
Sementara Bu Laras kembali menjelaskan rumus berikutnya di slide selanjutnya dan disimak dengan serius oleh murid-murid. Bu Laras menjelaskan satu materi pada bab pertama hingga pukul 19.00 yang tepatnya jam 7 malam. Pada saat jam yang di dinding kelas yang di belakang murid-murid sudah menunjukkan pukul 7 tepat, Bu Laras mengakhiri kelasnya dengan memberikan latihan soal yang akan dibahas di pertemuan mereka selanjutnya.
“Anak-anak sebelum kalian beres-beres untuk pulang dan Ibu memberikan kalian latian soal. Kalian bisa menulis di buku tulis atau difoto lalu kirim ke grupkelas kalian,” ucap Bu Laras sebari memencet tombol selanjutnya untuk menampilkan slide latihan soal pada layar proyektor yang membuat murid-murid yang melihat latihan soal yang terdiri lima soal dengan berbagai urai-uraian soal hingga kalau dihitung mencapai lima belas soal langsung lemas.
Mereka yang malas untuk menulis langsung mengambil telepon genggam mereka termasuk Selen untuk langsung foto dari layar yang menampilkan slide latihan soal yang bercabang. Setelah Selen dan yang lain sudah mendapatkan latihan soalnya ada beberapa yang berkemas. Sementara yang masih mencatat mereka tetap melanjutkan mencatat soal tersebut. Pada saat bersamaan Staunlaus yang hendak mengambil foto diajak bicara oleh Selen.
“Stan, aku udah ambil fotonya jadi aku minta nomormu biar aku kirim gambarnya,” ucap Selen yang membuka pembicaraan keduannya. Staunlaus yang mendengarkan langsung dengan gembira dan banyak bicara meminta telepon genggam milik Selen. “Na, mana handphonemu biar aku simpan nomorku,” ucap Staunlaus sambil mengadahkan tangannya sebagai tanda dirinya meminta handphone milik gadis tersebut. Sementara Selen yang mendengar langsung saja terkaget dan menatap Staunlaus dengan wajah imut dan menggemaskan dengan mimik terkerjutnya.
“Bagaimana bisa dia mengetahui jika nama kecilku adalah Nana? Apakah dia Sie?” batin Selen yang bertanya-tanya bagaimana Staunlaus bisa memanggil dirinya adalah Nana.
“Sepertinya dia terkejut bagaimana aku mengetahuinya dan itu menggemaskan sekali,” batin Staunlaus ketika melihat muka Nana dan mimiknya sangat menggemaskan menurutnya. “Bagaimana kau mengetahuinya? Apakah kau Sie?” tanya Selen dengan nada yang menuntut jawaban dari Staunlaus dan bukannya menjawab namun Staunlaus langsung mengambil handphone milik gadis kecilnya membuat Selen dengan kesal memasang muka ditekuknya.
“Stan, kembalikan handphone milikku,” ucap Selen sambil merebut dari tangan Staunlaus. Bukannya diberi namun diangkat tinggi-tinggi oleh Staunlaus yang mengetahui jika tinggi gadis imutnya tidak sepadan dengan tinggi badannya membuat Selen harus berjinjit mengambil handphone miliknya yang sudah dibawa tinggi-tinggi oleh Staunlaus.
“Stan, kembalikan tidak. Kamu jahat sekali karena kamu sudah tahu aku tidak tinggi. Ishh... Grrr...” nada marah yang menggemaskan dengan geraman ciri khas Selen yang terdengar menyenangkan di telinga Staunlaus. Selen masih berusaha untuk mengambil handphone miliknya karena dia takut ketahuan jika dirinya sudah memfoto secara diam-diam.
Sementara jari lentik Staunlaus dengan cepat mengetikkan nomor handphone miliknya dan memberi nama ‘Sayangku’ dan segera meng-savenya di kontak Selen dan mengembalikan kepada sang pemiliknya.
“Nih aku kembalikan kepadamu, Na,” ucap Staunlaus menyerahkan handphone yang bercasing imut pororo yang merupakan kartun kesukaan Selen yang sudah dihafal di luar kepala Staunlaus. “Ishh… kau jahat sekali,” ucap Selen mengambil handphone miliknya.
__ADS_1
Selen segera mengecek kontaknya untuk mengetahui nama apa yang disimpan oleh Staunlaus di kontak milikknya. Semoga saja dia menyimpan dengan nama Sie.
Dengan penuh harapan dia membuka dan mencarinya karena tidak tahu dia bertanya kepada pemilik nomor yang sudah menyimpannya di handphone miliknya.
“Kau, nomormu berapa?” tanyanya dengan nada masih cemberut karena mengambek setelah dikerjai oleh Staunlaus yang membuat Staunlaus yang tertawa karena muka Selen yang sangat menggemaskan menjawab di sisa tertawanya,
“Nomorku 081-220-110-331.” Selen yang mencoba mencari nomor tersebut di daftar panggilan bertapa terkejutnya mengetahui nama yang di-save oleh Staunlaus di kontaknya dengan suara kencang yang menggemaskan dia menumpahkan kemarahannya kepada Staunlaus dengan memukul tangan yang cukup kekar tersebut.
“Ahhhh…. Stan, mengapa kau menyimpannya dengan nama aneh-aneh sih. Aku mau menggantinya.” Sontak Staunlaus langsung menanggkap tangan mungil tersebut dan menjawab dengan senyumannya yang tidak diketahui oleh Selen, “Tidak boleh diganti! Kamu ganti maka aku cium.”
“Ahhh… kamu jahat…. kita kan bukan sepasang kekasih mengapa nama nomormu harus di-save dengan kata ‘sayangku’ sih,” omel Selen tidak terima.
“Apakah kamu sudah mengirimkannya?” tanya Staunlaus yang terkesan mengganti topik pertanyaan dari Selen. Mengapa dia terus berusaha mengganti topik? Langsung saja tidak jika dia bukan dia dan jangan buat aku berharap kalau kamu Sie.
Selen menatap Staunlaus dan menghela nafasnya sebelum dia menjawab. “Belum aku belum mengirimkannya,” ucap Selen menatap Staunlaus dengan mimik muka sedikit galak. “Aduh Selen jangan galak-galak dong nanti cantik dan imutnya hilang,” ucap Anthony yang datang tiba-tiba ke arah Staunlaus dan Selen yang berdebat selayak kekasih yang membuat Anthony tidak tahan dan mendatangi sahabatnya dan gadis yang dia incar.
Sementara Bu Laras menyuruh untuk murid-muridnya pulang. “Jika kalian sudah selesai mengambil foto silakan kalian bisa berkemas lalu kalian bisa pulang bagi yang sudah dijemput dan jika belum bisa menunggu di dalam lobby,” ucap Bu Laras menyuruh murid-muridnya untuk keluar sementara dirinya sudah mengambil tasnya dan keluar dari kelas.
Setelah Bu Laras keluar dari kelas 3D langsung saja murid-murid langsung saja ramai dan belum keluar dari kelas mereka. Mereka bercakap-cakap di dalam kelas untuk membuat grup kelas. Begitu juga Staunlaus dan Selen melihat Bu Laras keluar langsung saja melanjutkan pertikaian mereka.
__ADS_1
“Ish… kau ini bikin aku males liat kamu,” ucap Selen yang masih betah mengambek kepada Staunlaus. Sementara Staunlaus hanya tertawa melihat tingkah laku Selen. “Aku sudah lama tidak sesenang ini, Nana dan terima kasih sudah kembali ke kehidupanku,” batinnya melihat wajah cemberut Selen sambil kembali ke tempat duduknya dan Staunlaus mengekor dari belakang.
Tidak hanya Staunlaus mengekor Selen, Anthony juga mengekornya dan mencoba mengajak bicara Selen. “Selen apakah kau mengenal Staunlaus?” tanya Antohny memastikan pikirannya. Selen hanya menjawab dengan cuek, “Tidak aku tidak kenal. Aku hanya mengenal barusan saja.”
Staunlaus dan Anthony kaget mendengar sikap Selen yang cuek pada saat menjawab pertanyaan Anthony. “Mengapa dia begitu cuek denganku? Tetapi tidak dengan Stan. Apakah mereka beneran berdua tidak ada hubungan?” batin Anthony yang tidak terima jika Selen hanya cuek dengannya.
Selen beserta Staunlaus dan Anthony kembali ke bangkunya untuk mengemaskan barang-barangnya. Selen mengemaskan buku-buku baik itu buku paket olimpiade Fisika, Kimia dan Matematika jenjang SMA yang sebelum dirinya masuk ke SMA maupun buku tulis yang isinya penjelasan dan jawaban dari soal di buku paket tersebut yang sudah dia kerjakan secara mandiri. Tanpa Staunlaus sadari Selen membuka handphonenya dan melihat hasil foto yang baru saja dia tangkap dan mukanya langsung saja ditekuk dan marah-marah kepada Staunlaus.
“Ish, aku tidak jadi kirim fotonya ke kamu,” ucap Selen sambil menekukan mukanya. Staunlaus terkejut pada saat dirinya hendak menggendong tas ransel yang dia gunakan untuk ke les, “Mengapa tidak jadi?” tnyanya dengan keheranan.
“Lihat ini hasil aku foto tadi jelek karena sempat tertabrak dengan kakak kelas,” ucapnya dengan nada jujur bercampur malu disertai dengan rona merahnya yang muncul di wajahnya sambil menyerahkan handphonenya untuk menunjukkan hasil fotonya. Dan benar saja hasil yang diambil oleh Selen terlihat bayang dan soal-soalnya tidak keliatan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apakah Staunlaus membantu gadis mungilnya yang sangat menggemaskan itu? Bagaimana jika Staunlaus rupanya sudah mengambil foto tanpa sepengetahuan Selen? Mengapa Selen bisa cuek hanya ke Anthony yang notabanenya adalah sahabat Staunlauss?
Sorry Author gantung lagi nih…..
Jangan lupa terus dukung Author dengan cara like setiap episode, beri bintang 5, vote, gif, share, subscribe dan comment-nya ya. Author tunggu dukungan kalian karena sangat penting dalam kenaikan level Author. Jangan lupa dengan kesehatan mina-san dan semoga selalu sehat dalam melakukan aktivitas mina-san apa pun. Makasih banyak atas dukungan kalian.
__ADS_1