!"
__ADS_1
"Aku sudah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Dan aku tidak ingin merasakan hal itu sekali lagi. Jujur saja padaku kalau kau benar-benar menyukai laki-laki lain. Sebagai kakakmu, aku akan berusaha sebisaku untuk membuatmu pacaran dengannya," jawab Haru yang suaranya semakin lama semakin pelan
"Tapi aku benar-benar tidak menyukai siapa-siapa untuk saat ini. Aku harus berbuat apa agar bisa membuatmu percaya padaku!?"
Tidak ada respon, Izanami membalikkan wajahnya Haru yang sudah tertidur. "Oniichan, kau benar-benar tertidur?" Tanya adiknya
Izanami mencoba menggelitik nya agar memastikan kalau kakaknya itu benar-benar tertidur. Masih tidak ada respon, Izanami baru percaya kalau kakaknya itu sudah benar-benar tertidur
(Lah, dia benar-benar tertidur yaa? Muehehe)
Karena kakaknya itu sudah tertidur. Ia akhirnya bisa bebas melakukan apa saja terhadapnya. Sebagai permulaan, Izanami memegang salah satu tangannya dan merasakan kulit kasarnya
"Tangan laki-laki memang se kasar ini yaa?" Kata Izanami kepada dirinya sendiri
Sambil memegang tangan kakaknya, ia kemudian ikut berbaring dan melihat ke langit-langit kamar dan memikirkan apa yang barusan kakaknya katakan kepadanya. "Bagaimana caranya agar dia bisa mempercayai ku yaa," kata Izanami
"Tunggu dulu, mumpung dia lagi tidur. Mungkin aku bisa melakukan beberapa hal padanya!"
Selanjutnya, ia mengambil kamera hp nya dan Izanami memfoto dirinya dan kakaknya yang tertidur dan mengirimkan fotonya itu kepada beberapa temannya
Merasa belum puas, ia kemudian menatap wajahnya kakaknya itu dari dekat. Karena hal itu juga, jantungnya semakin berdetak kencang melihat wajah kakaknya
(Sudah kuduga, aku benar-benar mencintai kakakku sendiri. Ahh, oniichan... Maafkan aku karena membuat mu kerepotan selama ini)
Merasa tidak tahan melihat kakaknya yang tidak berdaya di depan wajahnya. Izanami mencium beberapa bagian lehernya dengan mulutnya, merasakan setiap kulit yang bersentuhan dengan bibirnya sambil mencium aroma kakaknya yang sedikit berkeringat di larut malam
Ciumannya sangat kuat, sehingga Izanami tidak menyadari kalau tindakannya itu membuat bekas kecupan di lehernya kakaknya. Bukannya panik, Izanami akan mengatakan itu sebagai bukti cintanya pada kakaknya
Selain kakaknya yang berkeringat, Izanami juga sebenarnya sudah cukup kepanasan dari tadi. Hanya saja, ia tidak mungkin mengatakannya langsung di hadapan kakaknya. Tapi karena kakaknya sudah tertidur, ia memberanikan dirinya untuk membuka bajunya dan tertidur dengan pakaian dalamnya
Keesokan harinya, Haru terbangun di pagi buta. Menyadari adiknya yang tertidur dengan pakaian dalam. Ia hanya menghalangi pandangannya dan buru-buru keluar kamarnya
"Dasar Izanami! Apa yang dia pikirkan sih!? Apa jangan-jangan dia kepanasan semalam?"
Menuju ke kamar mandinya untuk mencuci wajahnya. Sekali lagi, ia merasa terkejut dengan memar yang ada di lehernya. Tentu saja itu adalah bekas kecupan dari adiknya. Tapi karena Haru tidak tahu, ia menganggap itu sebagai luka dalam, walaupun ia tidak merasakan sakit sama sekali
__ADS_1
...
...