Masa Sekolah Yang Indah

Masa Sekolah Yang Indah
Baru Menyadari Jika Satu Kelas Dengannya


__ADS_3

Tanpa kedua pemuda tampan sadari sosok Selen sudah di pintu kelas mereka namun belum masuk. Selen didaftarkan oleh orang tuanya ke kelas ekslusif yaitu kelas khusus olimpiade namun Selen tidak mau hingga akhirnya berakhir satu kelas dengan Anthony dan Stanlaus. Dia membuka pintu tersebut setelah memastikan benar atau tidaknya kelas yang akan dirinya masukkan. Gadis cantik yang memiliki tubuh ramping namun tidak ada yang mengetahui jika tubuhnya sangat indah dan berambut panjang dengan wajah yang oval sehingga lebih dikenal dengan sebutan wajah baby face dan juga memiliki tinggi yang mungil untuk seukuran anak SMA tersebut berjalan menuju bangku paling belakang. Dia berjalan dengan santai tanpa menimbulkan suara dan membuat Anthony dan Stanlaus tidak menyadari jika ada orang lain sudah berada di kelas mereka yang masih terbilang sepi karena murid-murid belum ke kelas masing-masing.


Sementara Selen dengan santai mengambil headset dan membuka handphone-nya untuk mem-bluetooth dengan headset bluetooth miliknya dan memasang bluetooth keduanya langsung Selen menyalakan lagu kesukaannya dan mendengarkannya. Ketika dia sudah dalam kesenanganya sendiri dia membuka tasnya yang belum dia tutup dan mengambil beberapa buku dari dalam tasnya lalu mengeluarkannya untuk ditaruh di mejanya. Setelah mejanya sudah ada dua buku dan tepak pensilnya dia membuka dan mencoba mengerjakan beberapa soal olimpiade yang dia beli di toko buku beberapa lalu sebelum dia masuk ke menengah atas. Sementara kedua pemuda tampan yang masih mengobrol dan belum mengetahui kedatangan gadis yang berwajah mungil namun tetap manis dan cantik. 


“Masak sih? Gue belum bisa percaya kalau loe belum suka dengan cewek, Stan,” ungkap Anthony dengan nada tidak percayanya.


Staunlaus menggeleng kepalanya dengan cepat dan bersuara sebelum Anthony membuka kembali suaranya. ”Ya serius, malah dua rius. Gue juga merasa pacaran merepotkan,” ungkapnya dengan nada serius. Yang di mana perkatannya membuat sohibnya tidak setuju dengan pernyataan dirinya.


“Merepotkan dimananya sih? Bukannya pacaran itu untuk bersenang-senang ya?” tanya Anthony dengan nada yang berusaha menggoda Staunlaus. “Coba saja kau bayangkan punya pacar cewek yang rupanya bunga sekolah dan tidak tahunya dia imut sekali,” ungkapnya lagi. “Pasti sangat seru dan bikin mood baster tahu.” 


“Ya itu bisa juga sih tetapi coba kau bayangkan dapat cewek yang matre yang tiap hari melulu ke mal terus minta loe yang bayar. Lalu kalau cewek loe ngambek nah ini yang bikin sengsara, bro, itu ngambeknya bisa berminggu-minggu,” ucap Staunlaus menjelaskan kemungkinan sisi pacaran yang Anthony mungkin belum mengetahuinya. Anthony yang mendengarkan lantas berpikir sebentar. “Mungkin benar juga ya pendapat Staunlaus. Males juga ladeni cewek yang sedang ngambek apalagi pas masa PMS,” batinnya dalam pikirannya.


Sementara Selen yang sibuk mengerjakan beberapa soal olimpiade yang menurutnya mudah sempat terganggu beberapa kali namun dia biarkan karena kemarahannya belum naik dan dia juga masih bersabar karena lagu kesayangannya juga ikut menemaninya. “Ini para cowok kalau mau ramai jangan di kelas dong. Di luar saja belum waktunya masuk,” batinnya sambil mencoba menggunakan rumus yang lain ketika belum menemukan solusinya. 

__ADS_1


”Ya tetapi kan bisa kenalan dahulu dan kalau cocok bisa pacaran, “ debat Anthony kembali setelah terdiam beberapa lama. Membuat Staunlaus hanya bisa mendelikkan bahunya tanda sudah menyerah. “Ya terserah kamu saja sih,” ungkapnya. Sementara itu mereka kembali berdiaman-diaman karena masin-masing dalam pikiran masing-masing. “Aku tidak tahu apakah aku bisa bertemu denganmu, hai gadis misterius,” batin Anthony sambil menutup matanya pasrah. 


Begitu juga Staunlaus hanya bisa menatap depan dengan tatapan kosong. “Aku sudah tidak bertemu denganmu sejak kau pindah rumah dan sekolah pada kita mau menginjak kaki ke jenjang menengah pertama, Na,” batinnya mengingat gadis yang berhasil menarik perhatiannya yang merupakan tetangga sebelahnya pada saat itu. Sejak saat itu mereka bersama-sama dan Staunlaus makin jatuh hati kepada gadis yang dia panggil Nana tersebut. “Kau cinta pertamaku, Na,” batinnya kembali.


Sementara Selen yang merasa suara-suara gaduh sudah berhenti dan mengadahkan kepalanya betapa terkejutnya dia karena baru menyadari dua langkah di depannya terdapat cowok yang bertubuh tinggi yang hampir menutupi pandangannya namun setelah diperhatikan sosok punggung itu membuat Selen berpikir apakah dia mengenalnya. ”Punggungnya tinggi amat, aku mana bisa keliatan. Wait, tetapi punggung itu kok keliatannya seperti familier ya,” batinnya sambil menatap sosok punggung yang tinggi dan keliatan lebar. Selen terlihat bingung apakah dia memutuskan untuk pindah atau tidak.


“Apa aku harus pindah sekarang saja, ya? Takutnya nanti gak sempat. Apa nanti saja ya? Ahhh…aku bingung,” batinnya. Hingga akhirnya Selen memutuskan untuk pindah ke depan Staunlaus yang di depan Staunlaus masih tersisa dua bangku yang kosong membuatnya segera mengemaskan barang-barangnya dan melangkah ke depan ketika dirinya melihat kursi pemuda yang menutupi jalanya dan meminta pemuda bisa mengembalikan kursinya sebentar karena dia mau lewat.


Betapa terkejutnya dua pemuda tersebut dan saling menatap satu sama lain karena mendengar suara gadis yang terdengar kecil namun lembut dan manis. Mereka pikir gadis tersebut salah masuk kelas. Anthony yang masih belum menggeserkan kursinya segera berdiri begitu mendengar suara manis yang terdengar lembut dan mungil. 


Betapa terkejutnya ketika dia membalikkan badannya untuk mengangkat kursinya. “Dia? Sungguh itu dia dan berarti aku satu les dengan dia dong? ” batinnya sambil menatap wajah gadis yang terlihat sangat manis dan lucu di depan matanya. Anthony sempat mematung beberapa saat membuat Staunlaus dan Selen bingung atas sikap Anthony yang menurutnya aneh.


” Halo, apakah kakak tidak apa-apa?“ tanya Selen dengan nada sedikit khawatir sambil melambaikan tangannya ke tatapan Anthony yang di mana sementara itu, Staunlaus hendak membantu sohibnya namun terlambat karena Anthony sudah sadar dan sedikit malu karena sikapnya yang tiba-tiba bengong. “Tidak apa-apa kok dan maafkan tadi sempat membuatmu khawatir,” ungkapnya dan menggeret kursinya untuk membiarkan Selen melewati. “Terima kasih ya,” ungkap Selen dan berjalan maju menuju bangku depannya Staunlaus persis. 

__ADS_1


Sehingga saat ini bangku Selen membelakanggi bangku Staunlaus. Tanpa melihat wajah Staunlaus, Selen meminta izin untuk duduk di depannya. “ Permisi, apakah depan kakak kosong?” tanyanya dengan lembut namun tidak bertatapan karena Selen berpikir kakak di depannya pasti berwajah yang menyeramkan dan suka membully adik-adik kelas. Begitu juga Staunlaus dan Anthony terkejut mendengar jika dirinya dipanggil kakak. 


Mereka berdua terdiam dalam pikiran mereka masing-masing. “Kakak? Memang benar dia tersesat ke kelasnya,” batin Staunlaus ketika dia mendengar gadis kecil didepannya memanggil dirinya kakak. Berbeda dengan Staunlaus yang menerima dirinya dipanggil kakak tidak bagi Anthonya. 


Dirinya sangat tidak terima jika dia dipanggil kakak oleh gadis incarannya itu. “ Kakak? Dia pikir aku keliatan tua begitu? Padahal kita seumuran tetapidia menganggapku kakak,” batinnya tidak terima ketika dia dipanggil kakak oleh gadis yang bertubuh kecil dan berwajah baby face.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wah bagaimana reaksi Anthony dan Staunlaus ketika mereka dipanggil kakak oleh Selen? Apa yang akan dikatakan oleh keduanya ya?


Jangan lupa terus dukung Author dengan cara like setiap episode, beri bintang 5, vote, gif, share, subscribe dan comment-nya ya. Author tunggu dukungan kalian karena sangat penting dalam kenaikan level Author. Jangan lupa dengan kesehatan mina-san.


Sangkyuu.

__ADS_1


__ADS_2