Masa Sekolah Yang Indah

Masa Sekolah Yang Indah
Perkenalan


__ADS_3

Karena sesi tanya-jawab sudah diakhiri oleh Bu Laras. “Saya akan mengabsen kalian untuk maju ke depan supaya kalian bisa memperkenalkan diri kalian. Sebutkan nama lengkap kalian, nama panggilan kalian, asal sekolah kalian, hobi, kelebihan dan kelemahan kalian,” ungkap Bu Laras yang sudah masuk ke sesi perkenalan. 


Bu Laras kemudian mengambil kertas absensi murid kelasnya dan mulai memperkenalkan diri. Semua siswa termasuk Vicent, Lily, dan Bejamin kembali memperkenalkan diri mereka untuk giliran pertama karena memperkenalkan diri. Setelah perkenalan diri dari Vicent, Lily dan Bejamin, Bu Laras memanggil siswa dan siswinya sesuai dengan abjad yang sesuai denan kertas absen. 


” Untuk urutan pertama di kertas absen adalah Antony Robbins,“ panggil Bu Laras kepada Anthony. Anthony yang dipanggil di urutan pertama sempat terkejut. Dia tidak menyangka jika secepat itu dirinya harus memperkenalkan dirinya karena sambutan dari tepukan tangan siswa di kelas 3D membuat kesombongan diri Anthony mulai muncul dan dengan rasa percaya diri akan bisa menarik perhatian dari gadis incaran membuat Anthony bangkit dan berdiri dari bangkunya. Dia berjalan menuju depan kelas seperti yang dilakukan oleh Bejamin, Lily, dan Vicent dan dia mulai memperkenalkan dirinya di depan kelas. 


“Halo perkenalkan nama saya Anthony Robbins yang berasal dari SMA Negeri 6 dan saya kelas X. Hobi saya adalah bermain sepak bola dan bermain tenis. Kekurangan saya mungkin hanya malas tetapi saya tidak tahu namun kalau kelebihan saya banyak jadi saya akan sebutkan yang paling saya banggakan yaitu tinggi, tampan dan setia,” ungkap Anthony sambil tersenyum ala playboy yang biasanya akan mempan kepada cewek-cewek cantik di kelas pada saat SMP. Dirinya menatap Selen namun sayangnya tatapan Anthony tidak dilihat oleh gadis mungil karena dia sibuk melihat soal olimpiade kimia SMA tingkat kota dan setelah memperkenalkan dirinya dia disuruh kembali duduk oleh Bu Laras.


“Terima kasih Anthony sudah memperkenalkan diri kamu dan silakankembali duduk ya. Anak-anak beri tepuk tangan yang meriah untuk Anthony,” ajak Bu Laras sambil mempersilahkan Anthony kembali ke tempat duduknya dan memberi arahan untuk menepuk tanganya untuk Anthony. Setelah tepuk tangan yang riuh karena murid-murid mengikuti intruksi dari Bu Laras. Bu Laras kemudian memanggil satu-satu nama siswanya dan disuruh maju ke depan. Hingga sampai ke nama Staunlaus disebut oleh Bu Laras. 


“Sekarang Staunlaus bisa bangkit berdiri dan perkenalkan diri kamu di depan kelas ya,” ucap Bu Laras. Sementara dalam hati Staunlaus sedikit bersorak karena dia akan bisa melihat wajah gadis imut yang duduk di depannya. “Selangkah lagi apakah gadis tersebut adalah Nana,” batinnya.


Staunlaus maju dan sempat melangkah ke depan dan membalik badan perlahan agar bisa melihat wajah gadis kecil yang suaranya sudah membuatnya membayangkan Nana miliknya namun seperti biasa Selen tidak mempedulikan siapa yang maju sehingga kepalanya menunduk ke bawah dan fokus mengerjakan soal di buku miliknya membuat Staunlaus menelan kekecewaannya. Sesampai di depan kelas Staunlaus hendak memperkenalkan dirinya tanpa diketahui oleh Staunlaus jika Selen dengan keinginan tahuannya wajah pemilik punggung tinggi dan tegap menatap wajah tampannya dan sampat mengambil fotonya secara diam-diam sebelum dia mengecek apakah kamera handphone-nya tidak menimbulkan suara atau cahaya. Butuh lama Selen menatap wajah tampan yang menurutnya sangat familier. “Apakah dia adalah Sie? Kalau iya pangeranku sudah kembali dong,” batin Selen yang rupanya memiliki cinta pertamanya yang bernama Sie. 


----Flashback on----


Pada saat Selen di halaman rumahnya yang bingung untuk menemukan teman bermain yang sebaya dengan usianya. Tiba-tiba seorang anak cowok yang berparas tampan dan lucu mendatangi pagar rumahnya. Dia berbicara ke dirinya yang terhalang dengan batas besi. “Hai, kau boleh memanggil namaku Sie karena semua orang di rumahku memanggil namaku dengan nama kecilku yaitu Sie,” ucap anak cowok tersebut. 

__ADS_1


Selen kecil mendengar suara anak lelaki kemudian menghampiri pagar rumahnya. Dia bertanya kepada anak lelaki tersebut. “tetapi kan aku belum dekat denganmu dan mengapa kau mengijinkan aku memanggil nama kecilmu?” tanya Selen dengan nada yang menggemaskan dan menampilkan wajah bingungnya yang imut. 


“Tidak apa-apa karena kamu tipe gadis yang aku suka,” ucap anak lelaki yang memperkenalkan diri dengan nama Sia. 


Ibu Selen mendengarkan anak perempuan manisnya berbicara dengan anak kecil sehingga dihampiri anak perempuannya dan bertanya kepada Selen kesayangannya. “Selen sayang, apakah kau ingin bermain di luar bersama dengan teman barumu?” tanya ibunya dengan penuh kasih. Mendengar ibunya seperti mengijinkannya keluar langsung saja Selen menampilkan mata berbinarnya dan mimik yang lucu sehingga ibunya seperti terkena silau kelucuan dari putri semata wayangnya yang memang memiliki wajah, mimik dan suara yang lucu dan menggemaskan. 


“ Apakah boleh Bu, Selen bermain dengannya?” tanyanya dengan mimik dan nada yang menggemaskan membuat Staunlaus dari jauh langsung menandai Selen menjadi gadis miliknya. “Selen, baru pertama kalinya kau berhasil membuatku merona. Jika kita besar akan kubuat kau menjadi gadis kesayanganku,” batin Staunlaus yang merasa jika pipinya memerah akibat melihat tingkah laku dari Selen yang terlewat menggemaskan. Ibunya yang hanya bisa pasrah mengiyakan permintaan dari putri kecilnya yang amat dia sayangi. 


“Baiklah jika Selen sangat ingin bermain di luar dan jangan jauh-jauh dari rumah, ya,” nasihat sang ibu sambil membukakan pagar rumah mereka. “Baik, Bu, Selen akan jaga diri Selen,” ungkap Selen dengan senang sambil melambaikan tangan kecilnya yang menggemaskan kepada sang ibu. 


“Ya pasti hilang anak semata wayangku yang menggemaskan karena pasti ada yang ingin menculiknya,” batin ibunya yang khawatir jika ada yang menculik putrinya yan sangat menggemaskan. 


“Tenang saja Tante. Saya akan menjaga Selen agar Selen tidak hilang karena ada yang mengambilnya,” ucapnya dengan nada yang dibuat dewasa yang membuat ibu Selen yang tersenyum karena ada anak laki-laki yang mencoba menjadi dewasa karena melihat kecantikan dan keimutan putri semata wayangnya. 


Sementara Selen yang tidak sabaran segera menarik tangan anak lelaki tersebut tangannya yang kecil namun halus dan lembut. “Halus dan lembut sekali tangamu ya Selen. Aku tidak sabar untuk mengenggam tanganmu jika kita dewasa,” batinnya saat merasakan genggaman tangan mungil dan lucu namun lembut dan halus pertama kalinya. 


----Flashback Off----

__ADS_1


Selen tersadar ketika dirinya dipanggil oleh Bu Laras setelah Staunlaus memperkenalkan dirinya di depan kelas. Dia melamun akan masa lalunya karena menatap wajah tampan yang menurutnya familier dan berhasil jantungnya berdetak kencang. 


......****************......


Sementara saat Selen sedang melamun, Staunlaus memperkenalkan dirinya. “Perkenalkan nama saya Staunlaus Sie Gunawan dan saya berasal dari SMA Negeri 6 dan baru memasuki kelas X. Hobi saya adalah olahraga, melukis, naik gunung. Kekurangan saya adalah kurang motivasi, cepat bosan dan kurang akrab dengan pertemanan kalau kelebihan mungkin tinggi badan, ya,” ucap Staunlaus sambil memperkenalkan dirinya. Setelah memperkenalkan dirinya, Bu Laras mempersilahkan Staunlaus kembali duduk. 


“Terima kasih ya Staunlaus dan kamu bisa kembali duduk,” ucap Bu Laras. 


“Anak-anak mari beri tepuk tangan kepada Staunlaus ya.” 


Setelah siswa dan siswi memberikan tepuk tangan pada saat Staunlaus menuju tempat duduknya dan kembali duduk. Bu Laras kemudian memanggil Selen. “Selen, kamu silakan maju ke depan,” ucap Bu Laras membacakan kertas absensinya. Sementara pada saat itu Selen masih melamun mengingat masa lalunya.


Membuat Bu Laras kembali memanggil dirinya. “Selen…Selen. Apakah kamu mendengarkan saya?” tanya Bu Laras sambil melihat letak tempat duduk Selen. 


Ketika mengetahui jika belakang Selen adalah Staunlaus, Bu Laras menyuruh Staunlaus untuk memanggil Selen. “Staunlaus, kamu bisakan memangil Selen untuk maju ke depan?” tanya Bu Laras kepada Staunlaus di tengah kelas. “Baik, Bu Laras. Akan saya panggilkan Selen,” ucap Staunlaus sambil mencolek punggung kecil Selen dengan tangannya yang panjang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Wah Staunlaus main colek saja tuh punggung gadis mungil. Bagaimana reaksi Anthony? 


Jangan lupa terus dukung Author dengan cara like setiap episode, beri bintang 5, vote, gif, share, subscribe dan comment-nya ya. Author tunggu dukungan kalian karena sangat penting dalam kenaikan level Author. Jangan lupa dengan kesehatan mina-san dan semoga selalu sehat dalam melakukan aktivitas mina-san apa pun. Sangkyuu.


__ADS_2